Anda di sini
Beranda > Artikel > Lebih Cermat dalam Membaca Berita Clickbait

Lebih Cermat dalam Membaca Berita Clickbait

“Pemerintah: Prioritas Vaksin Bukan untuk Masyarakat Umum.” Jika membaca judul berita seperti itu, tentu kita akan dipenuhi rasa geram terhadap pemerintah. Padahal hal itu memang benar karena, sesuai anjuran WHO, yang menjadi prioritas utama adalah petugas medis, pekerja garda depan, dan orang lanjut usia.

Persaingan informasi yang cepat membuat sebagian media daring membuat judul clickbait yang provokatif untuk membuat pembaca langsung tertarik. Kebingungan besar masyarakat di tengah pandemi yang tiada habisnya ini sangat menguntungkan sebagian media untuk menaikkan jumlah view website lewat artikelnya.

Dari perspektif penulis berita, inimerupakan strategi untuk membuat judul yang mampu menarik perhatian dan memanipulasi emosi sehingga pembaca tidak mampu melewatkan judul tersebut. Hal ini terjadi karena ada kesenjangan informasi (information gap) antara yang hal yang diketahui dan hal yang ingin diketahui oleh pembaca. Ketika kita melihat celah “antara apa yang kita ketahui dan apa yang ingin kita ketahui,” kesenjangan itu memiliki konsekuensi emosional. Kesenjangan informasi semacam itu menghasilkan perasaan kehilangan sesuatu.

Tipe Judul Clickbait

Media yang lebih mengutamakan jumlah tayang dengan judul clickbait memang cukup meresahkan. Namun kita sebagai pembaca dapat mengatasi hal ini dengan jeli membaca keseluruhan berita, tidak hanya menyimpulkan dari judulnya saja. Dengan mengetahui tipe-tipe judul clickbait, kita tidak dapat muda terporovokasi.

  • Exaggeration – Judul yang berlebihan. “Dianggap Tak Layani Warganya, Wali Kota Ini Dihukum Pancung” sangat berlebihan karena berbeda dari isi berita. Informasi yang dimuat dalam artikel ini terjadi di Bolivia yang memiliki hukum konstitusional. Hukuman ini diberlakukan oleh masyarakat San Buenaventura berhasil mempermalukan Walikota dengan mengikat kakinya di sebuah alat eksekusi abad pertengahan karena dianggap tidak dapat melayani rakyat dengan baik sesuai dengan janji kampanye. Tidak ada hukum pancung sebagaimana yang dimuat dalam judul berita tersebut hanya alat tempat mengikat Walikota tersebut merupakan alat pancung.
  • Teasing – Judul yang mengolok-olok atau mencoba memprovokasi seseorang dengan cara yang menyenangkan. “Raisa Dihadirkan di Sidang PK Ahok, Suaranya Bubarkan Pendemo” dibuat untuk menggoda pembaca. Raisa yang dimaksud dalam artikel ini bukan Raisa yang berprofesi sebagai penyanyi, namun mobil polisi yang dinamakan Raisa, akronim dari pengurai massa, yang fungsinya mengurai massa melalui suara bising agar kumpulan demonstran kabur.

  • InflammatoryJudul yang bermaksud membangkitkan perasaan marah atau penuh kekerasan dengan menggunakan ungkapan atau penggunaan kata yang tidak tepat/vulgar. “Bendera China Dikibarkan di GBK Saat Closing Asian Games” dapat mengakibatkan disinformasi yang dapat memancing emosi. Judul artikel ini sebenarnya tidak lengkap karena bendera China dikibarkan karena China merupakan tuan rumah Asian Games berikutnya.

  • Graphic – Judul yang mengandung materi yang cabul, mengganggu/menjijikkan atau tidak dapat dipercaya. “Cerita Dewi Pakai Alat Bantu Seks, Awalnya Merasa Geli Lalu Terasa Begini”. Artikel ini memuat cerita seorang perempuan yang berjauhan dengan suaminya dan menggunakan alat bantu seks untuk memuaskan diri. Tidak ada yang salah dalam artikel, namun judulnya dapat mengganggu apalagi jika ada anak di bawah umur yang membaca artikel tersebut dan secara isi tidak penting untuk dimuat dalam suatu pemberitaan.
  • Ambigous – Judul yang tidak jelas atau membingungkan dengan tujuan untuk memicu keingintahuan. “Disebut Istri Berbakti, Ini yang Dilakukan Putri Marino dengan Chicco di Kamar”. Judul seperti ini menimbulkan berbagai persepsi di kepala pembaca sehingga menimbulkan keingintahuan apa sebenarnya yang terjadi padahal isi artikel tersebut memuat Putri Marino yang sedang memijat kaki Chicco.
  • Wrong – Judul maupun artikel yang salah: fakta yang tidak benar. “Hamil setelah Terkena Sperma di Kolam Renang, Terlalu!” sebenarnya adalah klarifikasi dari hoax yang beredar namun dalam judul artikel tidak ada diberikan keterangan hoax atau klarifikasi hoax.

Memang sulit untuk menolak godaan mengklik judul clickbait yang sangat mengeksplotasikan emosi kita. Hal ini ini dapat diperparah jika kita memiliki kebiasaan malas membaca. Di sisi lain, kita akan merasakan kecewa ketika membaca artikel yang tidak sesuai dengan harapan awal ketika membaca judul artikel. Hal ini dapat berefek jangka panjang dapat menurunkan kepercayaan pembaca pada media tersebut.


Maka dari itu kita harus terus meningkatkan lagi literasi media sehingga tidak mudah terjebak dalam artikel-artikel clickbait apalagi langsung menerima informasi tersebut sebagai kebenaran yang mutlak dan kemudian menyebarluaskan informasi tersebut.

(Alexander Josep Ones)

Leave a Reply

Top