Anda di sini
Beranda > Artikel > Konflik Keluarga yang Mendewasakan

Konflik Keluarga yang Mendewasakan

Hampir setiap orangtua pasti pernah bertanya dalam hati maupun sempat dilontarkan tentang, kenapa anaknya tak lagi sepatuh dahulu, kenapa berontak, kenapa mengecewakan dan kenapa…kenapa… begini, begitu.

Jika pertanyaan itu dirubah dengan pernyataan, misalnya, aku harus begini, jika menghadapi anakku yang begitu, atau sebaliknya bertanya kenapa aku begitu jika anakku berbuat begini? Mungkin saja pertanyaan itu, bisa sekedar hanya menghibur diri sendiri, tapi juga mengandung makna keseriusan dan penyadaran akan fungsi, tugas, peran dan tanggungjawab sebagai orangtua.

Pada sebuah seminar yang bertajuk “Membangun Hubungan yang Harmonis Antara Orangtua dan Anak” Dr Nurmala, seorang psikolog, membahas persoalan yang sering dihadapi oleh keluarga khususnya hubungan antara orangtua dan anak-anaknya. Menurutnya, keluarga berperan penting dalam membentuk karakter seseorang hingga dewasa. Karena oleh keluarga, seorang anak diperkenalkan terhadap dunia, lingkungan, sampai cara-cara untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya.

Kebutuhan hidup bukan hanya berkutat tentang uang, harta benda dan bentuk material lain. Tetapi kebutuhan untuk memberi, berbagi dan bertumbuh menjadi seseorang yang dapat menerima orang lain dalam hidupnya sebagai salah satu pemenuhan kebutuhan hidup. Anak akan dapat meraih pemenuhan ini, jika ia dibesarkan dalam keadaan keluarga yang harmonis, yaitu yang memberikan rasa aman, perhatian dan kasih sayang.

Delapan Dasar Pola Asuh Anjuran Pemerintah

BKKBN atau Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, di dalam peraturan pemerintah menyebutkan, jika keluarga seharusnya memenuhi segala fungsi bagi kehidupan yang berisi 8 pokok perhatian. Penjabarannya  demikian, fungsi keagamaan, orangtua harus memperkenalkan dan mengajarkan serta mengajak seluruh anggotanya untuk  beribadah sesuai imamnya.

Fungsi sosial budaya, orangtua bertanggungjawab membentuk norma bertingkah laku  sesuai dengan nilai-nilai kehidupan. Fungsi cintakasih, dengan memberikan kasih sayang, rasa aman dan perhatian kepada setiap anggotanya. Fungsi melindungi, setiap orangtua harus memberikan perlindungan sepenuhnya kepada anak-anaknya. Fungsi reproduksi, orangtua hendaknya bersedia meneruskan keturunan, memelihara dan merawat dengan sebaik-baiknya.

Fungsi sosialisasi dan pendidikan, orangtua memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya dengan menyekolahkan dan mempersiapkan anak untuk menjadi anggota masyarakat yang baik. Fungsi ekonomi, orangtua harus tekun mencari sumber penghasilan  untuk mencukupi kebutuhan keluarga, memanfaatkan dan mengatur keuangan agar hidup sejahtera. Fungsi pembinaan lingkungan, dengan cara mengajak keluarga menjaga kelestarian lingkungan, menciptakan lingkungan hidup yang bersih, sehat, aman dan indah.

Jika melihat delapan pilar tersebut, orangtua bertugas bukan hanya memberi makan saja tetapi banyak aspek yang harus dipenuhi. Jika salah satu aspek tidak terpenuhi atau diabaikan, maka akan terjadi kepincangan dan ketidak-stabilan dalam hubungan seluruh anggotanmya. Orangtua yang baik akan menjadi panutan secara bersama, bukan hanya pada diri suami atau isteri saja, melainkan keduanya, pasangan yang pemimpin dan pemimpin yang pasangan.

Konflikpun Terjadi

Menurut Dr. Nurmala, orangtua dan anak-anak semestinya sama-sama mengalami kematangan kepribadian, meskipun dalam bentuk dan waktu yang berbeda. Orangtua disarankan untuk belajar mengerti dan memahami, jika anak-anaknya bukanlah diri orangtuanya melainkan seorang pribadi yang memiliki keinginan yang berbeda dengan orangtuanya. Sehingga sikap mengerti dan terus belajar untuk menyesuaikan diri juga harus dilakukan oleh orangtua.

Konflik antara orangtua dan anakpun sering terjadi, sejak anak-anak kecil. Perubahan-perubahan karena perkembangan yang tidak terletak pada perubahan fisik saja, akan membentuk dan mempengaruhi pemikiran, imajinasi, kreasi dan hal-hal lain yang diinginkan oleh anak-anak. Orangtua yang baik, pasti akan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk berkembang, walau dalam prises perkembangan tersebut, tidak jarang ditemui intrik yang kecil ataupun besar antara orangtua dan anak-anaknya.

Anak-anak yang bertingkah laku tidak sesuai dengan harapan orangtuanya, tentunya banyak faktor yang menyebabkan. Bisa jadi faktor dari dalam keluarga, lingkungan sekolah, pergaulan ataupun perkembangan yang sedang dialami oleh anak-anak. Perubahan sosial budaya dan kemajuan teknologi informasi yang pesat, sangat berpengaruh besar pada pemikiran khususnya bagi remaja dan kaum muda.

Ketidakseimbangan pada pola pikir ini, sering menjadi momok yang menyebabkan adanya jurang pemisah antara orangtua dan anak-anaknya.  Karena hal ini disinyalir menjadi penyebab yang dapat dikatakan besar. untuk mengatasi hal itu, orangtua juga harus belajar mengejar ketertinggalan, agar tidak semakin tersaingi oleh sesuatu yang lebih disenangi oleh anak-anaknya, khususnya pada dunia yang lebih dekat dengan mereka, yaitu dunia teknologi digital, yang dapat menguntungkan, jika dimanfaatkan dengan benar.

Sehebat apapun dunia ini, tetapi orangtua adalah dunia yang paling baik bagi anak-anaknya, maka orangtua harus pandai mengambil cara yang tidak dimiliki oleh benda secanggih apapun di dunia ini. Dengan mengembangkan konsep diri dalam berkomunikasi yang positif, orangtua dapat memberikan seluruh dirinya untuk bertumbuh bersama anak-anaknya.

Memberikan telinga untuk menjadi pendengar yang baik, mencerna setiap ucapan anak-anaknya.  Memberikan mata untuk menangkap dan mengekspresikan tanggapannya terhadap suara anak-anaknya. Selain itu memberikan sentuhan, pelukan dan seluruh panca indera untuk memberikan ungkapan cinta, kasih sayang dan perhatian kepada anak-anaknya.

Konflik bukan suatu petaka jika dikelola dengan benar, tetapi sebagai proses saling belajar untuk mengembangkan diri secara bersama dalam keluarga, untuk meraih keluarga yang harmonis dan penuh cintakasih.

(YC)

Leave a Reply

Top