Anda di sini
Beranda > Mutiara Biblika > Homo Sapiens

Homo Sapiens

Mateus 25:2 Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. 25:3 Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, 25:4 sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.

“Tonnnnggg, Tongggggg, Tongggg”, terdengar bunyi kentongan kayu yang ada di kelurahan. Suara kentongan itu menjadi tanda bahwa di kampung itu ada berita yang sangat penting untuk diperhatikan warga. Setiap terdengar bunyi kentongan itu, orang-orang segera mencermati bunyinya seraya berkata dalam hati, “ada berita apa. Setiap suara kentongan mempunyai arti tersendiri: suara untuk berkumpul, kematian, atau bencana. Suara kentongan itu   mempunyai perbedaan. Setiap orang kampung sudah hafal dengan suara itu karena kentongan menjadi satu-satunya tanda bersama. Kentongan menjadi sarana orang kampung membagikan berita yang sangat efektif, karena kampung itu belum ada alat secanggih zaman sekarang.

Setiap kali bunyi kentongan terdengar, orang-orang siap-siap mendengarkan suara itu. Pukulan dengan suara tertentu menandakan kejadian yang sedang menimpa. Di masa pandemi ini, bunyi kentongan itu didominasi berita kematian. Suara kentongan itu seakan menjadi bunyi sirine yang sering terdengar di masa sekarang. Pada umumnya di masa biasa, bunyi kentongan itu didominasi dua nada, yakni nada kematian dan nada ajakan berkumpul di kelurahan.

Masyarakat sangat akrab dengan dua ciri bunyi kentongan itu. Mereka segera bergegas untuk berkumpul tiap kali mendengar bunyi kentongan dengan irama berkumpul. Sementara ketika bunyi kentongan untuk orang meninggal, masyarakat segera ikut bela sungkawa dengan hadir di tempat duka. Orang-orang kampung dengan sigap membantu keluarga yang berduka dengan caranya masing-masing. Masyarakat melakukan dengan senang hati, tanpa mengeluh. Semangat saling membantu orang yang sedang kesusahan ini terus dilestarikan dalam kehidupan itu. Dengan demikian, kehidupan masyarakat itu semakin memberikan sebuah keserasian tanpa membedakan agama dan kedudukan.

Setiap manusia pasti mendambakan kehidupan yang baik, aman, dan damai, baik di bumi maupun akhirat. Namun dambaan itu kadang meleset dari apa yang diinginkan manusia saat di dunia. Peristiwa pandemi menjadi salah satu contoh kehidupan yang tidak diinginkan manusia sebab pandemic ini telah menyeret banyak korban dan membuat orang-orang terkurung ketakutan. Suara kentongan tanda kematian, terdengar berkali-kali di masa pandemi ini. Padahal di masa biasa suara kentongan tanda kematian ini belum tentu sebulan sekali terdengar, sekarang tiap hari bisa lima atau enam kali. Suara itu menyayat hati, seperti suara sirine yang membawa jenazah. Masyarakat menjadi takut ketika mereka mendengar suara kentongan tanda kematian. Mereka tidak bisa  membantu orang yang sedang kesusahan seperti biasanya. Semua orang hanya bisa mendoakan dari rumah dan terpaku dalam ketakutan yang tidak kunjung berhenti.

Kini setiap orang menutup pintu ketakutan. Takut terhadap kematian yang menjemput manusia dengan tiba-tiba. Berita salah berseliweran menambah ketakutan masyarakat kampung untuk berbuat sesuatu. Ketakutan menjadi sebuah kata yang menghantui seluruh masyarakat saat ini. Semua seakan menunggu giliran untuk dipanggil sang maut.

Jo, Paijooo, Jo Paijo,” seseorang mengetuk pintu rumah Paijo.

Iyaaa, iya sebentar. Siapa?” tanya Paijo dari dalam rumah. Akan tetapi, orang yang mengetuk pintu tidak menjawab. Segera Paijo keluar seraya menutup kepalanya dengan sarung kumel ala film-film ninja.

Ohhhhh, kamu tho, Min. Ada apa?” Tanya Paijo seraya mempersilakan Paimin duduk di balai depan rumah seraya mengambil jarak duduk.

Jo, Paijo. Kamu sedang main film ninja, kok mukamu ditutup dengan sarung. Apa lagi, kamu duduknya berjauhan dengan aku. Tidak seperti biasanya Jo, Paijo,” seru Paimin heran.

Minnn, Paimin kamu tidak mengerti bahaya. Masa pandemi itu adalah masa untuk tinggal di rumah. Jika bertemu dengan orang, kita harus nutupin muka atau minimal hidung dan mulut alias pakai masker. Karena adanya sarung,  ya aku pakai sarung saja. Boro-boro beli masker Min, Paimin. Beli beras saja saat ini tidak bisa. Jadi cukup pakai yang ada, Praktiskan,” seru Paijo

Ahhhh, Jo, Paijo. Kamu itu terlalu penakut, kamu harus berani seperti saya ini. Berarti kamu kurang beriman Jo, Paijo,” seru Paimin seraya meledek.

Terserah kamulah jika susah diatur. Min, Paimin, hidup itu bukan soal berani atau tidak. Kita hidup bersama dengan orang lain harus saling menghormati. Ketika semua disuruh pakai masker demi kebaikan bersama ya kita mesti menurut, bukan menolak karena alasan kamu kuat dan pemberani. Itu namanya kurang bijaksana,” seru Paijo sedikit jengkel.

Min, Paimin. Kamu tidak dengar tiap hari ada suara kentongan tanda kematian. Itu semua disebabkan karena adanya pandemi ini. Banyak orang yang susah diatur menambah jumlah penderita dan ujungnya kematian. Kamu merasa kuat, yang lain kan belum tentu kuat seperti kamu. Mari kita berempati dengan mereka yang sakit dengan tetap mengikuti anjuran kesehatan demi kebaikan bersama.  Maka mari kita bijaksana menjalankan anjuran itu,” seru Paijo.

Joooo, Paijo. Hidup itu ditangan Tuhan. Manusia hanya menunggu waktu,” sahut Paimin sedikit memberi alasan rohani.

Hmmmmm. Minnnn, Paimin. Memang benar katamu. Akan tetapi, kita mesti berbela rasa untuk memutus rantai pandemi ini donk. Justru alasanmu tidak menunjukkan bahwa kamu kurang beriman, melainkan manusia yang egois. Artinya kamu hanya membenarkan dirimu sendiri tanpa melihat penderitaan orang lain. Sebagai orang beriman itu gampang saja, ikuti saja anjuran pemerintah. Semua itu pasti bertujuan demi kebaikan bersama. Ketika kita mengikutinya, tandanya kita orang beriman yang baik,” seru Paijo dengan sedikit mengeluarkan jurus rohani juga.

Ingat Min, Injil Mateus itu menjelaskan dengan sangat sederhana dalam sebuah perumpamaan. Orang beriman kita digambarkan bagaimana gadis-gadis bodoh dan gadis bijaksana. Gadis bodoh ya cuek dan tidak peduli sama seperti kamu itu. Jadi saat kematian tiba, gadis-gadis itu tidak dikenal di surga karena sikap imannya yang salah. Mereka sering membuat semuanya gampang. Gadis-gadis bodoh itu  gambaran hidup seperti kamu yang ngeyel tidak selalu menyiapkan diri, egois, dan mencari pembenaran diri. Hidup itu harus selalu bijaksana mengikuti aturan yang ada, maka mari jangan sok kuat dan sombong. Gadis-gadis bijaksana itu telah memberi contoh beriman yang tepat dalam masa penantian ini. Tetap berjaga dan selalu menjalankan kehendak Allah dengan baik. Hal itu ditunjukkan dalam hidupnya yang baik pula dan penuh perhitungan yang matang,” seru Paijo mulai agak kalem.

Joooo, Paijooo. Maaf kan saya Jo, Paijo. Iya saya tidak mikir sampai segitu. Terus bagaimana,  saya tidak  mempunyai masker?” tanya Paimin mulai panik.

Udah lepas koas kamu, pakai untuk nutupin mukamu. Biar sama-sama seperti main film ninja. Kamu pakai kaos dan kelihatan badanmu dan aku pakai sarung,  Heeee,” usul Paijo sambil ketawa membuat  suasana tidak tegang lagi..

Ohhhh, iya, usul yang bagus. Biar kelihatan perutku, heee. Yang penting muka dan mulutku pakai masker sekalipun dari kaos,” kata Paimin sambil ketawa-ketiwi mengakui kebodohannya.

Akhirnya keduanya memakai masker ala mereka, satu pakai sarung dan satu pakai kaos. Minimal mereka berusaha ingin menjadi seperti gadis bijaksana. Selalu mempersiapkan diri dengan baik di bumi agar pada saatnya diterima dalam kemuliaan di surga. Keduanya pun kini berbicara soal  kebaikan bersama.

Joooo, Paijoooo. Ada-ada saja,” Paimin sambil ketawa.

Tonggggg, tongggg, tonggggg,” terdengar suara kentongan tanda orang meninggal. Keduanya kaget sambil melompat dan berpelukan.

Wuihhhhhh, malah pelukan, social dictancing,” seru Pak RT yang kebetulan lewat disitu.

Heeeeee, Heeeee,” tawa Paijo dan Paimin sambil malu-malu.

Waduhhhhhhh, Jangan-jangan Pak RT mengira yang bukan, bukan, sesama laki-laki pelukan,” seru Paimin malu tidak terkira.

Ohhhhh, tidakkkkkkkk,” teriak Paimin sambil meninggalkan Paijo. Sementara Paijo hanya bisa garuk-garuk kepala.

Joooo, Paijoooo, dasar wong ndeso,” seru Paijo dalam hati seraya masuk rumah.

Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka

Leave a Reply

Top