Anda di sini
Beranda > Sajian Utama > Belajar dari Sang Guru

Belajar dari Sang Guru

[KATEDRAL] Kamis Putih adalah perjamuan terakhir Yesus bersama para muridnya. Perjamuan sarat makna ini diperingati dengan meriah sekaligus khidmat di Gereja BMV Katedral Bogor. Masih kurang 1 jam perayaan dimulai, ribuan umat telah memadati area gereja. Jika terisi penuh, tidak kurang dari 3.000 umat menghadiri perayaan yang diselenggarakan 2 kali pada pukul 17.00 wib dan 20.00 wib.

Misa pertama dipimpin oleh RD Mikael Endro Susanto, RD Alfonsus Sutarno, dan RD Robertus Ari Priyanto. Dalam khotbahnya Romo Tarno sapaan akrab RD Alfonsus Sutarno mengajak umat yang hadir untuk meneladani Yesus. “Yesus sebagai guru kita tidak hanya bersedia dicaci maki tapi juga mengorbankan nyawa untuk menebus dosa manusia. Maka dari itu kita sebagai pengikutnya harus berusaha untuk mencontoh karya kasihnya dari hal-hal yang sederhana,” katanya.

RD Mikael Endro Susanto membawa sakramen mahakudus untuk dipindahkan ke tabernakel sementara. Foto: Aloisius Johnsis

Ia mengajak umat yang hadir untuk melakukan perbuatan kasih yang sederhana seperti tersenyum. “Tersenyumlah, banyak orang jatuh cinta dari senyuman atau berikan tatapan kasih kepada orang lain. Jika anda dapat berbicara, maka bagikanlah kasih itu dengan kata-kata yang membuat orang lain tenang,” ungkap Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Bogor itu.

Sementara itu, misa kedua dipimpin oleh RD Dominikus Savio Tukiyo, RD Pramudianto, dan RD Lukas Wiganggo. Dalam khotbahnya Romo Tukiyo mengatakan bahwa orang hebat adalah orang yang mau mengorbankan diri untuk orang lain. “Yang membuat seseorang hebat bukanlah status, popularitas, kekayaan, ataupun gelar melainkan kerelaannya untuk berkorban supaya orang lain bahagia. Seperti Yesus yang berkorban untuk kita,” pungkasnya.

Dalam misa Kamis Putih ini juga diadakan upacara pembasuhan kaki sebagai simbol pembasuhan yang Yesus lakukan kepada para murid 2.000 tahun yang lalu. Upacara pembasuhan kaki ini mengajak semua pengikut atau murid-murid Yesus berlomba untuk merendahkan diri dalam melayani Tuhan dan sesama. “Pencucian kaki juga berarti pelayanan dan pengorbanan. Pelayanan tidak bisa dilepaskan dari pengorbanan. Memberikan sesuatu untuk orang lain pasti berkorban,” tutur Romo Tukiyo.

Perayaan diakhiri dengan pemindahan sakramen mahakudus ke tabernakel sementara. Kemudian umat dipersilahkan untuk mengikuti tuguran. Tuguran adalah saat-saat kita menemani Yesus sebelum Ia disalibkan.

(John)

Leave a Reply

Top