Anda di sini
Beranda > Mutiara Biblika > Ave Maria, Gratia Plena

Ave Maria, Gratia Plena

Lukas 1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”

Ave Maria Plena, sebuah doa yang dilantunkan dalam peziarahan kepada Bunda Maria. Ungkapan itu diterjemahkan ke dalam aneka bahasa di seluruh dunia. Hal ini menandakan betapa umat Katolik sangat mencintai Bunda Maria yang telah melahirkan Yesus. Ketaatan Maria ini telah mengubah pola keselamatan. Santo Ireneus menyebutkan bahwa Maria Advocata Evae est, Maria adalah pembela Hawa. Maria menjadi pembela orang berdosa. Akibat dosa, dunia menjadi ricuh. Manusia membutuhkan seorang penebus untuk mengembalikan kedamaian yang telah rusak karena dosa. Gereja meyakini bahwa Maria menjadi perantara hadirnya penebus. Oleh karena itu, Maria mendapat tempat istimewa dalam Gereja Katolik Roma.

Pagi di awal Oktober, banyak orang pergi ke Gua Maria yang terletak di lereng gunung batu. Tempat yang sepi dan penuh bebatuan itu menciptakan suasana doa. Herannya, di tempat bebatuan itu mengalir sumber mata air yang jernih. Air sebagai sumber kehidupan mengalirkan berkat bagi yang menyerapnya. Demikian juga, Gua Maria itu menjadi oase spiritual bagi orang yang mengimaninya.

Orang berbondong-bondong silih berganti untuk berdevosi kepada Maria. Seberapa pentingnya umat Katolik berdevosi kepada Bunda Maria? Injil Lukas menggambarkan luhurnya Bunda Maria. Hal itu terlihat saat malaikat datang kepada Maria. Malaikat memberikan salam ‘Ave Maria Gratia Plena’. Malaikat bersujud memberi salam. Sebuah Penghormatan luar biasa diberikan oleh malaikat. Hal ini ingin menampilkan betapa luhurnya Maria. Hal ini tidak terjadi pada Zakaria saat menjalankan tugasnya juga ketemu utusan Allah. Lukas tidak menuliskan salam yang begitu luhur diberikan kepada Zakharia. Sebaliknya, Zakharia menjadi saat menjawab bahwa istrinya sudah tua. Hal itu tidak terjadi kepada Maria. Maria juga mempertanyakan dirinya bahwa Ia belum mempunyai suami. Pertanyaan Maria dan Zakharia itu mengandaikan ada sebuah keraguan. Bedanya keraguan Maria itu tidak membuatnya bisu. Dua peristiwa penting ini memberikan gambaran betapa Maria ditempatkan lebih tinggi dibanding para kudus lainnya.

Paijo, Paimin, dan Parman tidak ketinggalan ikut meramaikan devosi kepada Bunda Maria. Mereka bertiga sudah mempersiapkan diri sejak kemarin. Mereka ingin berjalan kaki dari rumah menuju Gua Maria. Sebuah perjalanan rohani yang menyenangkan. Mereka hanya berbekal minum serta gula merah. Ini menjadi kebiasaan turun-temurun bahwa gula merah akan memberikan tenaga jika mengalami kelelahan. Sebuah nasihat yang diterima tanpa harus menguji kebenarannya. Sementara mereka berjalan, senda gurau menghiasinya supaya rasa jenuh dan letih berkurang. Tenaga mulai terkuras saat matahari mulai menyengat. Mereka berhenti sebentar di sebuah gubuk tua di tepi jalan. Air minum dan gula merah diminum untuk melepas dahaga. Namun, air dan gula merah belum bisa menggantikan rasa letihnya.

Gubuk tua itu biasa digunakan untuk berteduh bagi siapa saja melewati. Saat mereka berteduh untuk menghindari sengatan matahari, angin semilir membuat tubuh makin nyaman istirahat di tempat itu.

“Joooo, Paijo. Man Parman, istirahat dulu,” ajak Paimin yang mulai kelelahan.

“Ahhhhh, payah, baru segini sudah kecapaian,” sahut Paijo dan Parman serentak.

“Akuuuu capaiiiiii,” seru Paimin dengan memelas.

“Baiklah, demi setia kawan kita istirahat bersama,” seru Paijo seraya duduk di gubuk. Sementara itu Paimin merebahkan diri sejenak. Ia terlihat kecapean, bisa jadi dia kelaparan. Tidak ada makanan dibawa.

Kondisi badan yang mulai lelah ditambah panas terik matahari yang menyengat, membuat badan perlu istirahat sejenak. Saat mereka sedang istirahat, angin sepoi-sepoi membuat mereka pada mengantuk.

“Wuahhhhhh,” Paijo mulai menguap dan diikuti Paimin dan Parman. Ini sebuah pertanda bahwa istirahat harus dilakukan. Akhirnya mereka bertiga berbaring sejenak. Kata-kata dari mereka mulai menghilang dan kini terdengar suara mendengkur silih berganti ibarat suara simfoni. Peziarahan mereka kini terhenti di sebuah gubuk tua itu. Mimpi pun tidak bisa terhindarkan.

“Jo, Paijo. Banyak sekali orang datang berziarah ya,” seru Paimin.

“Iya, inilah orang Katolik. Mereka sangat menghormati Bunda Maria dengan aneka devosi,” seru Paijo.

“Iya betul, lihat mereka sangat khusyuk berdoa. Mereka tidak terganggu dengan hilir mudiknya orang datang. Justru mereka sangat menikmati sebagai sebuah persekutuan devosan Maria. Setiap orang membawa Rosario dan berdoa,” seru Parman.

“Inilah salah satu ciri Gereja Katolik yang memberi ruang untuk berdevosi kepada santo santa, terlebih kepada Bunda Maria. Bunda Maria sangat mendapat tempat, terlebih dalam kalender liturgi terdapat aneka peringatan Bunda Maria. Gereja menghormati Bunda Maria sebagai menjadi teladan umat beriman. Penderitaan Bunda Maria mengikuti Yesus tidak serta merta berpaling dari Allah. Kesanggupannya menjadi Hamba Tuhan, Ancilla Domini, dijalani dengan sepenuh hati. Maria menampilkan kesungguhan hatinya mengikuti Yesus dalam suka dan duka,” seru Paijo.

Dalam perdebatan itu, terdengar suara nyanyian, ”Ave, Ave, Ave Maria…..”.

Serentak Paijo, Parman, dan Paimin ikut menyanyikan lagu itu. Alangkah terkejutnya, ternyata itu suara bukan dari orang-orang yang berdoa di Gua Maria, melainkan dari HP Parman yang ringtone-nya lagu Maria. Mereka pun terkaget-kaget karena mereka tidurnya terlalu lama, sehingga hari sudah menjelang sore.

“Jooo, Paijo, Man, Parman. Maaf gara-gara saya ngajak istirahat, kita semua tertidur hingga sore. Kita tidak bisa melanjutkan lagi perjalanan kita ke Gua Maria,” seru Paimin merasa bersalah.

“Yaaaa, kita juga bersalah. Kita tertidur lelap. Saya kira, kita sudah di Gua Maria. Kita bisa bernyanyi bersama Ave Ave Ave Maria, ternyata ringtone-nya Parman. Berarti kita mengigau bersama dengan bernyanyi Ave, ave, ave Maria,” seru Paijo sambil tersipu malu atas kebodohannya.

“Terus bagaimana?” tanya Parman

“Baiklah, hidup ini adalah peziarahan. Peziarahan kita hanya sampai di sini hari ini. Oleh karena itu, mari kita berdoa Rosario di sini saja. Kita membuka bulan Rosario di tempat ini saja. Bunda Maria mengetahui niat baik kita. Doa Rosario bisa kita lakukan di mana saja, asal kita berdoa dengan sepenuh hati,” seru Paijo sedikit agak bijak.

“Baiklahhhhh,” seru Parman dan Paimin serentak.

Akhirnya mereka berdoa Rosario bersama di gubuk itu. Selesai doa Rosario mereka pun pulang. Antara kecewa, bahagia, sedih menjadi satu perasaaan. Setidaknya, doa Rosario di gubuk itu bisa menggantikan peziarahan ke Gua Maria.

“Joooo, Paijo. Niat ke Gua Maria, malah tertidur,” seru Paijo dalam hati sambil melantunkan doa Salam Maria dalam hatinya.

Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka

Leave a Reply

Top