Salib dan Kebangkitan, Wujud Cinta yang Mengalahkan Kematian Sajian Utama Seputar Paroki 6 April, 20266 April, 2026 [KATEDRAL] Hari terakhir Tri Hari Suci ditutup dengan Vigili Paskah yang menandai kebangkitan Yesus Kristus. Kala itu, Maria Magdalena menunjukkan cinta kasih yang tiada berakhir meski Yesus wafat disalib. Demikian dikatakan RD Paulus Haruna dalam homilinya, Sabtu (4/4). Pada misa pukul 17.30 itu, area kompleks BMV Katedral—dari gedung gereja hingga paroki—tampak dipadati umat. Frater Diakon Gerald Prayugo Tirtowijoyo turut mendampingi sebagai konselebran pada misa pertama tersebut. Pada khotbahnya Romo Harun memaparkan, ada tiga makna yang ditangkapnya hari itu. “Milikilah cinta kasih yang besar, kokoh, kuat. Jadilah setia seperti Yesus, yang memegang teguh dan menepati janji-Nya untuk bangkit,” tutur Pastor Paroki BMV Katedral tersebut. Romo Harun menyoroti, kebesaran cinta Maria Magdalena terhadap Sang Guru patut untuk diteladani. Baginya, kasih Maria seolah mengatakan, “Bahkan dalam kubur pun, Ia adalah Tuhanku.” Ketika Yesus menggenapi janji-Nya untuk bangkit—dan menyertai hingga akhir zaman—umat Kristiani pun diharapkan menunjukkan kesetiaan yang serupa pada janji baptisnya. Untuk menentang kejahatan, menahan godaan-godaan setan, dan berjuang melawan ketidakadilan. Pada penghujung homilinya, Romo Haruna berpesan, “Jangan pelit memberi peneguhan, dukungan, kekuatan, terutama saat rapuh. Tetapi, harus siap juga mendengarkan peneguhan.” Artinya, tak hanya berjalan satu arah saja. Setiap orang tidak bisa hanya berbicara dan memberi peneguhan saja, tetapi juga perlu terbuka untuk mendengarkan dan menerima. Sebab, semangat diri pun ada kalanya perlu diperbarui. Hidup Baru Kebangkitan merupakan sebuah transformasi cara hidup lama menuju hidup baru. Manusia sadar akan segala kelemahannya, kemudian bertobat dan menjalani hidup yang lebih baik. Hal ini disampaikan RD Alfonsus Sombolinggi dalam Perayaan Ekaristi kedua pukul 21.30 WIB. Malam itu, ia didampingi oleh konselebran Frater Nobertus Rio Chandra. Pun lampu dimatikan, pada misa kedua yang dimulai Pk. 21.30 WIB, suasana gereja tetap terang dan hangat karena ratusan lilin di tangan umat yang menyala. Foto: Ignatio Alfonsus. Berangkat dari serangkaian bacaan pada malam penuh keselamatan, Pastor Vikaris BMV Katedral Bogor itu membuka homili dengan pertanyaan reflektif. “Apakah kita sekadar menjadi pendengar saja, atau benar-benar masuk ke dalamnya?” tanyanya. Romo Sombo kemudian mengajak umat mencermati kisah penciptaan. Manusia adalah Imago Dei. Allah menciptakan menurut rupa dan gambaran-Nya. “Ingatlah, Allah menciptakan manusia baik adanya. Kita diciptakan untuk hidup, bukan menjadi hancur. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita hidup dalam kehendak Allah,” katanya. Dalam hidup sehari-hari, manusia sering kali dihadapkan dengan situasi yang serba salah. Hal ini dialami bangsa Israel ketika keluar dari Mesir. Mereka dihadapkan Laut Merah yang membentang luas di depan, sementara pasukan Firaun mengejar dari belakang. Mesir bagi mereka ibarat dosa, ketakutan, serta penderitaan. Namun, melalui karya keselamatan Allah, laut pun akhirnya terbelah. Begitu pula hati manusia. “Masalah terbesar dalam kehidupan manusia muncul dari dalam hatinya. Manusia memiliki hati lemah dan rapuh akibat luka dan pengalaman pahit yang membelenggu. Tuhan hadir tidak hanya memperbaiki, bahkan memberi hati dan roh yang baru. Bersama-Nya, selalu ada jalan di setiap masalah,” imbuhnya. Kebangkitan Kristus yang seluruh umat Katolik rayakan menjadi puncak karya keselamatan Allah. Menutup homili, Romo Sombo menegaskan tidak ada kegelapan yang mampu mengalahkan terang. Tidak ada juga dosa yang lebih besar daripada kasih Allah kepada manusia. “Mari kita bangkit dari keterpurukan, meninggalkan cara hidup lama, dan melangkah dalam hidup yang baru dengan penuh iman dan harapan,” ajaknya. Kebangkitan Kristus memberikan harapan pada manusia. Ia telah mengalahkan kegelapan, dosa, dan maut. Selamat Paskah! Penulis: Louisa Chelsea, Ignatio Alfonsus | Editor: Celine Anastasya