Anda di sini
Beranda > Kabar Terkini > Persembahan

Persembahan

Markus  12 12:43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.

Banyak cara manusia bersyukur kepada Tuhan yang telah menjadikan dunia ini baik adanya. Rasa syukur itu bisa diwujudkan dalam aneka acara yang melibatkan banyak orang dari segala lapisan. Manusia menandai syukur itu dengan aneka bentuk. Setiap unsur kehidupan pun mempunyai cara berbeda membangun acara itu. Demikian kiranya, gereja kami pun akan mengadakan syukuran atas kemurahan Tuhan, utamanya tahun ini. Panen padi melimpah, air hujan yang menyuburkan tanah, dan terhindar dari bencana, menjadi ajang manusia ingat dan beryukur kepada Tuhan.

Perayaan itu juga bertepatan perayaan tahun baru Imlek. Peristiwa itu patut mendapat perhatian bersama untuk saling mengucap syukur. Rasa kebahagiaan terbalut dengan persaudaraan itu akan diadakan dengan cara pesta bersama di gereja dengan misa syukur. Setelah itu diadakan makan bersama. Semua makanan disediakan umat. Mereka sehati sejiwa membangun kebersamaan seperti jemaat perdana zaman Paulus mewartakan sabda itu.

Sehari sebelum acara itu, kaum muda mendapat tugas mencari sumbangan apa saja. Ibu-ibu wanita Katolik bertugas mengolah makanan untuk hari yang penuh syukur itu. Semua sumbangan diterima. Entah uang, beras, atau hasil kebun.

Sepeda tua dikayuh Paijo dan Paimin keliling kampung mencari sumbangan ke umat. Mereka berdua menuju tempat Nenek Inem yang selalu ikut ambil bagian dan memberikan apa adanya. Secara fisik, Nenek Inem tidak bisa hadir karena umur yang tidak memungkinkan.

             “Nek, permisi, Nek, Permisi,” seru Paijo dan Paimin serentak.

            Sapaan Paijo dan Paimin sepertinya belum ada respons, bisa jadi Nenek Inem baru di belakang atau di dapur. Maklum masa tua Nenek Inem membuat pendengarannya sedikit berkurang.

            “Permisi, Nek Inem, permisi,” sekali lagi Paijo menyapa.

            “Hukssss, Hukssss,” terdengar suara batuk Nenek Inem.

            Segera Paijo dan Paimin masuk ke rumah nyamperin Nenek Inem.  Ternyata Nenek sedang masak dengan kayu. Batuk Nek Inem itu disebabkan asap yang begitu tebal dari tungku.

            “Nek, Nek Inem,” seru Paijo

            “Huksss, Huksss. Oh, nak Paijo,” seru Nek Inem yang masih duduk di depan tungku memasak nasi.

            “Ayo silakan duduk,” seru Nek Inem.

            “Ini siapa?” tanya Nek Inem

            “Saya Paimin Nek,” jawab Paimin seraya menjabat dan cium tangan Nenek Inem.

            “Hukssss, iya, iya,” sahut Nek Inem sambil mengusap dahinya dengan baju kumel yang dikenakan.

            Sambil menunggu Nekek Inem masak, mereka duduk di keliling dapur itu sambil menghangatkan tubuh di dekat tungku api. Maklum, hujan mulai turun dan cuaca mulai dingin. Perjalanan  memang membuat panas. Namun,  sampai di rumah Nenek Inem, tubuh mereka dingin lagi.

            Tak lama kemudian, semua makanan siap disantap. Sekalipun makan nasi dengan tempe dan sambel bawang mentah, rasanya sangat menggugah selera.

            “Jo, Paijo. Coba tolong kamu petik daun singkong dan daun papaya biar bisa untuk lalapan,” pinta Nek Inem

            “Siap Nek,” seru Paijo diikutin Paimin.

           Paijo dan Paimin lalu membawa daun singkong dan daun pepaya untuk direbus. Mentimun juga mereka petik. Nenek Inem merebusnya, sedangkan Paijo dan Paimin menyiapkan makanan di balai tua. Paimin masih terasa canggung, karena baru pertama kali ikut. Paijo biasa ke rumah Nenek Inem, jadi sudah seperti nenek dia sendiri. Nenek Inem datang membawa rebusan daun singkong dan daun papaya.

            “Ayo kita makan,” ajak Nenek Inem.

            “Siap Nek,” sahut kami serentak.

            “Selamat makan semua,” seru Paijo.

           Paimin memimpin doa. Suara doa tidak terdengar jelas. Terdengar kata akhirnya saja, yakni Amin. Mereka merasa bingung, ini sarapan atau makan siang. Mau disebut makan pagi sudah terlalu siang. Mau disebut makan siang, makan pagi saja belum.

            “Nek, Nek Inem,” sapa Paijo.

            Iya, Jo, Paijo, apa?” tanya Nenek Inem

            “Begini, nek. Saya dan Paimin ini ke sini sebetulnya punya perlu,” seru Paijo.

            “Iya, nek,” timpal Paimin.

            “Gini, nek. Kami itu akan mengadakan syukuran di gereja. Kami anak-anak muda disuruh mencari sumbangan acara itu,” jelas Paijo.

            “Jo, Paijo. Saya tidak punya apa-apa untuk memberikan sumbagan,” seru Nenek Inem.

            “Nek, Nek Inem. Kami  tidak minta sumbangan uang dari nenek, tetapi kami boleh minta hasil kebon seperti singkong, kelapa tua, atau pisang itu Nek,” pinta Paijo.

            Ohhhhh, itu. Silakan jika mau. Nenek tidak bisa memberikan apa-apa, kecuali itu,” seru Nenek Inem dengan melas.

            “Nek, Nek Inem. Itu lebih dari cukup. Nanti kami minta singkong dan kelapa saja, biar nanti diolah oleh ibu-ibu,” seru Paimin.

            “Nek, Nek Inem masih ingat di Kitab Suci persembahan janda miskin itu lebih besar dibandingkan orang-orang saat itu. Janda miskin memberikan dari segala kekurangannya, ia memberikan dengan ketulusan hati tanpa pamrih. Zaman sekarang sering kita lihat, orang nyumbang, tetapi ada pamrihnya. Orang Katolik diajarkan jika memberi janganlah tangan kirimu tahu. Ini berarti memberi dengan tulus tidak perlu dipublikasikan,” jelas Paijo.

            “Jo, Paijo. Kamu bisa saja menghubung-hubungkan. Hasil kebon itu bukan karena saya, tetapi Tuhan telah memberikan semuanya,” seru Nenek Inem.

            “Ini lebih dari cukup, nek. Kita justru berbahagia atas hasil panen ini. Ini juga patut kita syukuri,” seru Paijo.

            “Iya, nek. Nenek telah mempersembahkan yang terbaik untuk hidup nenek. Memberikan itu dengan ketulusan, Jadi mereka pasti berkenan,” timpal Paimin.

            Iya, nak Paijo dan nak Paimin,” jawab Nenek Inem seraya  matanya berkaca-kaca. Sebab anak-anak muda ini masih mau menyapa dan melibatkan nenek untuk kepetingan Gereja sekalipun tidak seberapa.

Setelah itu  mereka ke kebun mencari singkong dan kelapa.

 “Buk, Buk, Buk,” terdengar tiga suara bunyi kelapa jatuh. Paimin ingin mengumpulkan kelapa itu. Namun, hanya ada dua. Satu lagi, ternyata suara Paijo jatuh.

            Jo, Paijo. Kelapa ada dua, kok bunyinya ada tiga?” tanya Paimin sambil tertawa.

            “Minnnn, Paimin. Satu bukan kelapa, tetapi kepala saya yang nyungset,” seru Paijo.

            “Jo, Paijo, Makanya kalau niatnya ambil kepala tua, jangan mengambil juga kelapa muda. Itu kualat namanya,” seru Paimin meledek.

           Pamin membuka kelapa muda untuk pelapas dahaga sekaligus obat orang jatuh.             “Jo, Paijo. Ini minum dulu. Ini obat haus dan obat orang sakit jatuh dari pohon kelapa,” seru Paimin sambil tertawa.

            “Xie xie, yo Min,” jawab Paijo.

            “Xie xie itu apa, Jo. Cie  cie….. kali kamu jatuh dari pohon, bukan xie-xie,” seru Paimin masih dengan ketawa.

            “Wahhhhh, kenapa ini,” seru Nenek Inem keluar dari rumah.

            “Paijo latihan fisik terjun dari pohon kelapa yang di belakang,” jawab Paimin.

            “Untung pohonnya tidak tinggi dan tanah kebetulan basah, jadi tidak begitu sakit. Sakitnyadi siniiiiiii, yakni sakit karena malu,” seru Paimin.

            “Sudah ya nenek, Kami langsung pulang, Kasihan Paijo sudah bapak belur dan kotor bajunya,” ujar Paimin

            “Baiklah nak Paimin dan nak Paijo. Hati-hati di jalan. Tolong jaga nak Paijo,” kata nek Inem.

            “Iya nek, siap,” seru Paimin.

            “Nek, pulang dulu,” ujar Paijo.

            “Iya, Jo, Paijo. Hati-hati met pesta syukur ya,” sapa nenek Inem.

            “Iya nek, terima kasih,” seru keduanya.

            “Nekkkkkkk, GONG XI FAT CAI ya, heeee,” seru Paijo.

            “Joooooo, Paijo. Jatuhin kelapa kok ikut jatuhin diri,” seru Nenek Inem.

(RD Nikasius Jatmiko)

Leave a Reply

Top