Anda di sini
Beranda > Kategorial > “Bunda Maria” bagi Para Disabilitas Itu Telah Tiada

“Bunda Maria” bagi Para Disabilitas Itu Telah Tiada

Meity Emiliana Setiawan atau yang akrab disapa Bu Meity, demikian sosok keibuan itu telah berpulang pada Senin, 26 Oktober 2020 lalu. Kepergiannya meninggalkan berbagai kenangan yang tak terlupakan. “Bu Meity itu orangnya tulus. Kami para tunanetra kan lebih menggunakan kepekaan perasaan. Jadi kami tahu benar bagaimana beliau dengan tulus melayani penyandang disabilitas,” ujar Rachel.

Rachel sendiri mengaku baru beberapa kali bertemu dan berinteraksi dengan Bu Meity. “Kesan saya jelas, meski belum lama kenal, tapi beliau welcome, dan ternyata itu juga dirasakan oleh teman-teman lainnya. Beliau banyak menolong teman-teman disabilitas,” imbuh Rachel.

Kesan yang sama juga dikatakan Bagus. Pemuda yang tinggal di kawasan Tangerang itu juga merasakan kebaikan Bu Meity. “Saya rasa bukan saya saja yang kehilangan, tapi teman-teman disabilitas lainya,” ujarnya.

Bu Meity memang aktifis gereja yang peduli kepada nasib penyandang disabilitas. Menurut Bu Sari, pembakti disabilitas, semasa hidupnya Bu Meity selalu bersemangat dan total dalam melayani disabilitas. “Beliau kerap menjadi koordinator ketika penyandang disabilitas baik daksa, grahita atau netra akan pentas kulintang atau perkusi. Beliau yang mengurusi semuanya hingga soal komsumsi,” terang Bu Sari.

Di mata putrinya Calorina Lesmana, Bu Meity adalah perempuan yang memberikan teladan hidup. “Mami sudah aktif melayani di Gereja pada 1991. Mami memang total dalam melakukan pelayanan. Meski demikian, mami tak lupa mengurusi keluarga, termasuk mendampingi papi yang juga pelayan Gereja dan masyarakat,” katanya.

Pesan Ibunda

Carolina ingat benar pesan ibundanya, kalau hidup itu harus berbagi dan siap membantu sesama. “Mami sering pesan, jadi orang tidak boleh egois. Harus mau membantu sesama, dan harus mau berkorban. Sering kali mami mengingatkan saya, apakah kami sudah memberikan perhatian dan sudah memberikan bantuan. Mami selalu mengecek, orang-orang yang harus mendapatkan donasi,” tutur Calorina.

Sebutan “Bunda Maria” bagi disabilitas memang layak disematkan pada perempuan yang lahir di Jakarta pada 12 Maret 1950 itu. Betapa tidak? Jejaknya sudah menorehkan kenangan yang mendalam. Kebaikan dan ketulusannya memunculkan inspirasi bagi banyak orang. Melayani tanpa pernah mengeluh. Membantu sepenuh hati. Mendedikasikan hidupnya bagi kemanusiaan. Bu Meity wafat karena sakit yang dideritanya. Ia meninggalkan 2 orang anak yakni Calorina Lesmana dan Adrian Suryawidjaja Lesmana.

Tak lama setelah almarhumah berpulang, 5 hari kemudian suami tercinta, Prof. dr. Julius Effendi Suryawidjaja Lesmana, SpMK juga menghadap bapa Surgawi. “Mami dan Papi wafat karena Covid-19. Sebenarnya waktu itu sakit paru-paru mami sudah pulih, tapi Covid-19 kemudian menyerang pembuluh darah. Itulah yang membuat mami wafat,” tandas Calorina. Tak hanya Bu Meity, Prof Julius juga semasa hidupnya membaktikan diri melayani Gereja dan masyarakat. Dokter dan guru besar di Universitas Trisakti ini juga menjadi Wakil Ketua Dewan Paroki Hati Kudus, Kramat, Jakarta. “Semasa hidup papi kerap membantu pasien yang kurang mampu, bahkan kerap masuk ke pelosok kampung untuk mengobati pasiennya. Apa yang dilakukan papi dan mami sungguh menjadi inspirasi bagi kami, anaknya,” ucap Calorina.

Di Hari Penyandang Disabilitas Internasional yang jatuh pada 3 Desember ini, sudah sepatutnya apabila para penyandang disabilitas menghaturkan terima kasih atas jasa-jasa para pembakti, termasuk Bu Meity. Kami percaya Bu Meity dan Pak Julius telah bahagia bersama Bapa di Surga. Doakanlah kami yang masih berziarah di dunia ini!

(Ignatius Herjanjam)


Leave a Reply

Top