Anda di sini
Beranda > Artikel > Kualitas Udara Selama Pandemi Covid-19 Membaik?

Kualitas Udara Selama Pandemi Covid-19 Membaik?

Pandemi covid-19 memberikan dampak yang sangat besar terhadap berbagai aspek kehidupan termasuk lingkungan. Hampir di seluruh dunia, lockdown telah diterapkan untuk menekan penyebaran covid-19. Kantor, sekolah, universitas, stasiun, bandara, restoran, dan berbagai industri ditutup sehingga sebagian penggunaan transportasi  berkurang secara signifikan dikarenakan sebagian besar kegiatan dilakukan di dalam rumah.

Penutupan berbagai fasilitas yang ada ini berdampak pada peningkatan kualitas udara. Secara global, polutan yang berbahaya bagi manusia seperti nitrogen dioksida (NO2) mengalami penurunan secara signifikan.

Penurunan Polutan

Kasus Covid-19 pertama di Indonesia terkonfirmasi pada awal Maret. Semenjak itu, berbagai protokol lockdown dilakukan oleh pemerintah. Di Bogor sendiri, pembatasan sosial berskala besar (PSBB), diterapkan pertama kali pada 15 April 2020. Protokol PSBB ini memberikan dampak pada penurunan polutan NO2.

Polutan ini sebagian besar berasal dari bahan bakar kendaraan, pabrik, industri, dan pembangkit listrik, di mana hal tersebut sangat berhubungan langsung dengan aktivitas banyak orang. Adapun hal yang memengaruhi jumlah polutan NO2, seperti dipengaruhi oleh cuaca dan kondisi atmosfer.

Semenjak dilakukan PSBB, Ibukota Jakarta yang dikenal sebagai salah satu kota paling berpolusi di dunia, mengalami peningkatan kualitas udara sehingga menggeser posisinya menjadi peringkat ke-38. Udara di kota satelitnya, Bogor juga meningkat kualitasnya sebanyak 44%.

Meskipun tidak mengurangi dampak utama dari pandemi Covid-19, pengurangan polutan udara tentunya memiliki dampak positif terhadap kesehatan respirasi manusia.

Kembali Memburuk

Peningkatan kualitas udara terjadi hanya dalam jangka pendek, di mana jumlah polutan kembali meningkat beberapa waktu setelah kondisi ekonomi membaik.

Pada aplikasi Tiktok, terdapat salah satu pengguna, @ianhugen, yang mengunggah video perbedaan langit Jakarta saat PSBB dan adaptasi kebiasaan baru (AKB). Saat PSBB, langit berwarna biru dan cerah, sedangkan langit Jakarta kembali berwarna abu-abu dan berkabut di hari pertama AKB diterapkan.

Inilah yang menjadi tugas kita bersama, seperti berfokus pada penggunaan energi yang lebih bersih dan penegasan pada regulasi yang berdampak langsung terhadap lingkungan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengurangi pemakaian kendaraan pribadi, karena emisi polutan terbesar berasal dari kendaraan, industri, dan pembangkit listrik. Untuk industri dan pembangkit listrik, sayangnya kita tidak bisa memberikan dampak langsung sehingga perlu ada tindakan dari pemerintah.

Perhatian kita bersama terhadap lingkungan harus lebih ditingkatkan setara dengan perhatian kita akan Covid-19.

(Alexander Josep Ones/AJ)

Leave a Reply

Top