Malaikat Tak Bersayap di KRL Menuju Misa Pagi Artikel 28 May, 202628 May, 2026 Pagi itu udara terasa dingin. Saya baru saja pulang dari lembur, menaiki KRL jurusan Depok–Bogor. Langit pun masih gelap. Di dalam gerbong, suasana belum terlalu ramai. Sebagian penumpang hanya duduk terdiam, sebagian lagi sibuk menatap layar telepon genggam. Di tengah kesunyian pagi itu, mata saya tertuju pada seorang gadis muda yang wajahnya terasa akrab. “Dik Ajeng, apa kabar?” Saya menyapanya. Gadis itu menoleh, lalu tersenyum hangat. “Halo, Om … apa kabar?” Sudah hampir tiga tahun kami tidak bertemu, tepatnya sejak keluarganya pindah dari Bogor ke Depok. Saya mengenalnya sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya telah lama dipanggil Tuhan. “Pagi-pagi sekali ke Bogornya?” tanya saya. “Mau ikut misa pagi jam enam di Katedral dulu, Om. Setelah itu lanjut mengajar.” Jawabannya sederhana, tetapi membuat saya tertegun. Ajeng memang bekerja sebagai guru di sebuah sekolah swasta di Bogor. Setiap hari ia menempuh perjalanan dari Depok. Namun, pagi itu, saya baru tahu bahwa ia biasa menyempatkan diri mengikuti Ekaristi pagi sebelum mengajar. Perjalanan kami pun diisi percakapan ringan, hingga akhirnya ia bercerita tentang ibunya. “Ibu sakit, Om. Sudah hampir setahun.” Saya terdiam. Kini ia tinggal berdua dengan ibunya. Setiap pagi sebelum berangkat, ia menyiapkan semua kebutuhan ibunya. Seorang asisten rumah tangga lalu akan menemani sang ibu selama ia bekerja. Dan sepulang mengajar, Ajeng kembali mengambil alih semuanya. Ia menceritakan semua itu dengan tenang, seolah hal tersebut adalah bagian biasa dari hidupnya. “Capek?” tanya saya. Ia tersenyum kecil. “Kadang. Tapi, ya, dijalani saja.” Saya memandang wajahnya. Di usianya yang masih muda, ia memikul tanggung jawab yang tidak ringan. Saya kemudian bertanya pelan, “Kakak-kakakmu, gimana kabarnya ?” Ajeng terdiam sesaat. “Mereka sibuk, Om. Sudah punya keluarga masing-masing.” “Jarang pulang?” Ia mengangguk kecil. Tidak ada nada kecewa. Tidak ada keluhan. Hanya ketegaran yang sunyi. Saya tak tahu harus berkata apa. Ajeng lalu menatap keluar jendela, memandangi langit yang mulai memucat oleh fajar. “Kalau pagi ikut Misa dulu, rasanya jadi lebih kuat, Om,” katanya pelan. “Seperti diingatkan lagi, kalau Tuhan selalu menemani. Jadi saya tidak merasa sendirian.” Kalimat itu sederhana, tetapi begitu menancap dalam hati saya. Sering kali kita mencari tanda kehadiran Tuhan dalam hal-hal besar: mukjizat, peristiwa luar biasa, atau kata-kata yang menggetarkan. Padahal, kadang Tuhan hadir lewat kesetiaan yang sangat biasa, yang nyaris tak terlihat. Kereta mulai melambat. Pengumuman Stasiun Bogor terdengar. Kami lalu turun bersama. Langkah kami menyusuri peron, lalu kami berpisah di pintu gerbang stasiun. Ajeng berjalan menuju Katedral untuk mengikuti misa pagi, sebelum melanjutkan tugasnya sebagai guru. Saya menuju arah lain. Sebelum ia menghilang di antara keramaian, saya sempat menoleh. Langkah Ajeng tampak tegap. Tidak tergesa. Tidak tampak mengeluh. Ada damai yang sulit dijelaskan. Saat itulah saya teringat Bunda Maria. Kesetiaan-Nya tidak selalu tampak dalam peristiwa-peristiwa besar. Sering kali kesetiaan itu hadir dalam hal-hal sederhana: menemani, menjaga, bertahan, dan tetap percaya dalam diam. Di bulan Rosario ini, saya seperti diingatkan kembali bahwa teladan Bunda Maria masih hidup di sekitar kita. Terkadang ia hadir dalam sosok-sosok sederhana yang tidak dikenal banyak orang. Ajeng hanyalah seorang guru muda, seorang anak bungsu yang setiap hari pulang untuk merawat ibunya, dan seorang pribadi yang, sebelum memulai pekerjaannya, memilih datang terlebih dahulu kepada Sang Bapa dalam Ekaristi. Namun, justru dalam kesederhanaannya itulah saya melihat kasih Allah bekerja. Mungkin malaikat tidak selalu hadir dengan sayap putih dan cahaya surgawi. Kadang ia hadir dalam rupa seorang gadis muda yang menumpangi KRL pagi, singgah ke gereja untuk berjumpa dengan Tuhan, bekerja, lalu pulang untuk merawat ibunya dengan setia. Pagi itu, saya merasa telah mendengar sebuah homili yang hidup. Saya melihat seorang malaikat tak bersayap. Penulis: Y.B. Paryatna Yulianta | Editor: Celine Anastasya