Dominus meus et Deus meus Kabar Terkini Mutiara Biblika 24 April, 202616 April, 2026 Yohanes 20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”20:28 Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kemajuan zaman mulai merambah ke kampung-kampung. Kebiasaan nongkrong bareng tidak hanya diisi persoalan kampung, tetapi persoalan lebih luas. Orang-orang mulai berani bicara politik, ekonomi, bahkan bicara soal iman. Informasi yang cepat ikut mempengaruhi pola pikir Paijo dan teman-temannya. Mereka tidak lagi berbicara bagaimana menanam singkong atau menggembalakan kambing. Mereka ikut ambil bagian dalam perubahan zaman sekalipun masih kecil. Mereka menyadari bahwa perkembangan zaman telah menggeser pola pikirnya. Informasi membanjiri orang-orang setiap hari. Informasi diterima begitu saja tanpa diklarifikasi kebenarannya. Akibatnya, informasi yang salah sering kali memicu perselisihan, termasuk perselisihan iman. Maraknya informasi yang tidak bisa disaring ini sedikit memberikan batasan pertemuan, terutama bagi yang beda keyakinan. Mereka saling merasa paling benar beriman, sekalipun beriman hanya didasarkan berita hoax. Situasi ini makin kentara ketika pertemuan di gardu kampung tidak lagi semarak seperti dulu. Bahkan mereka mulai membatasi pembicaraan. Perbedaan keyakinan menjadi jurang pemisah yang dirasakan. Semua itu terjadi karena propaganda dan informasi yang salah. Akibatnya, pertemanan di kampung ikut terbelah. Orang merasa paling mengerti agamanya dan segala aturannya sehingga pengertian itu menjadi alasan membatasi diri berelasi dengan orang lain. Pertemanan dikorbankan demi menjalankan perintah agama yang baru dimengerti lewat informasi dunia maya ini. Paijo pun merasakan kondisi itu. Ketika Paijo bertemu teman sekolah waktu kecil, mereka tidak lagi mau mengulurkan tangan untuk berjabat. Alasannya agama melarangnya. “Kenapa baru sekarang tidak boleh, bukannya dulu kita saling berjabat tangan, bermain bersama di bawah sinar rembulan dan semua baik-baik saja. Kenapa pertemanan menjadi terbatas,” demikian Paijo mencoba merenungkan semua itu. Mereka berjalan begitu saja tanpa lagi ada kehangatan sebagai teman masa kecil. Dalam kesendirian di pematang sawah itu, Paijo duduk sambil membayangkan zaman itu saat duduk bersama teman-teman penggembala di gubuk itu. Tempat ini menjadi saksi bisu saat teman-teman, baik laki-laki maupun perempuan, duduk bersama seraya bercanda ria. Sementara kami bercanda ria, kambing-kambing pun merumput dengan sukacita. Kambing-kambing itu bersatu tanpa membedakan siapa tuannya. Kambing-kambing akur sama seperti majikan yang sedang bercanda ria di gubuk. Mereka tidak merasa berdosa, tetapi kini tanganku seakan membawa dosa jika berjabat tangan. Dalam kebimbangan itu, Paijo terus mencari jawaban kenapa kami tidak lagi boleh berjabat tangan. Paijo pun sering kali juga ditanya soal iman Katolik. Paijo juga mendapat kesulitan untuk menjawab karena selama Gereja Katolik tidak mengajarkan. Simbok juga tidak memberi tahu. Misa dan doa sudah dianggap cukup menjadi Katolik, demikian Simbok sering memberikan nasihat kala Simbok tidak bisa menjelaskan iman. Iman itu menjadi tugasnya romo, begitu Simbok sering menegaskan. Kita hanya bisa percaya dan menjalani dengan penuh hikmat, begitu istilah Simbok kala menasihati Paijo. Kini dunia sudah berubah. Banyak orang berbicara soal iman dan pembicaraannya cenderung menyerang perbedaan. Akibatnya, pertemanan menjadi kurang nyaman lagi. Dalam keheningan, Paijo terbuai oleh semilir angin di pematang sawah itu. Paijo tidak kuat lagi melawan kantuk sehingga ia tertidur nyenyak sambil memegang kayu di tangannya. Dalam tidurnya ia bermimpi ketemu Menik dan Yanti di sebuah kota. Paijo pun diajak untuk ngopi atau ngeteh bersama. “Jooo, Paijooo. Mau makan apa?” tanya Menik dan Yanti seraya memberikan daftar menu yang luar biasa. “Ahhhh, Paijo ngikut saja,” jawab Paijo malu-malu. “Ahhhhh, Jooo, Paijo. Gak usah malu-malu, ini bukan di rumah Simbok, heeee,” seru Menik dengan suara merayu. “Ya saya pesan teh manis dan nasi goreng saja,” jawab Paijo. “Bener, gak mau pilih yang lain?” tanya Yanti seraya mendesak lagi. “Ahhhh, cukup, nasi goreng dah cukup,” jawab Paijo malu-malu. Setelah bertiga mempunyai pesanan masing-masing, mereka menunggu seraya berbincang-bincang. “Joooo, Paijo. Kenapa kamu lesu begitu,” tanya Menik sambil memandang penuh keibuan. “Iya Jooo, Paijo, kenapa?” tanya Yanti menambahkan. “Iyaaaa, saya sedih, kenapa dunia modern ini membawa perpecahan. Persahabatan menjadi retak dan mereka tidak lagi menjadi satu lagi karena beda iman. Dulu teman-teman main kecil, sekarang diajak salaman tidak mau,” jawab Paijo. “Mereka juga menyerang iman kita. Di mana Alkitab menyebutkan bahwa Yesus Tuhan. Saya sendiri juga tidak mempunyai Kitab Suci, jadi tidak pernah mengerti,” seru Paijo. “Jooooo, Paijo. Ini zaman modern, semua bisa diakses dari internet,” jawab Yanti. “Yanti, Menikkk, bagaimana mau buka internet, mau buka dompet saja gak ada duitnya,” seru Paijo lirih dengan agak malu. “Ahhhhh, bisa saja kamu Paijo,” seru Yanti dan Menik seraya tertawa. “Di dalam Kitab Suci yang baru saya buka itu jelas tertulis, bahwa ada sebutan itu, pertama Yohanes 13:13 dan Yohanes 20:28. Jadi ada tertulis di Injil Yohanes. Kita orang Katolik memang sangat kurang membaca Alkitab. Jadi ketika ditanya soal ayat, pasti kita tidak mengerti,” sahut Menik sambil menunjukkan ayat itu lewat HP nya. “Ohhh, iya, terima kasih ya, jadi saya sedikit lega mempunyai jawaban,” seru Paijo. “Iman itu bukan soal apa yang kita pahami saja, namun lebih dari itu,” jelas Yanti. “Tidak semua ajaran iman tertulis secara gamblang, tetapi ada iman yang selalu kita wujudkan tanpa harus kita mengerti semua,” jelas Menik. “Jadi jika orang tidak mau berteman lagi karena beda keyakinan, kita tidak bisa melarang. Iman Katolik tidak melarang umatnya untuk membangun persahabatan dengan aneka keyakinan. Kita tidak mengerti doktrin iman dengan baik, tetapi kita mempunyai keyakinan untuk berbuat baik. Kita tidak melukai sesama, tidak menyakiti, dan yang penting kita mengasihi dengan segenap hati dan pikirin. Itu saja Jo, Paijo,” seru Yanti dengan semangat. “Yaaaa, saya mulai mengerti, bahwa iman itu bukan soal apa yang kita pahami, tetapi lebih pada apa yang kita lakukan demi sesama,” seru Paijo mempertegas apa yang dikatakan Yanti dan Menik. Pembicaraan itu terputus ketika makanan yang dipesan datang. Mereka bertiga menikmati hidangan itu. Selesai makan, Menik menawarkan minum kopi. “Jooo, minum kopi ya biar sedikit modern kamu,” seru Menik. “Terima kasih,” jawab Paijo singkat seraya malu-malu. “Joooo, Paijo, ini kopi masih belum utuh, belum digiling. Koi baru digiling jika kita memesannya,” seru Menik. “Coba lihat dan pegang, ini bentuk kopi yang belum digiling,” kata Yanti menyodorkan ke Paijo agar mengerti biji kopi itu seperti apa. “Wuihhhh, ini kopi,” seru Paijo seraya menerima dan melihat biji kopi untuk pertama kali. Paijo tertegun melihatnya karena selama ini kopi itu setahunya hanya berupa bubuk. “Duarrrr” terdengar suara penjual balon meledak di depan warung makan. “Duar,” terdengar suara keras lagi. “Ahhhhh Semprul,” seru Paijo. Paijo ternyata mimpi dan ledakan kedua itu ternyata suara petir yang menandakan hujan akan tiba. Paijo pun membuka mata ternyata kambing-kambingnya sudah tidak ada. “Waduhhhh, kambing-kambing semprul, tidak membangunkan saya,” seru Paijo dalam hati seraya ketawa sendiri sambil berjalan pulang. “Tuhanku dan Allahku,” seru Paijo mengulang perkataan Thomas Rasul. “Jooo, Paijo, jangan bimbang iman mu Jo, Paijo,” seru Paijo dengan hati gembira pulang menyusul kambing-kambingnya. “Ahhhh Semprul,” seru Paijo. Ternyata kopi yang diberikan Yanti itu adalah kotoran kambing yang ada di sekitar Paijo. Saat Paijo tertidur, kambing-kambing itu buang kotoran seraya membangunkan, tetapi Paijo tidak bangun. Dalam mimpinya, kopi-kopi yang belum digiling itu adalah kotoran kambing. “Mbekkkkk, Mbekkkkk,” seru kambingnya seperti meledek Paijo. Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka