Maria Regina Martiriorum Est Mutiara Biblika Sajian Utama 31 October, 202531 October, 2025 Lukas 2:34 Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan? dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri? Supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” Oktober telah menjadi tradisi Gereja Katolik berziarah ke gua Maria. Banyak orang Katolik mengawali bulan oktober dengan doa Rosario. Selama sebulan penuh aneka kegiatan devosi kepada bunda Maria berjalan terus tanpa henti. Gua Maria dipadati para peziarah dari segala penjuru. Umat Katolik dari berbagai daerah disatukan dalam peziarahan ini. Mereka saling menyapa setiap kali bertemu. Aktivitas foto dan selfie tidak ketinggalan, bahkan saat mereka berdoa jari tetap bersentuhan dengan HP. Perpaduan doa dan HP menjadi bagian yang serentak ada. Euforia umat Katolik berziarah ke Gua Maria tidak menyurut dari tahun ke tahun, justru para peziarah diberikan banyak pilihan terhadap tujuan ziarah. Hal ini menandakan bahwa kebutuhan devosi kepada bunda Maria berkembang pesat. Gereja memberi wadah umat Katolik yang berdevosi kepada bunda Maria ini dengan baik, sekalipun banyak kritik ditujukan kepada umat Katolik terkait menyembah Patung. Kritik-kritik itu tidak menyurutkan niat para devosan untuk tetap berziarah sampai saat ini. Paijo, Paimin dan Parman tidak ketinggalan pergi ke Gua Maria. Mereka bertiga tetap mempertahankan tradisi dengan naik sepeda Onthel kesayangan. Alasannya sederhana, mereka tidak mempunyai sepeda motor. Dalam perjalanan mereka silih berganti menyalib untuk mengisi waktu. Perjalanan menuju gua Maria kira-kira ditempuh dalam waktu satu jam. Bagi mereka satu jam adalah waktu yang pendek, karena mereka sudah terbiasa naik sepeda kemana-mana. “Kring, Kring, kring”, bunyi bel sepeda dibunyikan untuk mengurangi rasa jenuh. Sesekali mereka juga berbincang seperlunya seraya mengayuh sepeda. Satu jam telah dilalui, mereka sampai pada tujuan. Banyak umat sudah hadir di gua Maria. Mereka melakukan aneka aktivitas, sebagian jalan salib, sebagian Rosario, dan sebagian ada yang mengobrol di tempat yang disediakan sambil menunggu misa pembukaan. Seraya menunggu misa pembukaan, orang-orang makan dan minum seadanya. Terdengar pembicaraan ringan dengan wajah-wajah yang penuh syukur. Gua Maria itu menyediakan segala kebutuhan para peziarah, sekalipun sederhana sehingga mereka tidak takut kekurangan. Ada pula ibu-ibu WK yang menyediakan minuman gratis bagi peziarah yang sangat membutuhkan. Sikap ramah ibu-ibu WK itu mendapat sambutan yang luar biasa. Pada umumnya fasilitas disediakan secara gratis, namun justru orang-orang yang berada tetap menyisihkan rejekinya untuk para pengurus di Gua Maria itu. Artinya para pengunjung atau peziarah dengan kerelaan memberikan apa yang mereka punyai dengan sukacita. Sementara pengurus gua menyediakan air minum teh hangat dan makanan kecil ala kampung, seperti pisang rebus, ubi, singkong dan aneka hasil bumi di daerah itu. Gua Maria itu itu selalu menjadi langganan tempat peziarahan Paijo, Parman, dan Paimin. Maklum mereka selalu mengandalkan belas kasih untuk urusan makan dan minum. Sebagai gantinya mereka bertiga ikut ambil bagian untuk bersih-bersih gelas atau sampah-sampah yang berserakan. Dulu sebelum Menik dan Yanti pindah kota, mereka juga sering bersama-sama ke gua Maria. Bahkan mereka juga pernah jalan kaki dari rumah. Kebersamaan itu membuat mereka kuat berjalan di tempuh cukup lumayan lama. Terik matahari pun tidak mempengaruhi peziarahan. Kehadiran Menik dan Yanti memberikan motivasi tersendiri. Tepat pukul 15.00, pembukaan bulan Maria dimulai dengan doa Rosario. Doa Rosario menggunakan peristiwa gembira. Doa Rosario dipimpin oleh petugas yang telah disiapkan. Selesai doa Rosario dilanjutkan dengan misa. Dalam homilinya, romo Boni sebagai romo Paroki menjelaskan peran Maria sebagai Ratu Para Martir. “Saudara-saudari devosan yang terkasih. Hari ini Gereja Katolik mengajak umat Katolik seluruh dunia di bulan Oktober ini merenungkan peran Maria dalam menghidupi iman. Dalam iman Katolik, Bunda Maria mempunyai peran luar biasa sehingga Bunda mendapatkan martabat yang luhur. Salah satu martabat yang sematkan pada bunda, yakni Maria Regina Martiriorum. Martabat ini mengingatkan penderitaan Maria seperti yang dikatakan Simeon. Maria tidak tidak menumpahkan darah seperti pada umumnya yang terjadi para martir. Akan tetapi, seluruh hidup Maria diliputi dengan penderitaan yang berat ibarat pedang menusuk jiwanya. Keteguhan Maria mengikuti Yesus ini menjadikan tanda betapa Maria tahan menghadapi cobaan. Puncaknya Maria harus melihat putranya disalibkan dan pada saat diturunkan, Maria memangku jenazah-nya. Ini sebuah perjalanan yang sangat berat sehingga Maria harus ikut menderita bersama Yesus, sang Putra,” Romo menghela nafas sebentar. “Saudara-saudari yang terkasih. Kita sebagai devosan harus selalu siap sedia menanggung segala cobaan mengikuti Kristus. Iman sering kali menjadi taruhan bahkan sering kali iman kita diancam dan diserang. Manakala itu terjadi, ingatlah bahwa Bunda Maria telah memberikan contoh kesetiaannya. Jalan terjal itu adalah bagian perjalanan iman agar umat Katolik selalu berpegang teguh terhadap iman. Maria setia menanggung penderitaan itu maka Maria diberi martabat Ratu Para Martir. Penyematan itu sangat tepat, karena Maria memberikan contoh totalitas mengikuti Yesus selama-lamanya. Penderitaan Bunda Maria melebihi penderitan para martir sehingga pantaslah bahwa Bunda Maria diberi martabat Ratu Para Martir,” jelas Romo Boni dengan semangat. Romo Boni menjelaskan peran Maria yang luar bisa dalam mempertahankan iman. Keteguhan iman itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga umat Katolik diajak untuk belajar bertahan dalam iman. Cobaan tidak akan pernah habis, namun iman akan Kristus harus terjaga. Selesai misa umat berbaur. Ada yang langsung pulang, ada yang masih foto-foto, ada pula yang masih doa pribadi. Semua aktivitas itu tidak mengganggu keheningan tempat doa di Gua Maria itu. Paijo, Paimin, Parmin, pun juga akan meninggalkan gua Maria dengan mengayuh sepeda. Sebelum pulang, mereka mampir di tenda ibu-ibu WK. Mereka berharap akan mendapat bekal untuk di jalan. Ibu-ibu WK sudah apal dengan gaya Paijo dan kawan-kawan. Mereka menyediakan bekal dibungkus tas kresek. Setelah menerima, mereka bersalaman dan minta ijin untuk pulang. Kegembiraan mereka tidak terkira. Mereka bisa berziarah di awal Oktober, dapat makan dari ibu-ibu WK, dan pulangnya masih dikasih bekal. Pengalaman yang patut disyukuri. “Kringgggg, Krinnnngg,” bunyi sepeda itu terus berdering mengiringi perjalanan pulang ke rumah. Saat menuju pulang ke rumah, matahari mulai terbenam. Maka bunyi bel sepeda dibunyikan pertanda mereka lewat. Maklum sepeda kuno tidak ada lampunya. Mereka terus beriringan naik sepeda. Di kampung dekat rumah itu ada selokan dengan air yang tidak dalam. Pada saat mereka mau melewati, mereka dikejutkan oleh orang gila yang tiba-tiba nongol. Mereka bertiga terkejut dan spontan membelokkan arah ke kiri. Tanpa terkendali mereka bertiga masuk ke selokan itu. “Ahhhhh, semprul”, mereka berteriak serentak seraya kecebur got. Makanan bekal dari ibu WK pun ikut masuk got. Jadi mereka tidak bisa menikmati bekal yang diberikan ibu-ibu WK “Ahhhhhhh, hiikkkkk,” terdengar orang gila itu tertawa senang melihat kami kecebur di got yang dipenuhi dengan lumpur. “Ahhhhh kurang ajar,” seru Paimin sambil mengacungkan tinjunya. “Ehhhhhh, tidak boleh mengumpat, ingat homili Romo Boni. Penderitaan ini belum seberapa,” seru Paijo sambil cengar cengir mentertawakan kedua temannya karena mukanya penuh dengan lumpur karena sorot lampu. “Haa, haaaa,” mereka pun saling menertawakan seraya menunjukkan muka karena ketiganya bermandikan lumpur di sore itu. Mereka pun mengangkat sepeda dari got dan segera pulang seraya menertawakan diri sendiri. Mereka berpencar pulang ke rumah masing-masing. “Joooo, Paijo, biasanya ziarah itu mandi air dari Gua Maria, ini malah mandi air got,” seru Paijo dalam hati seraya tersenyum-senyum tanpa henti. Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka