Anda di sini
Beranda > Mutiara Biblika > Shalom

Shalom

Luk 24:36 Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!”

Malam itu suasana kampung sepi, hujan rintik-rintik turun sejak sore. Lampu listrik pun ikut padam, sehingga hanya persediaan lilin kecil sisa malam Paskah, saat digunakan pembaruan janji baptis Sabtu Suci. Keheningan itu terjadi seperti pada saat Para Rasul mengalami ketakutan terhadap tentara Romawi dan orang-orang Yahudi setelah penyaliban Yesus. Keheningan malam itu makin mencekam saat terdengar lolongan anjing dari kejauhan. Orang-orang tua sering menceritakan jika ada lolongan anjing malam hari, pertanda hantu sedang lewat. Semua cerita itu terekam dalam diri Paijo sehingga malam itu semakin membuat situasi makin mencekam.

Dulu Simbok selalu menemani dan menjadi tempat berlindung jika ketakutan datang. Kini semua itu telah berlalu dan suasana itu harus dilewatkan seorang diri. Malam makin larut, tetapi mata rasanya susah dipejamkan sekalipun waktu telah menunjukkan pukul 00.00 WIB. Mata menatap di atas dengan terang sinar lilin yang kurang memadai. Lilin itu menjadi penerang sekaligus mengorbankan diri dengan melelehkannya. Pengorbanan lilin itu membawa terang bagi manusia. Kini bayangan Paijo juga tertuju pada pengorbanan Yesus yang dirayakan pada Jumat Agung. Sebuah tragedi kemunusiaan yang pernah terjadi di muka bumi. Sorak sorai kegeringan menelanjangi tubuh Yesus. Mata hati manusia tertutup oleh keangkuhan, keirian dan kesombongan. Orang berbahagia dalam penderitaan orang lain, ini adalah sebuah tragedi. Kematian nurani manusia ditampilkan oleh manusia dalam peristiwa ini.

Setelah peristiwa menyeramkan itu berlalu, suasana masih terasa menakutkan. Semua murid masuk dalam rumah dengan menutup pintu rapat-rapat. Demikian, Paijo malam itu merasa takut sendirian, bayangan Simbok ada dalam dirinya sehingga Paijo hanya bisa berharap minimal mimpi ketemu Simbok untuk berbagai rasa. Sayangnya, mata susah dipejamkan dan tidak bisa tidur. Setiap kali mau tidur, suara binatang malam menghiasi telinga. Telinga ditutup bantal juga tidak membuat suasana menjadi semakin nyaman.  Rasanya hidup dalam tekanan yang penuh dengan horror. Paijo merasa ketakutan seorang diri ditemani suara binatang malam di rumah. Jam terus berputar, namun mata masih tetap terjaga. Paijo merasa gelisah, tidak merasa damai seperti biasanya.

Lambat laun, seturut putaran waktu, Paijo mulai bisa memejamkan mata. Angan kini hanyut dalam dekapan mimpi bersama senandung bunyi binatang malam yang kadang menyayat jiwa. Kesendirian itu terasa mencekam, seperti Yesus berdoa seorang diri di taman. Ia membangunkan tiga murid untuk diajak berdoa, namun mereka tertidur lagi. Ketakutan Yesus terungkap bahwa bulir-bulir keringatnya seperti tetesan darah menjelang Ia ditangkap. Gelisah, resah, takut adalah perasaan setiap orang yang ditinggal oleh orang terdekatnya. Yesus seperti seorang diri dalam keheningan doa, sementara para murid terlelap tidur, seperti tanpa rasa. Demikian Paijo merasa ngeri di dalam sunyi itu. Mimpi kini mulai menghiasi angan-angan Paijo. Dia seperti berjalan di sebuah taman yang indah. Sebuah taman terbentang luas, rerumputan hijau dan aneka kembang mulai semi. Aroma bunga-bunga itu semerbak mengundang lebah-lebah datang. Mereka berterbangan riang gembira menyambut mekarnya bunga-bunga. Kian lama, kian banyak lebah itu datang, bahkan kini bertambah kupu-kupu yang warna-warna. Mereka seakan berdendang dalam kedamaian. Mereka tidak merasa khawatir akan situasi itu. Lebah dan kupu hinggap ke sana ke mari mencari madu yang telah diberikan alam itu. Mereka tidak merasa gelisah akan situasi.

Jo, Paijo,” seru seorang menyapa dari taman itu.

Iya,” jawab Paijo seraya menengok ke sana kemari sambil mencari asal suara yang memanggil namanya. 

Jo, Paijo,” suara itu terdengar lagi di balik pohon di taman yang indah itu.

Iya, saya di sini,” jawab Paijo sambil tengak tengok kembali mencari suara itu.

Wuaahhhhhhh,” suara mengejutkan di balik pohon itu. Ternyata Menik dan Yanti sedang bermain di taman yang sama di masa liburan.

Waduhhhhh, ngagetin saja,” seru Paijo sambil tersenyum. Akhirnya mereka pun duduk bersama di taman itu seraya bergurau seperti saat masih sekolah bersama.

Jo, Paijo. Saya melihat kamu sendirian seperti galau, harusnya kamu bahagia. Ini masa Paskah, saat manusia ikut bergembira bersama Kristus yang telah bangkit membawa kedamaian,” seru Menik.

Iya, Jo, Paijo. Kamu harusnya bahagia,” timpal Yanti.

Menik, Yanti. Memang saya masih susah move on. Dulu ada Simbok yang bisa diajak bicara, sekarang sendiri. Paling, saya hanya bicara sama kambing-kambingku. Kini, semua harus dipikirkan sendiri sehingga kadang saya merasa putus harapan,” seru Paijo sambil berlinang air matanya.

Joooo, Paijo. Kamu itu harusnya kuat seperti dulu, jangan cengeng. Sejak kapan kamu menangis menghadapai masalah seperti itu. Ayo kamu harus tegas, jangan melo, gitu. Semua akan mengalami hal yang sama. Kamu lihat kupu-kupu dan lebah. Mereka riang gembira tanpa merasa khawatir. Bukankah Kitab Suci mengajarkan bahwa burung pipit pun akan selalu diberi makan dan bunga bakung pun juga didandani oleh Allah,” seru Menik seraya menasihati Paijo dengan menggunakan Kitab Suci sekalipun tidak hafal ayatnya heeee.

Iya, perasaan itu tidak salah. Perasaan itu sering muncul spontan, bahkan kadang tidak bisa dihentikan sendiri,” seru Paijo.

Iya, betul. Mari kita bergembira bersama. Kita jalan-jalan di taman sambil diskusi. Kita mesti membawa damai seperti binatang-binatang yang riang gembira. Ini masa Paskah kita harus bergembira, jangan bersedih terus,” ajak Yanti untuk keliling taman.

Mereka bertiga pun akhirnya berjalan bersama di taman itu seraya bersenda gurau. Kegembiraan bersama itu mengingatkan pada masa-masa sekolah ketika hari libur tiba. Semua terasa indah, damai, dan menyenangkan. Demikian peristiwa ini diulang kembali dengan berjalan bersama di taman itu. Saat mereka sedang berjalan bersama, tiba-tiba terdengar suara teriakan.

Aduhhhhhhh,” seru Paijo

Kenapa?” seru Yanti dan Menik serentak.

Saat Paijo memetik bunga di taman itu, ternyata, lebah itu menyerang dan menyengat. Paijo pun menjerit kesakitan seraya melompat. Ternyata, Paijo melompat dari tempat tidur sebab dia disengat lebah yang bersarang di kamar Paijo. Paijo tidak menyadari itu. Sengatan itu membuat Paijo terbangun dari mimpinya ketemu Menik dan Yanti di taman.

Aduhhhhh, dasar lebah kurang ajar, tidak mau melihat saya senang saja, heeeeee, ” seru Paijo sambil nyengir kesakitan. Ternyata sengatan lebah itu membuat Paijo bangun karena hari sudah mulai siang. 

Jooooo, Paijo. Kebanyakan mimpi jadi tidak move on, ayo bangun dan bekerja,” seru Paijo sambil tersenyum malu diledek kambing-kambingnya.

Embekkkkk, embekkkk,” seru kambingnya seakan menertawakan Paijo yang sedang kecewa mimpinya dihentikan oleh lebah, heeeeee.

Joooo, Paijo. Harus Paskah itu membawa damai, shalom. Ehhhhh,  malah disengat lebah, heeeee, Jo Paijo. Dasar wong ndeso, heeeeee,” seru Paijo meninggalkan tempat tidurnya sambil tersenyum sendiri.

Penulis: Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka

Leave a Reply

Top