Anda di sini
Beranda > Mutiara Biblika > Memento Mori (Ingatlah Akan Kematian)

Memento Mori (Ingatlah Akan Kematian)

Wahyu 16:15 “Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan yang memperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya.”

Situasi Pandemi membuat segala aktivitas terbatas, termasuk beribadat. Banyak aturan digunakan sesuai protokol kesehatan yang berlaku demi kebaikan semua orang. Namun, situasi itu tidak mematikan kerinduan manusia untuk berdoa. Kerinduan manusia untuk berdoa kepada Allah adalah sebuah unsur utama kehidupan spiritual sebagai umat beriman. Kerinduan bertemu Tuhan menjadi gerak hidup sehingga manusia harus selalu menyadari dan mewujudkannya dalam doa. Doa tidak bisa terbatas oleh ruang dan waktu, manusia dapat berdoa secara pribadi di mana dan kapan pun. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan sebuah komunitas untuk berdoa bersama, baik di masyarakat, maupun di gereja. Namun, semua itu menjadi terbatas manakala pandemi masih ada, terutama bagi orang tua yang merindukan misa di gereja untuk merayakan ekaristi sebagai puncak imannya, yakni bersatu dalam Tuhan dalam sakramen mahasuci.

Demikian juga kiranya, Simbok terhambat untuk ikut merayakan misa bersama di gereja karena faktor umur. Kerinduan Simbok hanya bisa diungkapan dalam doa dan siap menerima komuni yang diantar oleh asisten imam tiap minggu. Kunjungan ini setidaknya mengobati kerinduan Simbok menerima komuni suci pada masa pandemi. Waktu terus berlalu, tetapi kesempatan ikut merayakan ekaristi offline juga belum bisa terlaksana. Waktu demi waktu dijalani Simbok, kerinduan tetap menjadi kerinduan dan harapan tetap menjadi harapan. Sikap iman itu dijalani dengan penuh ketaatan, sebab Simbok sangat menaati apa yang telah ditetapkan gereja demi kebaikan semua orang.

Sabtu Pon biasa Simbok menjalani tugasnya dengan memberikan jatah masak untuk romo di paroki, rutinitas itu sudah dijalankan Simbok sejak masa mudanya. Bahkan, Simbok telah menjalankan tugas itu dengan setia lebih dari 50 tahun. Masakan tidak seberapa, tetapi kehendak untuk ambil bagian sebagai orang Katolik itu telah Simbok tanamkan. Janda miskin itu memberikan dari kekurangan, demikian kiranya Simbok mencoba memberikan dari apa yang Simbok punyai. Tindakan  ini menjadi bentuk ketaatan Simbok sebagai orang Katolik di kampung dan dijalani dengan senang hati.

Kesibukan Simbok sehari-hari pada masa pandemi hanya berkutat di kebon samping rumah yang banyak ditumbuhi pohon mangga dan pisang. Hasil panen itu pun tidak dijual, melainkan dibagikan-bagikan, termasuk untuk komunitas gereja dan susteran. Seminggu sesudah Simbok memasakkan romo. Simbok pun panen pisang dan diantarkan pula ke gereja dan suteran, sebuah cara Simbok membagi apa yang Simbok punyai. Anugerah tanah di samping rumah itu juga menjadi berkah bagi semua, bukan hanya untuk Simbok.

Jo, Paijo,” sapa Simbok.

Iya, Mbok, Simbok,” sahut Paijo.

Jo, Paijo tolong anterin pisang itu ke gereja dan susteran,” pinta Simbok.

Iya, Mbok, Simbok,” sahut Paijo dengan senang.

Kebiasasaan itu telah Simbok jalani selagi Simbok masih bisa memberi, sebab hanya itu yang bisa Simbok berikan kepada gereja dan susteran. Simbok menganggap merekalah orang yang pertama harus dihormati. Simbol hormat Simbok dengan memberikan hasil kebon itu. Untung saja, jarak rumah dengan gereja dan susteran tidak jauh sehingga bisa diantarkan dalam waktu singkat dengan naik sepeda.

            “Mbokkkk, Simbokkkk, saya dah pulang Mbok,” seru Paijo.

            Seruan Paijo itu tidak langsung disahut Simbok, mungkin Simbok sedang ke belakang atau sedang ke kebon.

            “Mbokkkk, Simbokkk,” seru Paijo lagi mengulangi.

            “Yaaaaaa, Jo, Paijo,” jawab Simbok dengan suara lirih dan agak serak setelah Paijo menyapa Simbok.

            “Mbokkkk, Simbok, sakit?” tanya Paijo.

            “Iyo, Jo, Paijo. Simbok sepertinya masuk angin,” jawab Simbok lirih karena suara mulai serak.

            “Ya udah Simbok, istirahat, ya Mbok, cepat Sembuh,” seru Paijo.

Simbok pun akhirnya beristirahat sejenak melepas lelah. Keesokan harinya Simbok sepertinya sakit agak serius, sehingga meminta bantuan suster merawat sementara. Puji Tuhan bahwa komunitas susteran itu bergerak dalam bidang kesehatan. Sehari para suster itu merawat Simbok dengan penuh kasih sayang, seperti merawat ibunya sendiri. Para suster itu menemani Simbok dan pada akhirnya Simbok pun mesti dibawa ke kota, karena di kampung alat-alat kesehatan kurang memadahi. Para suster inilah yang juga membantu Simbok berobat ke rumah  sakit di kota yang peralatan memadai.

            Simbok tidak pernah mengeluh sakit, bahkan selama Simbok di kampung tidak pernah sakit hingga menginap di rumah sakit. Tampaknya, ini sangat serius, tetapi Simbok tetap tenang tidak merasakan apa yang terjadi dalam dirinya. Dalam hati Paijo hanya bisa berdoa, berpasrah dan menunggu apa yang terbaik bagi Simbok. Dua atau tiga hari Simbok ada dalam perawatan, seperti biasa saja. Namun, Jumat 15 Januari 2021, Simbok, merasa tidak kuat dan pukul 03.09, Simbok kembali kepada yang dirindukan, yakni Perjamuan Kudus di surga bersama para Kudus.

            “Simmmmmbokkkkkk, engkau telah memberikan persembahan terakhirmu, masakan dan pisang itu. Simmmmmbokkkkkk, semoga persembahan Simbok yang kecil itu berkenan pada sesama dan juga kepada Allah,” seru Paijo dengan air mata yang tidak bisa ditahan lagi.

            “Simbokkkkkk, Beristirahatlah dalam damai, Mbokkkkkkkkk. Begitu cepat engkau meninggalkan aku, mbokkkk, Simbokkkkk,” seru Paijo dengan tetap meneteskan air mata.

            “Mbokkkk, Simbokkkkkkk. Paijo hanya bisa menghantarkan ke pemakaman Simbok, semoga damai abadi di surga ya, Mbok Simbokkkkkk. Doaku untuk Simbokkkkk,” kata Paijo seraya menghantarkan jenazah Simbok ke peristirahatan terakhirrrrr.

            “Mbokkkkkk, Simbokkkkkkkk,” tangis Paijo seraya menutup liang kubur Simbok untuk menghantarkan ke peristirahatan terakhir.

In Memoriam Simbok, Elizabeth Sudibyoningsih. Beristirahatlah dalam damai seperti yang Simbok selalu ajarkan, pasrah dan setia kepada kehendak Tuhan sampai akhir hayat”. Selamat Jalan Mbokkkkkk,” seru Paijo seraya mengusap air mata yang tiada henti-hentinya menetes.

(RD Nikasius Jatmiko)

4 thoughts on “Memento Mori (Ingatlah Akan Kematian)

  1. Ibunda Rm, pribadi yang setia kepada Tuhan dan suka berbagi dengan ikhlas rahmat apa yang ada pada beliau, bahkan puteranya juga dipersembahkan kepada Tuhan dan menjadi seorang Pastor. Selamat jalan Ibu, keramahanmu masih saya rasakan. Semoga Ibu berbahagia di surga. Sayang dan doa untuk Ibu Elizabet Sudibyoningsih 🙏😇😍✝️💐

  2. Selamat jalan ibu Elisabeth Sudibyoningsih beristirahat dalam damai di rumah Bapa di surga namamu akan kami kenang selamanya kebersamaan kami selama di Baturetno tidak akan terlupakan ibu yang begitu ramah melayani kami semua 🙏🙏🙏

  3. Uthi….kangen… ..Uthi sdh damai bersama Bapa disurga….bila kami pulang ke Prambanan ,pasti kami sowan ke Uthi yang penuh kehangatan bagi kelg kami…kami sekeluarga telah menemukan sosok ibu,sosok nenek yang sangat 2 baik yg kami rasakan…..terimakasih banyak Uthi damai bersama para kudus disurga…. Amin.Terimakasih kelg besar Uthi ….dimana kami bisa menjadi bagian dr kelg Patuk Baturetno……

  4. Mengenal ibu itu sejak usia belasan tahun hingga punya cucu, banyak hal yang melekat dalam ingatan saya kesederhaan, mengabdi , hidup bermasayarakat dan berbagi. Terutama menjalani sebuah ptoses yang tidak mudah dari anak anak masih kecil sebagai wanita single parent karena bapak sudah mendahului menghadap BAPA. Kekuatan iman, energi lebih dalam mendidik dan menghasilkan anak anak yang mandiri dan berhasil itu sebuah proses kehidupan yang menjadikanku belajar banyak dari Ibu.
    Pastinya saya sudah tidak bisa kangen kangenan lagi dg Ibu di Batu. Tetapi kangen saya berubah menjadi kelekatan yg sudah da menjadi makin terpatri.
    Bahagia di surga Ibu, ibu sudah bersama bapak lagi. Jadilah pendoa bagi kami anak cucu yang masih berada dalam peziarahan di dunia ini.
    Peluk 🌹💐

Leave a Reply

Top