Anda di sini
Beranda > Kabar Terkini > Hodie Christus Natus Est

Hodie Christus Natus Est

Luk 2:15 Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”

Suara katak mulai terdengar dan pepohonan juga  mulai menghijau, pertanda hujan telah tiba. Banyak orang menantikan masa ini karena kemarau panjang telah menghentikan banyak aktivitas, terutama para petani tadah hujan. Mereka membiarkan tanahnya istirahat untuk sekian waktu. Kini hujan memberikan harapan terhadap semua makhluk hidup. Mereka menyambut hujan di bulan Desember dengan penuh suka cita. Setelah sekian lama kegersangan menempa bumi, kini secerah harapan terbuka kembali.

Burung-burung berkicau menyambut pagi hari kala embun membasahi dedaunan serta rumput yang mulai menghijau. Ungkapan syukur kepada Tuhan tersaji melalui kidung burung dan suara alam semesta.

Desember telah datang, umat Katolik menyambut kelahiran Kristus di dunia. Kegembiraan dirasakan oleh manusia dan alam semesta. Demikian juga Paijo, tidak ketinggalan ikut merayakan peristiwa agung, sekalipun ia merayakan tanpa Simbok.

Orang-orang menyambut natal dengan sukacita, namun Paijo masih terpaku sendiri dalam keheningan. Suara-suara kambing mengembik tidak mampu menghibur hati Paijo. Ia masih mengenang Simbok yang tidak lagi bersama dengannya. Kebersamaan dengan Simbok di hari Natal kini tinggal kenangan. Simbok telah merayakan natal abadi di surga.

Paijo tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, sekalipun dalam perayaan Natal. Pagi menjelang perayaan Natal, Paijo menyibukkan diri dengan kambing-kambingnya. Ia mencari rumput untuk kambing-kambingnya. Suara kambing menghibur Paijo, tetapi Paijo belum bisa move on dari situasi ini. Paijo nampaknya masih merasa kehilangan Simbok yang selama ini mengajari soal kehidupan.

Setelah rumput tersedia cukup banyak, Paijo mencari singkong  di kebon samping. Ia ingin menyibukkan dirinya menjelang Natal. Singkong akan dimasak dengan gula dan kelapa. Paijo memarut singkong dan mengaduknya dengan gula merah dan kelapa parut. Adonan singkong itu dibungkus daun pisang dan dikukus. Paijo meneruskan tradisi Simbok membuat makanan yang ada di kebon. Kini Paijo mengukus adonan singkong itu di tungku dengan kayu bakar. Bau dan aroma kue ala Paijo telah menusuk hidung.

“Gembala cepatlah….,” senandung Paijo seraya menunggu masakan dengan mengatur besarnya api dari kayu.

“Embekkkk, Embekkkk,” suara kambing itu sepertinya menertawakan suara Paijo yang fals.

“Jingle bell, Jingle bell,” Paijo menyanyikan lagu lain yang bernuansa Natal.

“Embekkkk, Embekkkk,” kambing-kambing itu semakin seru menertawakan Paijo

“Ahhhhhh, semprul,” sahut Paijo seraya tertawa sendiri karena diledek kambing-kambingnya.

Paijo menghibur diri  menjelang malam natal dengan kambing-kambingnya. Paijo pun teringat bagaimana para gembala itupun hanya dihibur oleh kawanan kambing. Mereka bersuka ria di padang gurung, tanpa ada gebyar kembang api. Api yang ada hanyalah api untuk memasak dengan kayu bakar. Di dalam keheningan itu, para malaikat datang menyapa. Mereka mewartakan kabar gembira kepada seluruh dunia. Pertama-tama, malaikat menyapa para gembala yang jauh dari gemerlapan kota. Mereka terpilih untuk menerima warta gembira.

Peristiwa para gembala itu menghibur hati Paijo. Setidaknya, Allah akan selalu mengutus para malaikat untuk menghibur dirinya. Setidaknya kambing-kambing telah menyapanya tiap hari.

“Kringgg. Kringgggg, Kringggg,” terdengar suara bel motor di depan rumah. Namun Paijo tidak begitu menghiraukan karena Paijo sedang mengangkat panci untuk mengukus kue singkong itu.

“Kringggg, Kringggg,” terdengar lagi dan disahut suara kambing.

“Wahhhhh, seperti suara surgawi, meriah,” seru Paijo sambil mengangkat masakannya untuk disajikan  di meja.

“Ahhhhhh, Kamu Menik dan Yanti,” seru Paijo seraya meletakan hasil masakannya ke meja. Ternyata Menik dan Yanti sudah menunggu di meja makan.

“Wuihhhhh, Paijoooo sedang masak apa?” seru Menik dan Yanti serentak. Menik dan Yanti pun iseng, seakan membantu Paijo memasak, namun mereka mengambil jelaga hitam dioleskan ke wajah Paijo.

“Merry Christmas ya Jo, Paijo,” seru Yanti dan Menik seraya mengoleskan jelaga di wajah Paijo. Serentak Yanti dan Menik tertawa girang melihat muka Paijo menjadi hitam.

“Embekkkk, embekkkkkk,” kambing pun ikut bergembira menyambut Yanti dan Menik

“Heeeee, terima kasih Yanti Menik,” seru Paijo seraya mempersilahkan Yanti dan Menik mencicipi makanan buatan Paijo menjelang natal.

Mereka bertiga pun bergembira seperti kegembiraan para gembala mendapat kabar sukacita. Mereka bertiga makan masakan Paijo. Yanti dan menik mengeluarkan minuman yang dibawa dari Kota. Sementara oleh-oleh makanan disimpan untuk Paijo. Mereka gembira bersama seperti saat simbok masih ada. Persahabatan mereka tidak luntur, sekalipun telah dipisahkan tempat. Kegembiraan itu ditandai dengan makan bersama ala Paijo.

“Wuihhhh, enak sekali Jo, Paijo,” seru Yanti

“Ahhhh, biasa saja,” seru Paijo sedikit malu dipuji

“Bener Jo, enak bingit,” timpal Menik.

“Ayo, kita rayakan saat gembira ini, sekalipun natal baru nanti malam,” ajak Menik.

Mereka bertiga bercengkrama dengan gembira. Kini keheningan berubah menjadi kegembiraan. Seperti tanah kering merindukan air, Paijo pun mendapatkan hiburan dari sahabat-sahabat kecilnya saat Paijo seorang diri.

“Menik, Yanti saya mandi dulu, turus kit pergi ke Gereja,” seru Paijo.

“Okkkk,” seru Menik dan Yanti.

Selama Paijo mandi, Menik dan Yanti memberikan kejutan. Mereka menyiapkan hadiah natal buat Paijo. Selesai mandi Paijo segera ganti baju.

“Merry Christmas Paijo,” sekali lagi Yanti mengucapkan seraya mengulurkan hadiah dibungkus rapi.

“Terima Kasih, Menik dan Yanti,” seru Paijo terharu.

“Buka-buka,” seru Yanti dan Menik

“Ahhhhh,” seru Paijo kaget. Menik memberi Hadiah Kaos gambar Paijo dengan kambing-kambingnya. Kegembiraan dirasakan bersama, sekalipun tidak ada simbok. Akhirnya mereka bertiga naik sepeda menuju ke Gereja untuk ikut misa malam natal. Sebelum ke Gereja mereka mampir ke makam Simbok seraya mengucapkan selamat natal.

“Mbokkkk, Simbokkkk. Selamat natal di surga ya Mbok,” seru Paijo dalam hati seraya menaburkan bunga. Menik mengulurkan tisu ke Paijo sebab terlihat Paijo meneteskan air mata.

“Joooo, Paijo. Jangan sedih terus ya, Simbok sudah Natalan di surga,” seru Menik seraya menepuk pundak Paijo.

“Iya, Jo, Paijo. Ayo, kita menatap masa depan dengan suka ria. Hari ini Kristus dilahirkan (Hodie Christus Natus est). Mari bergembira. Malaikat telah menyapa kita seperti saat malaikat menyapa para gembala,” seru Yanti dengan ikut meneteskan air mata.

Sejenak, mereka bertiga ada dalam keheningan di depan makam Simbok. Setelah beberapa waktu, mereka pergi ke Gereja untuk merayakan Natal.

“Selamat Natal semuanya,” Seru Paijo, Menik, dan Yanti.

 

Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka

Leave a Reply

Top