Anda di sini
Beranda > Artikel > 59 Tahun Berita Umat, Sebuah Perjalanan Penuh Cinta

59 Tahun Berita Umat, Sebuah Perjalanan Penuh Cinta

Mengelola media dalam Gereja Katolik bukanlah perkara sederhana. Ada ruang yang kadang terasa sempit di antara dua hal yang sama-sama penting “ketaatan” sebagai bagian dari kehidupan menggereja dan “kebebasan” sebagai napas dari dunia pers.

Di satu sisi, media Gereja dipanggil untuk setia. Di sisi lain, ia juga dipanggil untuk berani melihat, bertanya, dan menyuarakan kebenaran. Di antara keduanya, selalu ada pergulatan. Dan di tengah segala pergulatan itu, ada satu hal yang membuat Berita Umat tetap bertahan selama 59 tahun, cinta.

Barang kali, jika dibandingkan dengan media mainstream yang memiliki struktur profesional dan memberikan imbalan atas kerja jurnalistiknya, Berita Umat memiliki cerita yang berbeda. Mereka yang berada di baliknya datang bukan karena gaji. Mereka meluangkan waktu di tengah pekerjaan, keluarga, dan kesibukan masing-masing. Mereka menulis, memotret, mewawancarai, menyunting, berdiskusi, bahkan terkadang berdebat, bukan karena sebuah angka di rekening setiap akhir bulan.

Mereka hadir karena percaya bahwa apa yang dikerjakan memiliki arti.

Ada malam-malam yang dihabiskan untuk menyelesaikan tulisan. Ada akhir pekan yang seharusnya menjadi waktu beristirahat, tetapi justru diisi dengan liputan. Ada pesan yang masuk ketika orang lain sudah terlelap. Ada perdebatan kecil di ruang redaksi tentang satu kata, satu judul, atau satu sudut pandang.

Estafet Antargenerasi

Panitia Rekrutmen 2026 bersama anggota baru yang telah lolos seleksi dan masa percobaan. Dok. Berita Umat.

Semua itu mungkin terlihat sederhana. Tetapi jika tidak ada cinta, untuk apa seseorang bertahan? Cinta kepada Gereja. Cinta kepada umat. Cinta kepada cerita. Dan cinta kepada sebuah karya yang bahkan bukan milik kita sendiri.

Sebab Berita Umat tidak pernah benar-benar menjadi milik satu generasi.

Ada generasi yang memulainya pada 1967. Ada generasi yang menjaganya tetap hidup ketika zaman berubah. Ada generasi yang datang, belajar, kemudian pergi. Dan kini, pada 2026, hadir wajah-wajah baru yang akan mengambil bagian dalam perjalanan panjang ini.

Kepada teman-teman yang baru bergabung dalam keluarga Berita Umat, ada satu hal yang penting untuk diingat, karya ini bukan milik kita. Kita hanya sedang dipercayakan untuk menjaganya.

Kita menerima sesuatu yang telah dirawat oleh tangan-tangan sebelum kita. Maka tugas kita bukan sekadar membuat Berita Umat tetap terbit, tetap aktif, atau tetap hadir di tengah umat. Tugas kita adalah merawat ingatan, merawat nilai, dan merawat karya ini agar suatu hari nanti dapat kita serahkan kepada generasi berikutnya dalam keadaan yang lebih baik.

Jangan jadikan Berita Umat sekadar tempat singgah. Jangan datang hanya untuk mengisi nama dalam struktur kepengurusan, menambah pengalaman, atau sekadar mencantumkannya dalam portofolio. Mari jadikan Berita Umat sebagai rumah.

Sebab rumah bukan tempat yang selalu sempurna. Di dalam rumah ada perbedaan, ada lelah, ada salah paham, bahkan ada saat ketika kita ingin pergi. Tetapi rumah tetap dirawat karena di dalamnya ada sesuatu yang kita cintai.

Maka, rawatlah rumah ini. Rawat dengan waktu, rawat dengan kesediaan untuk belajar, rawat dengan keberanian untuk bertanya, rawat dengan kerendahan hati untuk menerima kritik, dan terutama, rawat dengan cinta.

Karena mungkin, 59 tahun dari sekarang, generasi lain akan berdiri di tempat kita berdiri hari ini. Mereka akan membaca nama-nama kita, melihat karya yang pernah kita tinggalkan, lalu meneruskan perjalanan yang sama.

Pada saat itu, semoga mereka dapat berkata, “mereka pernah merawat Berita Umat dengan penuh cinta. Dan karena cinta itulah, kami masih bisa menemukan rumah ini hari ini.”

Selamat ulang tahun ke-59, Berita Umat. Teruslah menjadi rumah. Tempat cerita dirawat, tempat umat didengarkan, dan tempat cinta kepada Gereja menemukan bentuknya.

59 tahun telah berlalu, perjalanan ini belum selesai.

Penulis: Aloisius Johnsis (Pemimpin Redaksi Berita Umat Periode 2025-sekarang) | Editor: Bernadus Wijayaka

Leave a Reply

Top