Di tengah kehidupan menggereja, seorang imam sering ditempatkan pada posisi yang istimewa, sebagai pemimpin rohani, pemberi sakramen, sekaligus suara yang mengarahkan umat pada kebenaran. Namun, di balik jubah dan panggilan suci, kita juga menyadari satu hal yang tak terbantahkan.
Imam adalah manusia biasa. Ia tidak kebal terhadap kelemahan, tidak luput dari dosa, dan tidak selalu sempurna dalam menjalankan panggilannya.
Kesadaran ini seharusnya menuntun umat pada iman yang dewasa, bahwa iman Katolik tidak bergantung pada figur seorang imam. Iman kita berakar pada Kristus, bukan pada manusia. Namun di sisi lain, dapat diterima jika beberapa umat tidak dapat menutup mata, kehadiran imam tetap memiliki pengaruh besar dalam kehidupan umat. Kata-katanya hampir pasti didengar, nasihatnya akan dipertimbangkan, dan teladannya disadari atau tidak akan menjadi cerminan.
Imam yang Beriman?
Mempertimbangkan kenyataan ini, maka pertanyaannya adalah “Jika imam adalah gembala dan sahabat umat, apakah setiap kata yang diwartakan sungguh hidup dalam dirinya?”
Sewaktu berada di mimbar, kita dapat mendengar ajakan untuk saling mengasihi, tidak membenci, dan berani mengampuni. Apakah itu hanya sebatas rangkaian kata yang indah, atau sungguh menjelma menjadi tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari?
Imam dipanggil bukan hanya untuk mewartakan, tetapi juga menghadirkan. Ia bukan sekadar penyampai pesan, tetapi juga saksi. Perlu disadari umat tidak hanya mendengar, tetapi juga melihat. Mereka menangkap bukan hanya isi homili, tetapi juga gestur, sikap, keberanian, dan integritas hidup sang imam.
Maka, saat seorang imam mengajak umat untuk berani menyuarakan kebenaran di tengah dunia yang riuh, umat pun berharap melihat keberanian yang sama dalam diri gembalanya. Pewartaan tanpa kesaksian sering kali terasa hampa.
Perkataan VS Perbuatan
Ironisnya, tidak jarang kita menjumpai sikap diam yang berbalut alasan rohani. Sebut saja, seperti kalimat “Kebenaran akan menemukan jalanNya sendiri” atau “Biarlah Tuhan yang bekerja.” Pernyataan ini tidak sepenuhnya salah. Namun, menjadi problematis ketika itu digunakan sebagai alasan untuk tidak bertindak. Bukankah para imam sendiri adalah pekerja Allah?
Bukankah mereka dipanggil tidak hanya untuk percaya bahwa Tuhan bekerja, tetapi juga untuk ambil bagian dalam karya-Nya? Jika demikian, bukankah mereka bagian dari cara Tuhan bekerja di dunia ini?
Menjadi gembala berarti berani berjalan di depan, bahkan ketika jalan itu tidak mudah. Menjadi sahabat umat berarti selalu mengusahakan hadir, mau mendengarkan dan ikut berdiri bersama dalam kebenaran bukan bersembunyi di balik kenyamanan atau ketakutan. Karena dalam banyak situasi, diam bukan berarti netral. Diam bisa jadi bentuk lain dari pembiaran.
Bukan hanya Imam
Refleksi ini tidak berhenti pada imam semata. Umat pun diajak untuk becermin dan menyadari, Gereja bukan hanya tentang imam, tetapi tentang kita semua sebagai Tubuh Kristus. Jika kita menuntut imam untuk hidup dalam kebenaran, kita pun dipanggil untuk melakukan hal yang sama.
Jika kita rindu imam yang berani bersuara, mungkin kita pun perlu berani mendukung, bahkan saat kebenaran itu terasa tidak nyaman. Relasi antara imam dan umat sejatinya adalah relasi yang saling menguatkan.
Tulisan ini adalah sebuah refleksi. Ini menjadi sebuah undangan untuk melihat lebih jernih, Gereja adalah persekutuan orang-orang berdosa yang sedang berziarah menuju kekudusan. Imam bukan pusat iman, melainkan penunjuk arah. Dan ketika penunjuk arah itu terkadang goyah, umat pun diajak untuk tetap menatap tujuan akhir, yakni Kristus sendiri.
Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri, dan mari bergabung di dalamnya. Dunia tidak hanya membutuhkan suara yang menyerukan kebenaran, tetapi juga pelaku yang membuktikan bahwa kebenaran itu sungguh nyata.
Penulis: Fransiska R Cecillia | Editor: Celine Anastasya
Imam bukan pusat iman, melainkan penunjuk arah. Dan saya rindu Imam yang berani menyuarakan kebenaran. Oleh karena itu, kalau Imam menyadari telah menyuarakan refleksi yang salah dan ketidakbenaran, maka saya mendukungnya untuk menyampaikan koreksi atas kesalahannya itu. Jangan menjadi pemandu arah yang salah.