Anda di sini
Beranda > Artikel > Gembala Menepi, Kita Belajar Dewasa

Gembala Menepi, Kita Belajar Dewasa

Uskup Bogor Monsinyur Paskalis memperlihatkan lilin Paskah kepada seluruh umat dalam perayaan malam Paskah. Foto: Regia Lidwina

Sebuah Catatan Refleksi Seorang OMK Keuskupan Bogor

Tiba saatnya saya mengalami sendiri peristiwa yang selama ini biasanya hanya dilihat dan didengar lewat layar TV. Berita itu datang bukan seperti kilat yang mengejutkan, melainkan seperti langit yang perlahan-lahan meredup, pelan, sunyi, tapi terasa menekan.

Perasaan itu muncul saat mengetahui Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM, Uskup Bogor, memutuskan untuk pergi. Entah kenapa, di tengah diam, lagu Idgitaf “Sedia Aku Sebelum Hujan” tiba-tiba terlintas di kepala. Bukan karena ingin berdramatisasi, tetapi karena lagu itu terasa begitu pas menggambarkan apa yang dirasakan. 

Ada kesedihan yang tidak meledak, hanya merasuk perlahan ke dalam dada. Ada rasa kehilangan yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika dan kata-kata. Seperti hujan yang tidak selalu turun deras, tetapi tetap mampu membuat kita basah tanpa sadar.

Gereja Tidak Harus Terlihat Kuat

Peristiwa ini pelan-pelan mengubah cara memandang Gereja.

Gereja bukan hanya tentang keteguhan dan tuntutan untuk selalu tampak baik-baik saja. Gereja juga tentang keberanian mengakui batas. 

Saya hidup di generasi yang akrab dengan kata-kata seperti burnout, healing, self-care, dan mental health. Kadang kami dianggap terlalu “lemah” karena membicarakan itu. Namun, saya merasa dan menyadari batas bukan tanda rapuh tapi tanda sadar. 

Dalam hidup orang muda, saya belajar satu hal, memulai itu sulit, tetapi berhenti sering kali lebih sulit. Karena berhenti sering disalahpahami sebagai menyerah. Padahal, dalam banyak situasi, berhenti sejenak atau melepaskan tanggung jawab tertentu bisa menjadi cara agar seseorang tetap utuh. Maka, ketika saya mengetahui peristiwa ini, saya mencoba memandangnya dengan hati yang lebih luas. 

Mungkin ini bukan tentang kekalahan, tetapi tentang memilih jalan yang lebih jujur. Bukan tentang lari, tetapi tentang menjaga panggilan dalam bentuk yang lain.

Bagi saya, itu bukan hal kecil.

Belajar Diam di Tengah Keramaian

Di era media sosial, hampir semua hal bisa menjadi bahan komentar. Bahkan yang sakral pun bisa berubah jadi perdebatan. Saya pun pernah berada di titik itu ingin cepat tahu, ingin cepat paham, ingin cepat punya opini. Namun, peristiwa ini menegur saya. 

Saya belajar bahwa tidak semua hal harus saya simpulkan. Tidak semua hal pantas saya kunci dengan asumsi. Ada ruang privat dalam setiap panggilan, dan ada pergulatan yang mungkin hanya Tuhan dan orang itu sendiri yang benar-benar tahu. 

Kalau saya tidak bisa membantu dengan tindakan, setidaknya saya bisa membantu dengan sikap menahan diri, menjaga hormat, dan mendoakan. Karena iman tidak selalu diuji lewat seberapa banyak saya bicara, tetapi lewat seberapa mampu saya menjaga.

Ibadat kirab misi bersama OMK. Foto: Anastasya Intan
Ibadat kirab misi bersama OMK. Foto: Anastasya Intan

Refleksi sebagai Orang Muda

Peristiwa ini seperti cermin. Kalau suatu hari saya memegang tanggung jawab besar, apakah saya berani jujur pada diri sendiri? Apakah saya berani mengakui batas? Apakah saya berani mengambil keputusan yang mungkin tidak populer, tetapi benar di hadapan Tuhan? 

Saya sadar, Keuskupan Bogor tidak berhenti karena satu orang pergi. Gereja berjalan karena umatnya tetap setia. Dan saya, sebagai orang muda, tidak ingin hanya jadi penonton. Saya ingin tetap terlibat, tetap melayani, dan tetap menjaga harapan.

Sebab di tengah perubahan yang sunyi saya belajar, jika iman bukan tentang siapa yang bertahan paling lama, tetapi siapa yang tetap mencintai sampai akhir.

Iman yang Bertumbuh Sebelum Hujan

Lagu itu kembali terngiang: “Sedia aku sebelum hujan.” Bagi saya, itu seperti doa kecil yang muncul tanpa diminta. Seolah Tuhan sedang mengingatkan kita semua, tidak semua hal akan selalu terang. Ada masa-masa mendung, ada masa-masa sunyi, ada keputusan-keputusan yang tidak selalu kita pahami. Namun, di situlah iman bertumbuh, bukan karena semua jawabannya lengkap, melainkan karena kita tetap berjalan meski tidak semuanya jelas. 

Kalau ada satu hal yang saya yakini sekarang, saya tidak harus memahami semuanya untuk bisa tetap setia. 

Hari ini, saya memilih melangkah pelan-pelan, membawa doa bagi Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM, bagi Keuskupan Bogor, dan bagi paroki yang saya cintai untuk terus dan tetap berjalan bersama umatnya. Termasuk saya, orang muda yang sedang belajar lebih dewasa untuk mencintai Gerejanya, tidak hanya saat semuanya terang, tetapi juga saat banyak hal terasa sunyi dan gelap.

Penulis: Fransiska R Cecillia | Editor: Aloisius Johnsis

 

9 thoughts on “Gembala Menepi, Kita Belajar Dewasa

  1. Saya sedih sekaligus merasa terpukul dgn pengunduran diri dari Bapa Uskup Bruno Syukur OFM….
    Disisi lain saya sangat ingin bertemu dgn orang2 yg menuduh bapa uskup memakai dana keuskupan untuk kepentingan pribadi..
    Blm lagi tuduhan2 lain yg di tujukan kepada bapa uskup tanpa ada bukti yg jelas dan valid..
    Ijinkan saya bertemu dgn orang2 yang sudah mendidih bapa uskup tanpa bukti yg Valid

  2. Bagi saya, peristiwa ini mengingatkan umat Keuskupan Bogor untuk selalu mendoakan Gereja dari tipu daya Iblis yang berusaha menyerang Gereja-Nya dengan berbagai cara.

  3. Iblis sedang bekerja melalui Romo Romo yg menuduh bapa uskup Bogor tanpa ada bukti yg valid…Romo2 itu bekerjasama dg iblis …mereka nanti akan terima pembalasan dari Tuhan

  4. Bunda Mengingatkan umat, iblis lebih suka menghancurkan satu imam daripada umat separoki sebab bila kepalanya hancur tubuhpun Alan hancur. Saatnya memberi kesempatan., ruang hening nan Kudus, jujur., untuk mendengarkan Roh Kudus
    Hening adalah cermin hati, dimana kejujuran berkata terus terang.

  5. Lha Romo Bruno tetap disebut mgr meski tanpa teritori. Apa sih yg dikejar seorang biarawan apalagi dari OFM? Justru kita salut pada Romo Bruno yg teguh pada jalan sunyi. Semoga Bogor segera menemukan uskup baru

  6. Doa dan harapan serta berkat yang baik buat Keuskupan Bogor. Maribadik2 ku OMK, tetap semangat, buat para pemimpin Paroki tetap semangat dalam iman, kebersamaan dalam memajukan Keuskupan Bogor.
    Tuhan memberkati kita semua…
    Salam dari Keuskupan Agung Samarinda

  7. Doa untuk Uskup Emeritus Keuskupan Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur. OFM

    (Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin)

    Ya Tuhan, Bapa yang Maharahim,
    kami bersyukur atas anugerah panggilan dan pelayanan
    yang telah Engkau percayakan kepada hamba-Mu,
    Uskup Emeritus Bogor, Mgr Paskalis Bruno Syukur.

    Terima kasih atas kesetiaan, pengorbanan,
    dan cinta yang telah ia curahkan
    dalam menggembalakan umat-Mu dengan rendah hati
    dan penuh ketaatan kepada kehendak-Mu.

    Kami mohon, limpahkanlah rahmat kesehatan
    bagi tubuh, jiwa dan rohnya.
    Kuatkan ia di masa peralihan hidup dan pelayanannya,
    agar tetap setia berjalan bersama-Mu
    dalam damai dan sukacita.

    Bimbinglah setiap langkahnya dengan terang Roh Kudus,
    semoga hidupnya tetap menjadi kesaksian iman,
    pengharapan dan kasih
    bagi Gereja dan semua orang yang dijumpainya.

    Anugerahkan kepadanya kedamaian batin,
    ketenangan hati serta sukacita sejati
    sebagai buah dari penyerahan diri yang total kepada-Mu.

    Kami menyerahkan hidup dan pelayanannya
    ke dalam tangan-Mu yang penuh kasih,
    sebab Engkaulah sumber kekuatan dan kesetiaan kami
    kini dan sepanjang masa. Amin.

    Bapa Kami…

    Salam Maria (3X)

    Kemulian..

    (Ditutup dengan Tanda Salib)

Leave a Reply

Top