Kowe Isih Urip, Tho? Artikel 13 May, 202613 May, 2026 Minggu Paskah ketiga yang lalu, saya mengikuti Perayaan Ekaristi hari Sabtu pukul lima sore. Begitu lagu pembukaan berkumandang—dinyanyikan oleh kor “Gracia”, kalau tidak salah—saya ikut menyanyi dengan penuh semangat. Semangat saya kian bertambah ketika melihat, di barisan paling belakang perarakan, sosok yang begitu saya kenal: Romo Yohanes. Saya menyapanya dalam hati, “Romo…” Setiap kali beliau memimpin Perayaan Ekaristi, memori saya seakan berputar ke masa lalu. Meski demikian, saya tetap berusaha mengikuti perayaan dengan khidmat. Ada begitu banyak kenangan tentang beliau—kenangan yang diam-diam telah menjadi sumber motivasi dalam perjalanan hidup hingga saya bisa bertahan dan bertumbuh di Bogor ini. Saya mengenal Romo sejak beliau masih menjadi frater di Buah Batu, Bandung. Bahkan, saya pernah mengunjungi rumahnya di dekat Sendang Sriningsih, Gayamharjo, Sleman, saat beliau libur Natal. Namun, satu kenangan yang paling membekas adalah ketika saya merantau di Bogor sebagai seorang guru muda di sebuah sekolah negeri. Tahun 1985, saya masih berstatus CPNS baru. Hidup serba terbatas. Tubuh kurus, penampilan ndeso, dan hati sering diliputi kegamangan. Maklum, anak kampung yang tiba-tiba harus hidup di kota, tanpa saudara. Semua terasa asing, bahkan kadang menyayatkan. Namun di saat-saat seperti itulah, Frater Yohanes datang. Dengan sepeda motor Honda CB Glatik milik paroki, beliau beberapa kali mengunjungi saya. Saya sempat kaget ketika pertama kali melihatnya datang. Tidak ada percakapan berat. Hanya obrolan ringan, tanya kabar, “Krasan ora?” Akan tetapi, justru dari kesederhanaan itulah saya merasa dikuatkan. Itu seakan menjadi tanda kecil, tetapi nyata, bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Dalam terang iman, saya mulai mengerti. Terkadang Tuhan tidak hadir dengan cara yang luar biasa, tetapi melalui kehadiran sederhana seorang sesama—yang mau datang, mendengarkan, dan menguatkan. Ketika beliau ditahbiskan menjadi imam, saya datang mengikuti misa tahbisan. Namun, saya tidak berani maju untuk menyalaminya. Saat itu, saya merasa kecil. Umat-umat penting berdiri di depan, sementara saya hanya bisa menyapa dari kejauhan, menyimpan rasa bangga dan haru dalam diam. Relasi saya dengan Romo berlanjut dalam bentuk lain. Selama dua tahun, saya rajin mengikuti kuliah yang beliau berikan di SMKK/SMK Baranangsiang setiap hari Minggu. Caranya mengajar begitu hidup, menarik, dan penuh semangat. Waktu terasa cepat berlalu setiap kali beliau mengajar. Dari situlah saya belajar bahwa menjadi pelayan Tuhan berarti juga mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, baik dalam mengajar maupun menyampaikan homili. Sebagai umat biasa, saya pernah dengan sengaja menunggu beliau di luar Katedral setelah misa. Ingin bersalaman. Dan saat itulah, terjadi sesuatu yang tak pernah saya lupakan. Dengan senyum khasnya, ia berkata, “Kowe isih urip, tho?” Sapaan sederhana itu, dalam terang iman, terasa lebih dari sekadar pertanyaan biasa. Seakan-akan saya diingatkan: bukan hanya “masih hidup” secara fisik, tetapi apakah saya sungguh hidup dalam iman? Apakah saya masih berjalan bersama Tuhan, atau justru menjauh tanpa sadar? Minggu Paskah ketiga itu, Injil yang dibacakan adalah kisah perjalanan murid Emaus (Lukas 24:13-35). Dua murid berjalan dalam kekecewaan dan kehilangan harapan. Mereka tidak menyadari bahwa Yesus yang bangkit berjalan bersama mereka. Barulah ketika Ia memecah-mecahkan roti, mata mereka terbuka. Saya merasa, kisah itu bukan hanya cerita masa lalu. Itu adalah kisah hidup saya, dan mungkin juga hidup banyak orang. Bukankah sering kali kita seperti murid di Emaus itu? Berjalan dalam kebingungan, merasa sendirian, dan tidak menyadari bahwa Tuhan sebenarnya hadir melalui orang-orang di sekitar kita? Dalam pengalaman hidup saya, Tuhan hadir melalui Frater—yang kemudian menjadi Romo—Yohanes. Dalam kunjungan sederhana, dalam sapaan ringan, dalam pengajaran yang tulus, bahkan dalam satu kalimat singkat: “Kowe isih urip, tho?” Dalam homilinya pada hari itu, Romo menutup dengan kalimat yang sederhana tetapi mendalam. “Saat putus asa, sedih, kecewa, atau khawatir, jangan membuat keputusan. Dan ketika sedang bergembira, jangan membuat janji. Karena pada saat-saat itu, logika dan iman bisa menjadi lemah.” Refleksi ini seolah melanjutkan kisah Emaus. Bahwa dalam kondisi batin yang tidak seimbang, manusia mudah kehilangan arah. Maka, yang dibutuhkan adalah berhenti sejenak, duduk bersama Tuhan, dan membiarkan Dia menuntun langkah kita kembali. Ekaristi yang saya rayakan hari itu terasa berbeda. Saya semakin sadar,dalam setiap perayaan, Kristus yang bangkit selalu hadir. Bukan hanya dalam Sabda, tetapi juga dalam pemecahan roti dan perjumpaan dengan sesama. Dan mungkin, seperti para murid di Emaus, saya pun diundang untuk kembali “berlari” ke kehidupan sehari-hari, membawa kabar sukacita. Bahwa Tuhan sungguh hidup, dan Dia berjalan bersama kita. Kini, setiap kali saya melihat Romo memimpin Ekaristi, bukan hanya iman yang diteguhkan. Ada kenangan yang juga dihidupkan kembali—kenangan tentang kebaikan kecil yang menjadi tanda kehadiran Tuhan yang agung. Sehat selalu, Romo. Berkah dalem. Penulis: Y. B. Paryatna Yulianta | Editor: Celine Anastasya