Anda di sini
Beranda > Kabar Terkini > Syukuran

Syukuran

Imamat 14:12 Dan ia harus mengambil domba jantan yang seekor dan mempersembahkannya sebagai tebusan salah bersama-sama dengan minyak yang satu log itu, dan ia harus mempersembahkannya sebagai persembahan unjukan di hadapan TUHAN.

Setiap manusia hidup dalam tradisi tertentu. Mereka menghidupi tradisi itu sebagai warisan luhur dari nenek moyang. Tradisi itu terus berkembang sesuai dengan putaran waktu. Yesus pun hadir di dunia dalam tradisi juga. Lukas menggambarkan,”2:21 Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.2:22 Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan, 2:23 seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”.  Tradisi ini tidak dapat dilewatkan sebab peristiwa luhur itu merupakan bagian hidup setiap manusia.

Tradisi itu juga telah muncul sejak awal penciptaan dan dilanjutkan pada umat pilihan Allah. Abraham, Musa, Yakub dan banyak bapa umat beriman menghidupi tradisi itu turun temurun. Perayaan-perayaan itu semata-mata bukan perayaan manusia, melainkan perayaan yang mempunyai nilai ilahi. Kekuatan otoritas ilahi dilibatkan agar tradisi itu mempunyai kewibawaan dalam mengatur kehidupan masyarakat. Masyarakat pun menghayati perayaan tradisi itu dengan penuh khitmat. Mereka meyakini upacara tradisi suci itu merupakan perayaan dua dimensi yang bersatu, yakni manusia dan ilahi. Oleh karena itu, perayaan itu dirayakan dengan penuh kesungguhan hati.

Gambaran perayaan korban pada umat Allah itu menggambarkan sebuah rekonsiliasi manusia yang berdosa. Kesadaran manusia mengakui dosanya itu harus diselesaikan dengan upacara suci melalui tradisi. Perjanjian Lama menggambarkan bahwa manusia harus mengorbankan hewan sebagai silih atas dosa. Darah korban itu menjadi tanda rekonsiliasi antara manusia dengan Allah. Manusia setiap tahun mengadakan korban ini sebab manusia tidak pernah bisa luput dari dosa. Oleh karena itu, mereka kembali mengadakan rekonsiliasi melalui darah korban seperti yang digambarkan dalam Kitab Imamat.

Yesus hidup dalam kultur Yahudi, dengan sendirinya Ia mengikuti ritual-ritual yang telah berjalan berabad-abad sejak zaman Abraham. Seturut perjalanan waktu, tradisi itu berkembang dengan dimaknai secara baru pula.

Sabtu itu Paijo, Paimin, dan Parmin diundang di rumah pak RT untuk mengadakan upacara syukuran. Peristiwa syukuran ini ditandai dengan menyembelih kambing. Cara ini ada kemiripan pada peristiwa yang digambarkan pada Kitab Imamat, namun mempunyai perbedaan makna. Penyembelihan kambing di rumah pak RT itu menandai adanya syukuran atas keluarga besar RT di kampung itu. Pak RT mengundang semua warga untuk bersyukur bersama.

“Kesempatan tidak bisa ditolak,” seru Paijo setelah mendapat kabar sukacita itu.

“Wahhhhh, memang rezeki tidak ke mana-mana,” kembali Paijo berkata lirih sambil senyum-senyum seraya memberi makan kepada kambing-kambingnya.

“Embekkkkk, embekkkk,” kambingnya seakan tahu bahwa Paijo sedang gembira.

“Ahhhhhh, kamu KEPO aja,” seru Paijo sambil pegang kepala kambing yang sedang makan rumput di kandang itu.

Rasa senang itu tidak bisa diungkapkan lagi. Ini peristiwa yang selalu ditunggu sebab rasanya jarang makan enak selama ini. Makan enak harus menunggu ada peristiwa semacam ini, termasuk syukuran dengan memotong kambing. Acara syukuran biasa dilakukan sore hari sekitar pukul 19.00. Jadi Paijo sengaja seharian tidak makan biar nanti malam bisa makan banyak. Keinginan Paijo ini memang sudah menjadi modus anak-anak muda di kampung itu.

Menjelang sore hari, Paijo leyeh-leyeh untuk tidur sejenak seraya menunggu acara undangan di rumah Pak RT. Sejenak Paijo tertidur terlelap. Ia menikmati tidur seraya menunggu acara sore. Dalam tidurnya Paijo bermimpi pesta di rumah Pak RT dengan makan gule kambing yang telah disembelih siang tadi. Pesta yang penuh dengan kegembiraan saat semua orang berkumpul bersyukur atas karunia Tuhan yang telah dilimpahkan kepada RT ini. Terutama semua bersyukur atas bencana yang telah bisa dilewati bersama. Kegembiraan itu makin meriah saat disajikan organ tunggal untuk menghibur semua yang hadir dalam pesta itu.

“Min, Paimin, kok tumben Paijo belum datang,” seru Parman yang sedang asik ikut joged di antara masyarakat di RT itu.

“Mungkin, di belakang sedang membuat minum,” jawab Paimin sambil meneruskan jogetnya.

Parman dan Parmin pun terlarut dalam kegembiraan pesta itu, sehingga mereka tidak lagi memperhatikan Paijo. Setelah pesta selesai Parman dan Paimin menyadari bahwa Paijo memang tidak hadir dalam syukuran itu. Serentak mereka membawa makanan yang sudah dimasukkan ke saku secara diam-diam. Setelah semua selesai, Parman dan Paimin menuju ke rumah Paijo. Sesampai di rumah Paijo, rumahnya gelap gulita karena lampu juga belum dinyalakan. Takut terjadi apa-apa, Parman dan Paimin segera masuk ke rumah Paijo.

“Ahhhhhh, Jo. Paijo, bangun,” seru Parman dan Paimin serentak. Paijo pun kaget dan melompat dari tempat tidurnya. Ia segera menyalakan lampu dian-nya, kemudian ia segera berganti baju. Sangkannya Parman dan Paimin menghampirinya untuk pergi ke rumah pak RT bersama.

“Sebentar, saya ganti baju,” seru Paijo.

“Mau ngapain ke rumah Pak RT?” tanya Parman.

“Lhooo, kan kita pesta syukuran untuk makan kambing,” jawab Paijo seraya sisiran.

“Wkwkwkwkwkwkw,” Parman dan Paimin tertawa serentak.

“Kenapa tertawa,” seru Paijo curiga.

“Joooo, Paijooooo. Kami baru pulang pesta dari rumah pak RT. Kamu tidak kelihatan, maka selesai pesta kami ke sini. Jadi pestanya sudah selesai,” seru Parmin.

“Ahhhhhhh, mati deh aku, batal makan gule kambing donk,” seru Paijo sedih.

“Jadi, tadi saya ketiduran dan mimpinya sudah ikut pesta, ternyata hanya dalam mimpi. Waduhhhhh, padahal dari pagi sengaja tidak makan. Hikkkk, ternyata ketiduran,” seru Paijo melas.

“Tenang Joooo, ini kami sudah mengambil beberapa makanan dan kami masukin saku. Awalnya mau kami bawa pulang. Melihat kamu tidak hadir, makanan untukmu,” seru Parman mewakili Parmin.

“Hikkkkkk, terima kasih yaaa, lumayan masih bisa makan kue, satu potong. Batal makan gule kambing,” seru Paijo melas sekali.

“Joooo, Paijo. Dasar wong deso,” seru Parman dan Paimin menertawakan Paijo yang sedang bersedih merayakan syukuran dalam mimpi heeeeeee.

 

Penulis: RD Nikasius Jatmiko | Editor: Bernadus Wijayaka

Leave a Reply

Top