Anda di sini
Beranda > Kabar Terkini > Pembelajaran di Balik Kesengsaraan

Pembelajaran di Balik Kesengsaraan

[KATEDRAL] Tahun baru sering menjadi momen yang tepat untuk memulai sesuatu yang baru. Waktu tersebut biasanya dimanfaatkan orang-orang untuk menyusun resolusi dan rencana ke depan. Dan dalam Misa Malam Tahun Baru di Gereja BMV Katedral, Rabu (31/12), umat juga diajak bersatu dalam perenungan.

Pada misa pukul 19.00 WIB tersebut, RD Paulus Haruna sendiri berbagi perenungan pribadinya kepada umat. Mulai dari momen gembiranya dalam merayakan ulang tahun presbiterat ke-40, hingga pengalaman kecelakaan motornya pada awal tahun 2025. Meski tentunya bukan kejadian yang menyenangkan, tidak dimungkiri ia mendapat pembelajaran yang berkesan darinya.

Dalam misa yang juga didampingi oleh konselebran RD Alfonsus Sombolinggi tersebut, ia mengenang kembali memorinya dari bulan April itu. “Saya terlempar jauh, jatuh ke jalan raya. Sudah seperti adu banteng, yang saya rasakan sangat dahsyat,” ceritanya.

Ia bercerita, penyertaan Tuhan dalam kejadian kecelakaan itu layaknya kisah Nabi Yunus. Yunus dahulu dilempar ke laut dan ditelan ikan paus. Meski mendapat “celaka”, ia berdoa dan bertobat selama tiga hari lamanya. Yunus berakhir dimuntahkan ke daratan dan selamat. Sebagaimana Yunus yang tidak mati, Pastor Paroki BMV Katedral tersebut pun tidak mati. Allah menyertai dan masih memiliki rencana untuknya.

Romo Haruna pun disadarkan, masih ada orang-orang baik di muka bumi ini. ”Ketika saya terkapar di jalanan, banyak orang langsung menolong dan menuntun saya,” tuturnya. Semua itu dilakukan tanpa ada pertanyaan soal identitas atau latar belakang. Ketulusan mereka terpancar, layaknya orang baik dari Samaria.

Jatuh dan Bangkit

Mengilas balik kejadian setahun ke belakang, tentu ada beragam kejadian yang telah terjadi dalam hidup masing-masing umat. Tentu saja ada kejadian manis hingga pahit, karena mustahil hidup hanya diisi dengan momen bahagia.

Dalam momen menyambut tahun yang baru, Romo Haruna mengingatkan, ”Apa yang Tuhan berikan mungkin kadang membuat kita terpuruk, tapi Tuhan tidak pernah lupa: siapapun yang taat pada-Nya, pasti Tuhan selamatkan.”

Pada akhirnya, penderitaan dan kesengsaraan adalah sebuah keniscayaan hidup. “Jangan merasa paling sengsara. Setelah menderita, bangkit!” pesan Romo Harun, memberi peneguhan pada para umat.

Dalam pesan terakhirnya, pastor yang gemar bermain sepakbola itu mengingatkan umat untuk mengambil waktu hening sejenak untuk merenung. ”Syukurilah yang telah lewat. Yang baik, yang tidak baik, yang malang. Karena itu cara kerja Tuhan. Jangan takut, karena Tuhan menyertai,” pungkasnya.

Selamat tahun baru, Sobat BMV!

Penulis: Celine Anastasya | Editor: Aloisius Johnsis

Leave a Reply

Top