Anda di sini
Beranda > Artikel > Refleksi Minggu Palma: Memilih Pemimpin Berkualitas Bentuk Cinta akan Allah dan Kemanusiaan

Refleksi Minggu Palma: Memilih Pemimpin Berkualitas Bentuk Cinta akan Allah dan Kemanusiaan

Merayakan Minggu Palma merupakan pintu masuk bagi semua umat katolik untuk merenungkan secara mendalam dan khusus arti hidup memilih Kristus sebagai pemimpin dalam hidupnya. 2019 ini perayaan tersebut hampir bersamaan dengan hajatan 5 tahunan yang mesti dilakukan oleh semua umat Katolik sebagai warga negara Indonesia yang mempunyai hak untuk memilih para pemimpinnya dalam hidup bernegara dan berbangsa. Maka tindakan untuk memilih presiden, wakil presiden serta anggota legislatif mesti menjadi bagian aktualisasi imannya, karena memilih pemimpin yang berkualitas adalah bentuk nyata dari cinta akan Allah dan kemanusiaan. Disinilah iman itu mendapat konteksnya yang amat aktual.

Tindakan beriman adalah tindakan secara sadar dan bertanggung jawab memilih seorang andalan yang mewarnai hidup seseorang. Sebagai orang Katolik, kita telah memilih tokoh Yesus Kristus sebagai pemimpin kita. Dia adalah pemimpin yang menggerakkan kita untuk menentukan pilihan-pilihan politis yang benar, komitmen sosial yang tulus, prilaku berkebangsaan dan berke-Indonesiaan (konteks kita umat katolik Indonesia), serta menghargai martabat manusia dan alam semesta yang tidak boleh dieksploitasi demi kepentingan keserakahan politis, keserakahan ekonomis, serta keserakahan ideologis. Keserakahan pada intinya adalah roh yang menistakan martabat luhur manusia, mengabaikan kesejahteraan bangsa dan keamanan hidup bersama.

Bacaan liturgis pada Minggu ini menuntun kita untuk mengakui bahwa Yesus Kristuslah pemimpin kita. Dia adalah yang terberkati yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan (Luk 19:38). Dialah figur seorang pemimpin yang datang sebagai Raja damai. Nabi Yesaya memperjelas kualitas kepemimpinan Yesus (Yes 50:4-7). Dia adalah Tuhan yang memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Dia adalah figur pemimpin yang memberikan pertolongan dan tindakan pertolongan itu dirasakan serta dialami secara konkret oleh orang yang dipimpinnya. Maka orang mengakui dengan berkata: “Tuhan Allah menolong aku” (Yes 50:7).

Belajar dari Kepemimpinan Yesus

Rasul Paulus (Lih. Filp 2:6-11) menyampaikan keyakinan pribadinya prihal gaya kepemimpinan Yesus Tuhan kita. Dia bukan figur pemimpin yang merendah-rendahkan orang lain atau yang memandang dirinya tinggi. Dia justru pemimpin yang bersolider dengan kita manusia yang sedang bertarung dan bekerja tulus dalam pergumulan hidup yang riil. Dia pemimpin yang bukan mengumbar janji-janji pemecahan persekutuan, memilah-milah sesama manusia demi kepentingannya. Sosok Yesus adalah pemimpin yang berkualitas cinta akan Allah dan kesejahteraan manusia yang siap bertarung bersama para pengikutnya apapun tantangannya.

Yesus bahkan siap mengurbankan dirinya sampai ke tingkat pengurbanan yang paling luhur yakni menyerahkan hidupnya demi kebahagiaan dan kesejahteraan bersama. Merasakan dan memahami kepemimpinan Yesus, maka Paulus mengkampanyekan Kristus kepada umat di Filipi dan tentu saja kepada kita umat Katolik Indonesia dengan pernyataan imannya: “Yesus Kristus adalah Tuhan” (Filp 2:11). Dialah Mesias, yang membawa penyelamatan umat manusia dan alam semesta ini.

Kualitas kepemimpinan Yesus yang cinta akan Allah dan umat manusia itu berbenturan dengan arus rendah nafsu kemanusiaan kita, bertentangan dengan arus kehausan berkuasa dan kongkalingkong politik kepentingan para tokoh agama, ahli taurat, serta orang-orang kebanyakan yang kena hasutan para pembenci kepemimpinan yang baik dan berprikemanusiaan (Bdk. Luk 23:18-23).

Kepemimpinan seorang Yesus mengarusutamakan pengabdian kepentingan keselamatan semua manusia, Ia mengakui keberbedaan antarmanusia yang patut dihargai dan disuburkan.

Tokoh Yesus tetaplah konsisten dengan agenda keselamatan seluruh umat manusia dan alam semesta ini, selaras dengan desain kasih Allah Bapanya. Banyak orang yang simpatik dengan kepemimpinan Yesus. Para wanita Yerusalem menghibur Dia (Luk 23:27-28). Bahkan kepala pasukan mengakui kehebatan tokoh Yesus yang siap mengampuni siapapun: “Sungguh, orang ini adalah Putra Allah” (Mrk.15: 39)

Merayakan Minggu Palma dan memasuki Pekan Suci boleh dikatakan sebagai kesempatan kita mempertegas kembali keputusan kita untuk memilih pemimpin yang sejati, bukan saja dalam konteks hidup beriman kita, tetapi terutama dalam konteks kehidupan berbangsa dan bermasyarakat Indonesia.

Ada calon pemimpin negara kita yang berusaha menjalankan pengabdian kepemimpinannya selaras dengan semangat Yesus. Maka kita memilih, mendukung, dan meneguhkan pemimpin seperti itu. Selamat memasuki Pekan Suci dan selamat menjalankan kewajiban mulia memilih pemimpin bangsa Indonesia, negara kesatuan yang kita cintai bersama.

(Monsinyur Paskalis Bruno Syukur, OFM)

Leave a Reply

Top