Anda di sini
Beranda > Kabar Terkini > Katolik

Katolik

Kisah Rasul 11:26 “Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.”

Naik kereta menjadi sebuah impian bagi Paijo, anak kampung yang tidak mempunyai penghasilan tetap. Simbokpun sebagai tumpuan hidup tidak bisa memastikan apakah dia mampu  membeli tiket untuk sekedar naik sekalipun kelas yang paling rendah. Keinginan itu adalah sebuah angan-angan yang setidaknya pingin diwujudkan sekalipun benturan itu sudah pasti akan ada. Bunyi klakson kereta tua itu  terdengar dari rumah setiap pagi hari dan sore hari. Suara klakson kereta itu sangat kas sehingga itu selalu terngiang kapan Paijo bisa naik kereta itu.

            Sementara keinginan itu tersimpan dalam-dalam, teman-teman sebaya yang lebih baik perekonomiannya selalu bercerita betapa nyaman naik kereta. Pemandangan indah dan segala asesosi keindahan menjadi bumbu mereka bercerita. Deseran cerita itu masuk ke telingga dan menyayat hati, kenapa Paijo dilahirkan menjadi orang miskin. Naik kereta pun nampaknya akan menjadi sebuah angan. Hiburan selalu tergaung dalam hati, ketika mendengarkan kotbah pastor tiap kali misa. Para pastor selalu tidak henti-hentinya menekankan bahwa manusia tidak boleh putus asa, hendaknya menempatkan sebuah harapan selalu ada dalam diri setiap orang. Itulah kiranya angan yang didamaikan dengan hiburan rohani kala hari Minggu ke gereja.

            “Tooooot, Tottttttt”, suara itu selalu terdengar ketika kereta itu mau berangkat. Setidak jarak dari gereja dan stasion itu tidak jauh, sehingga angan itu terus terbentuk kapan saatnya bisa naik kereta itu. Angan itu terbentuk menjadi sebuah keinginan setidaknya itu akan menjdi bagiaan pengalaman hidup Paijo. Angan-angan itu terus terbentuk sehingga ketika suatu siang sedang tidur, terdangar suara “Toooottttt, Tootttt,” Paijo tergugah dan lari ke depan rumah tennyata mobil odong-odong yang biasa dipakai untuk anak-anak. “Ahhhhh, semprul,” keluh Paijo sambil tersenyum.

            Harapan memang pasti terbuka dan saatnya itu akan datang, demikian Paijo selalu menanamkan nilai positif dalam dirinya. Ketika siang itu Paijo sedang duduk-duduk, tiba-tiba romo Paroki datang berkunjung ke rumah. Kehadiran seorang pastor itu ibarat dewa dari langit yang harus ditempatkan lebih tinggi, begitulah orang tua saya mengajarkan. Pastor itu membawa beberapa teman mudika yang sedang mencari seorang lagi  yang mau mewakili pertemuan di paroki lain. Kebetulan paroki itu bisa ditempuh dengan kereta. “Byarrrrrrr, seperti lampu nyala setelah sekilian lama padam,” begitu perasaan Paijo muncul sekalipun belum tahu apakah dugaannya benar.

            “Waduhhhhh, romo selamat datang,” sambil menyapa romo dan beberapa mudika yang juga ikut dengan romo memakai mobil Pastoran yang jaman itu setiap orang pingin ikut naik.

            “Ya, Jo, Paijo, santai saja. Simbok mana?” tanya Romo Boni.

            “Ada di dalam romo, sebentar saya panggilkan,” seru Paijo

            “Mbok, Simbok,” seru Paijo hingga kedengaran sampai ruang depan.

            “Jo, Ada apa, kok teriak-teriak sepertinya senang sekali. Menik dan Yanti datang ya,” ledek Simbok.

            “Ahhhh, Simbok. Bukan. Itu di depan ada tamu agung,” seru Paijo.

            “Siapa. Biasanya kalau kamu seceria ini pasti ada Yanti dan Menik,” sahut Simbok sambil keluar menemui tamu itu.

            “Ohhhhhh, Romo Boni. Maaf romo, baru di belakang,” seru Simbok sambil menyalami romo Boni dan mudika yang ikut.

            “Maaf, mbok kedatangan kami membuat kaget,” seru Romo Boni.

            “Ohhhh, gak papa romo. Tapi maaf tidak ada makanan, sedikitpun,” seru Simbok seraya malu.

            “Tenang-saja Mbok. Ini saya hanya mau minta ijin, kami ini ada undangan pertemuan mudika selama bebrapa hari dalam bentuk camping. Kami sepertinya kurang peserta. Jadi kami ke sini mau minta ijin, Paijo ikut serta,” pinta Romo Boni dengan sepenuh hati.

            “Hmmmm, hmmmm,” Paijo hanya senyum-senyum belum mengasih jawaban seraya melirik Simbok.

            “Ya, apa Paijo bisa Romo?” tanya Simbok meragukan.

            “Ahhhh, Simbok. Ini bukan lomba, ini bukan pertandingan, tapi ini ajang pertemuan dengan paroki lain agar persaudaran kita semakin erat. Pasti disana ada teman baru,” jelas Romo Boni.

            “Yes, yes, yes,” Paijo berseru dalam hati, dengan mengerakkan tangannya tanda gembira.

            “Bagaimana Mbok, boleh kah?” tanya Romo Boni lagi.

            “Jo, Paijo. Kamu mau tidak?” tanya Simbok dengan harapan Paijo menolak.

            “Ya, saya, mau,” jawaban yang sudah disiapkan dari tadi.

            “Yaaaaa, kalau begitu………,” jawab Simbok masih belum percaya.

            “Tenang Mbok, Semua pasti akan baik-baik saja. jika boleh besok kami akan kami kumpulkan di Paroki untuk memberikan pembekalan,” seru Romo Boni.

            “Baiklah romo, jika Paijo mau dan dianggap mampu,” sahut Simbok sambil malu-malu. Karena memang Simbok itu orang yang sungkan mengatakan tidak. Bahkan tidak pernah mengajarkan untuk mengatakan tidak.

            Percakapan singkat itu akhirnya menjadi kesepakatan dan beberapa orang mudika akan berkumpul bersama di Pastoran esok harinya.

            Pagi seperti dijanjikan ada pertemuan pukul 9.00.Semua hadir sebab mereka  kebetulan pada libur sekolah, sementara Paijo libur gembalain kambing. Hari itu  digunakan pembekalan sebelum mereka pergi. Pada intinnya pertemuan itu akan diadakan di luar paroki, dan diadakan di luar kota. Mereka pun ternyata juga mengundang gereja lain agar persaudaran sesama pengikut Kristus semakin kuat. Pembekalan pagi itu setidaknya sebuah persiapan apa saja yang mesti dibawa dan apa yang mesti dipersiapkan. Intinya kekompakan kelompok harus menjadi perhatian utama. Pertemuan ini tidak ada lagi orang desa, orang kampung, atau orang kota, semua adalah sama, umat Allah.

            “Romo Boni, mau tanya,” seru Budi yang ditunjuk menjadi ketua kelompok mudika ini.

            “Kita ini katolik, tetapi kenapa di dalam Kisah Rasul disebut Kristen. Jadi kita itu Kristen katolik, katolik Kristen, atau apa?” tanya Budi

            “Ohhhhh. Teman-teman sekalian. Memang di dalam Kitab Suci itu tidak tertulis kata katolik, yang ada Kristen. Namun kita menyebut nama katolik, lalu bagaimana dijelaskan?” Demikian romo Boni memberikan pancingan pertanyaann.

            “Jadi sejarah mencatat bahwa nama Katolik itu pertama kali dipakai oleh santo Ignatius dari Antiokhia sekitar abad kedua. Jadi dari jasa beliau lah kita sekarang disebut Katolik,” seru romo Boni.

            “Ohhhhh, begitu,” seru para mudika serentak.

            “Jadi kita harus tetap menyebut orang katolik, kalau mau lengkapnya Katolik Roma, karena kiblat kita ada di Roma, tepatnya di Vatikan, yang dipimpin oleh Paus,” demikian Romo Boni memberikan gambaran.

            “Jadi kalian tidak perlu risau jika nanti ditanya kamu katolik tidak ada dalam Kitab Suci,” jelas Romo Boni.

            “Jadi intinya, Kalian menjadi utusan dari paroki ini, Kalian harus menunjukkan nilai yang terbaik menjalankan sebuah iman. Jadi jangan merasa minder dan jangan merasa arogan juga. Kalian harus tampil biasa saja dengan penuh kearifan,” jelas romo Boni.

            “Terus bagaimana kita berangkat ke sana?” kembali Budi bertanya

            “Kalian dari sini naik kereta dan di sana nanti sudah ada yang menjemput,” jelas Romo Boni.

            “Yessssss, akhirnya harapan saya terkabulkan,” seru Paijo dalam hati.

            “Jadi intinya kalian minggu depan harus sudah sampai ditempat itu, dan kembali lagi setelah acara selesai selama 3 hari 2 malam. Selebihnya silahkan bicarakan dengan kelompok apa yang mesti dipersiapkan,” demikan penjelasan Romo Boni.

            Selesai itu kami pun berkumpul sendiri seraya mempesiapkan diri untuk keperluan pertemuan itu. Hari mereka suka cita karena semua harapan terpenuhi terlebih Paijo. Merindukan naik kereta, akhirnya harapan itu bukan lagi sebuah angan tetapi akan menjadi kenyantaan.

            “Tuuuuuuuut tuuuuuuuut,” demikian senandung lagu itu dinyanyikan Paijo seraya pulang setelah selesai pertemuan.

            Kegembiarran Paijo itu pun dibawa sampai ke rumah. Bahkan seraya mengejek kambingnya, Paijo menyanyi tutttttt tuuuuutttt,” ledek Paijo.

            Sesetelah beberapa waktu Paijo pun tertidur lelap karena capai dan gembira. Iapun mimpi di siang bolong. Dalam mimpinya dia terbayang ingin naik kereta. Paijo dan teman-temannya pun masih berjalan menuju stasion. Ketika sampai stasion  kereta itu telah berjalan. Paijopun nangis karena tidak jadi naik kereta. Semakin kaget Paijo terdengar suara Toooootttt, Totttttt, seperti suara kereta. Paijo pun Lompat dari tempat tidur mengejar kereta itu. Batapa kagetnya Paijo yang dikejar tenyata suara odong-odong yang lewat di depan.

            “Wahhhhhh, Semprul, hanya mimpi, heeeeeeeee,” seru Paijo sambil mengusah air mata yang sudah terlanjur nangis pada waktu mimpi.

            “Jooooo, Paijo. Dasar wong deso, gak penah naik kereta. Odong-odong pun dikira kereta,” seru Paijo dalam hati seraya malu tersipu.

            “Embekkkkk embekkkkk,” gantian kambingpun ikut meledeknya.

(RD Nikasius Jatmiko)

Leave a Reply

Top