Anda di sini
Beranda > Nusantara > Bright 2019: OMK, Dipanggil dan Diutus

Bright 2019: OMK, Dipanggil dan Diutus

[CIKANYERE] Orang muda Katolik (OMK) sering kali identik dengan kehidupan yang dinamis, penuh semangat, dan serba cepat. Dunia digital yang semakin berkembang tidak dapat lepas dari orang muda. Mereka sangat akrab dengan dunia teknologi, bahkan merasa dibesarkan olehnya. Hal ini menjadi salah satu kegelisahan yang menjadi dasar kuat untuk Komisi Kepemudaan (Komkep) Keuskupan Bogor menggelar Bina Rohani dan Sinode Generasi Harapan Tuhan (Bright 2019), Jumat (5/7) sampai Minggu (7/7).

Pagi-pagi betul sekitar 700 OMK yang berasal dari paroki-paroki se-Keuskupan Bogor memadati Lembah Karmel Cikanyere. Selama 3 hari 2 malam mereka akan mengikuti pembinaan iman bertajuk “Hai Orang Muda Katolik, Allah Memanggil dan Mengutusmu”. Kesan orang muda yang hanya hura-hura dikesampingkan sementara waktu dan digantikan dengan orang muda yang dekat pada Kristus.

Bright 2019 dibuka dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur dengan konselebran Ketua Komkep Keuskupan Bogor RD Robertus Ari Priyanto, dan RP Klimakus CSE.

Dalam khotbahnya Bapa Uskup menyampaikan, kaum muda sebagai gereja masa kini dan masa depan harus saling mencintai satu sama lain. “Kita ini adalah orang yang diberikan bekal oleh Tuhan, dipanggil dan diutus untuk mencintai dan mangasihi. Itulah martabat dan kebanggaan kita sebagai pengikut Kristus,” katanya.

Lebih lanjut Bapa Uskup berharap agar OMK dapat merasakan keindahan hidup dengan bersyukur. “Bapa Paus sangat mencintai kaum muda begitu juga dengan Keuskupan Bogor. Semoga kaum muda juga senantiasa mencintai Gereja Katolik agar kalian bisa menjadi duta cinta dengan mencintai sesama,” ujarnya.

Sebagian besar materi dalam Bright 2019 dibawakan oleh para pastor, frater, dan suster dari CSE. Adapun beberapa materi yang disampaikan adalah bertumbuh dalam cinta kasih, mengenal imanku, dan aku dibimbing Allah.

Seluruh rangkaian kegiatan Bright 2019 ditutup dengan pentas budaya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Beberapa daerah yang dipentaskan diantaranya Jawa Tengah, Sumatera, Jawa Barat, Bali, dan masih banyak lagi.

Pembinaan iman ini ditutup dengan ekaristi yang dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor RD Paulus Haruna dengan konselebran beberapa imam di Keuskupan Bogor.

“Bagaimana setelah mengikuti Bright 2019? Semoga ada perubahan yang positif di dalam diri kita semua. Apa yang baik kita bawa pulang dan bagikan kepada teman-teman muda di paroki,” harap Romo Haruna.

Senada dengan Vikjen, Romo Ari juga berharap para OMK yang terlibat dalam Bright 2019 dapat terus menghidupkan komunitas OMK di paroki masing-masing. “Setelah dari sini kembalilah ke paroki masing-masing dan hidupkan dengan berbagai karya positif yang kreatif,” tutupnya.

Bright 2019 mengingatkan OMK bahwa pelayanan tidak sekadar kegiatan yang menyenangkan jasmani saja, tetapi juga sisi rohani sebagai pengikut Kristus.

Semoga ke depan, OMK tidak lagi identik dengan hura-hura, tetapi para pengikut Kristus yang menujukkan identitasnya dengan karya positif bagi banyak orang.

(Agnes Marilyn/AJ)

2 thoughts on “Bright 2019: OMK, Dipanggil dan Diutus

  1. Selalu inget gimana rasanya pas nyanyi bareng puji² an bareng dimana saat yg bikin merinding pas 700 OMK pegangan tangan rangkul² an nyanyi tepuk tangan barengan loncat² bareng moment yang ga akan terlupakan sepanjang idup

    1. Wih, sangat menyenangkan ya ka! Semoga pengalaman yang diperoleh dapat selalu hidup dan kita hidupi ya.

Leave a Reply

Top