Anda di sini
Beranda > Kategorial > Bersama KOMPAK, UBK Menjejakkan Kaki di “Bukit Golgota”

Bersama KOMPAK, UBK Menjejakkan Kaki di “Bukit Golgota”

Itu tubuh  mengucur darah
Mengucur darah
Rubuh dan patah
Itu peluh bercampur darah
Bercampur darah
Rebah di tanah
Cawan itu diminumnya
Selesai sudah

Satir dan heroik, itulah dua kata yang bisa melukiskan penderitaan Yesus di kayu salib. Jatuh bangun berulang kali karena beratnya memikul salib. Dicambuk, didera, dianiaya tanpa tahu dosa apa yang diperbuatnya. Namun tanpa mengeluh Dia rela melakukannya. Semua dijalaninya demi cintanya pada manusia. Hal ini sekaligus juga menginspirasi manusia bahwa tak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Tidak ada kebahagiaan tanpa penderitaan. Tidak ada kebangkitan tanpa kejatuhan. Tidak ada kehidupan tanpa kematian.

Refleksi jalan salib juga menjadi inspirasi bagi umat berkebutuhan khusus (UBK). Terutama ketika mereka harus jatuh bangun melewati kesulitan hidup. Berkaca dari sengsara Yesus, UBK memaknai keterbatasan yang mereka sandang sebagai salib yang harus dipikul. Salib dipandang sebagai jalan untuk memperoleh keselamatan.

Ada rasa haru yang menyelinap di hati para UBK tunanetra ketika menapaki jalan naik turun menuju ke “Bukit Golgota” Kanada Rangkasbitung.

Meski berjalan lamban karena harus dituntun, semangat mereka dalam memaknai jalan salib tergolong tinggi. “Sepuluh tahun lalu saya masih bisa melihat. Jadi ketika melakukan jalan salib masih bisa jalan sendiri. Sekarang harus dituntun. Tapi tidak masalah, saya merasakan sukacita,“ ungkap Frans Budi (55), seorang tunanetra. Billy (44) terkesan dengan acara ziarah ini. “Saya hanya bisa merasakan udara di sekitar lokasi jalan salib. Saya merasa berada di tengah hutan,“ ujar pria yang mengaku kali pertama berziarah ke Gua Maria Kanada Rangkasbitung. Sedangkan Bagus (22) mengaku senang bisa berziarah bersama KOMPAK. “Saya berharap KOMPAK rutin melakukan acara seperti ini,” ujarnya.

Tak hanya UBK, sukacita juga dirasakan oleh pembakti. Veronica Artha Dwijayanti (Tata) sejak semalam sudah mempersiapkan diri untuk berziarah. “Semalam saya malah kurang tidur karena ingin segera berziarah bersama teman-teman. Ada perasaan haru bercampur sukacita bisa berziarah bersama pembakti dan UBK,“ tuturnya.

 Ziarah ke Gua Maria Kanada Rangkasbitung pada Kamis, (30/5) tesebut diikuti sekitar 60 pengurus dan anggota KOMPAK, terdiri dari pembakti, UBK tunarungu, dan tunanetra.

Perdalam Iman

Ketua KOMPAK Sheny Chaniaraga mengungkapkan, ziarah dimaksudkan untuk memperdalam iman pembakti dan UBK. “Sesuai dengan tujuan KOMPAK, UBK dan pembakti berjalan bersama menuju Tuhan. Kita berharap akan ada ziarah-ziarah berikutnya,” katanya.

Selain melakukan jalan salib, para peserta juga mengikuti misa bersama dan berdoa di Gua Maria. Acara juga diselingi dengan games berhadiah. Suasana keakraban terasa ketika peserta berangkat dan pulang  bersama. Sepanjang perjalanan menggunakan kereta api, tawa canda mewarnai perjalanan ziarah.  

(Jam)

Leave a Reply

Top