Anda di sini
Beranda > Nusantara > Usai Pemilu, Gereja Ngobrolin Indonesia

Usai Pemilu, Gereja Ngobrolin Indonesia

Sudah menjadi kodrat negara Indonesia, lahir sebagai bangsa yang beragam dan diikat dengan sumpah persatuan. Adakah fakta ini bisa diterima atau masih diragukan?

Ibarat suara gong ditabuh, pesan-pesan yang saling dipertukarkan oleh narasumber maupun peserta dalam Talkshow Era Digital pada Minggu (26/5) lalu seakan membangunkan dan mengingatkan lagi kenyataan keberagaman Indonesia.

Talkshow dengan narasumber Pandji Pragiwaksono ini dihadiri juga oleh Uskup Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur, Pastor Paroki BMV Katedral Bogor RD Dominikus Savio Tukiyo, dan Direktur Informasi dan Komunikasi Politik, Hukum, dan Keamanan Kementerian Komunikasi dan Informatika Bambang Gunawan.

Bagi sebagian masyarakat, nama Pandji sudah cukup dikenal sebagai seorang penyiar, aktor, penulis, dan stand up komedian yang giat melakukan tour di lima benua, mengajak para mahasiswa Indonesia kembali mengabdi pada negeri. Tema-tema tentang Indonesia dan kebangsaan sering ia bawakan. Masa sekolahnya di Kolese Gonzaga membuatnya terbiasa hidup dalam keragaman dan toleransi. Kisahnya ketika wawancara penerimaan masuk sekolah dengan pastor kepala berhasil memecah tawa seisi Aula Pusat Pastoral Keuskupan Bogor, yang dipenuhi sekitar 320 orang muda dan umat dari berbagai paroki di Keuskupan Bogor.

(kiri-kanan) Ketua Panitia Aloisius Johnsis, Uskup Bogor Monsinyur Paskalis Bruno Syukur OFM, Pastor Paroki BMV Katedral Bogor RD Dominikus Savio Tukiyo. Foto: Dok. Panitia TED

Setelah Pemilu Mau Ngapain?

Menjadi seorang warga negara yang baik tidak cukup hanya ikut mencoblos dalam kegiatan pemilihan umum. “Mencintai Indonesia harus memiliki makna yang lebih dalam. Keseharian sesudah proses pemilihan umum harus diisi dengan karya,” kata Ketua Panitia Talkshow Era Digital Aloisius Johnsis.

Ia melanjutkan, karya yang diberikan bagi Indonesia tidak harus yang besar, melainkan melalui hal-hal sederhana namun konsisten dan persisten.

Senada dengan pernyataan tersebut, Uskup Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur sebagai pembicara pembuka juga menegaskan bahwa kita semua dapat memberikan sumbangsih kepada negara ini melalui kerja keras. Sambil mengutip pidato istri presiden ke-4 Amerika Serikat Michelle Obama, Bapa Uskup mengingatkan bahwa upaya yang dapat membuat negara ini maju adalah melalui kerja keras dan pendidikan.

Oleh karena itulah Gereja mendukung perhelatan yang diselenggarakan oleh Seksi Komsos Paroki BMV Katedral ini sebagai sarana untuk memfasilitasi anak-anak bangsa agar memiliki harapan bahwa mereka bisa turut berpartisipasi aktif untuk bangsa dan negara. “Anda memiliki kemampuan untuk membuat Indonesia ini lebih baik,” pungkas Bapa Uskup.

Berkarya VS Bekerja

“Indonesia itu ajaib. Terpisah laut, mencar dalam berbagai pulau, tapi negaranya satu,” Pandji membuka sesi pertama dengan mengenali kembali makna Indonesia. “Orang-orang lintas pulau bertemu di Kongres Pemuda dan melahirkan Sumpah Pemuda. Gerakan yang dipicu oleh orang muda dan dilanjutkan oleh orang tua.” Dr. Sutomo masih berusia 20 tahun kala mendirikan Budi Utomo, begitu pula WR Supratman masih remaja saat menciptakan lagu Indonesia Raya. Betapa orang muda memiliki pengaruh. Kegiatan pemuda barangkali tidak terasa pada waktu itu, atau bisa saja dipandang remeh, tetapi ketika kita menoleh ke belakang baru terasa bahwa kemerdekaan Indonesia terjadi atas peran anak muda.

Bagaimana dengan orang muda masa kini? Pandji mengangkat suatu kutipan dalam pidato Moh. Hatta yang masih relevan hingga sekarang, “Hanya satu negeri yang menjadi negeriku, ia tumbuh dengan perbuatan dan perbuatan itu adalah usahaku.” Dengan perkataan lain, menjadi orang Indonesia berarti memberi sesuatu untuk Indonesia, dan itu melalui karya. Berkarya dan bekerja tidak selalu memiliki makna yang sama, maka yang dimaksud Pandji ketika mengajak anak muda adalah agar memiliki mentalitas berkarya (passion) dalam bekerja.

Bicara tentang berkarya, Pandji memberikan beberapa tips kepada siapa saja yang mau berkarya.

  • “Kamu akan selalu punya waktu. Gunakan jam tangan bukan untuk mengetahui waktu, tetapi mengatur waktu. Bila cita-citamu layak diperjuangkan, kamu akan berjuang dan berkorban. Waktu dan uang bukan penghalang.
  • Karya tidak membutuhkan pengakuan orang lain. Ketika ia lahir dari gagasanmu hingga menjadi sesuatu, misalnya barang ataupun ide kebijakan di kantor, itulah karya. Jika orang lain tidak suka, itu karena seleranya tidak sama denganmu.
  • Tidak perlu takut dengan netizen. Risiko anak muda jaman dulu adalah maut, risiko jaman sekarang adalah malu. Tidak masalah bila jelek atau gagal, sabarlah dengan prosesnya.
  • Jangan mudah merasa benar dibandingkan orang atau pandangan lain. Kita perlu berdialog, saling mengenal, dan banyak berteman.
  • Gunakan media sosial dengan bijak, seolah-olah semua orang follow kita sehingga kita akan menjaga ucapan dan perasaan orang lain.
  • Event + reaction = result. Kejadian tidak bisa kita kontrol, tetapi hasil akhir bisa diciptakan agar sesuai harapan, yakni dengan mengontrol reaksi kita terhadap kejadian tersebut.”
Pandji Pragiwaksono bersama seluruh peserta melakukan selfie. Foto: Dok. Panitia TED

Diawali dengan Kontroversi, Diakhiri dengan Selfie

Kehadiran Pandji sebagai narasumber sebenarnya diawali dengan kontroversi mengingat pria yang lahir pada 18 Juni tersebut pernah memiliki pandangan politik yang berbeda dengan kebanyakan umat Katolik di Bogor.

Hal ini diketahui dari salah satu pertanyaan yang diungkap oleh seorang ibu di acara temu wicara tersebut. Menjawab pertanyaan sang ibu yang khawatir bahwa negara Indonesia akan diubah menjadi negara berbasis keagamaan, Pandji menjawab bahwa hal ini terjadi karena saat ini pintu kebebasan dibuka lebar. Bila pada zaman Orde Baru, keseragaman dirayakan hanya pada tingkat seremonial belaka, sedangkan saat ini semua orang dapat menunjukkan “warnanya”, sehingga aspirasi apa pun diungkapkan ke ruang publik dengan bebas, termasuk ide pendirian khilafah. Padahal menurut Pandji, ide ini pun masih kontroversial dan tidak disetujui oleh kebanyakan umat muslim di Indonesia.

Pandji juga mengajak para peserta untuk mulai berpolitik tanpa mendiskreditkan pihak lain. “Narasi orang baik dan orang jahat yang didengungkan dalam kampanye pemilihan umum lalu sebenarnya berpotensi sebagai akar perpecahan. Seharusnya masyarakat Indonesia kini mulai meninggalkan tendensi berpolitik dengan sifat tersebut bila ingin Indonesia berdiri untuk selamanya,” paparnya.

Kehadiran Pandji di Aula Pusat Pastoral ternyata telah menarik animo banyak anak-anak muda dan orang tua. Acara yang singkat tetapi penuh makna itu pun ditutup oleh perayaan meriah ala anak muda, selfie dengan narasumber berusia 39 tahun tersebut. 

Acara Talkshow Era Digital merupakan kontinuitas acara yang diselenggarakan Komsos Paroki BMV Katedral Bogor sejak Festival Komsos I 2015 sebagai wadah perjumpaan umat dan Festival Komsos II 2017 sebagai wadah perjumpaan umat lintas iman. Acara ini turut dimeriahkan oleh BMV Youth Choir dan violis Celine.

(Mia Marissa/Ari Sudana)

One thought on “Usai Pemilu, Gereja Ngobrolin Indonesia

Leave a Reply

Top