Anda di sini
Beranda > Kategorial > WKRI Gelar Talkshow Antikekerasan

WKRI Gelar Talkshow Antikekerasan

[PUSPAS] Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang BMV Katedral Bogor menggelar Talkshow Antikekerasan bertema “Kasihi dan sayangi aku karena aku berharga” di Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Bogor, Minggu (14/2). Sekitar 200 orang pelajar dari sekolah Katolik se-Kota Bogor, para guru pendamping, anak-anak asrama, mahasiswa, OMK dari wilayah-wilayah, komunitas Lektris, peserta dewasa dan anggota WKRI, hadir acara tersebut.

Talkshow ini diharapkan agar setiap orang tidak melakukan tindak kekerasan dan mewaspadai serta menjaga diri agar tidak menjadi korban kekerasan dimana pun dan oleh siapa pun. Betapa rawannya tindakan perampasan hak tersebut dan tidak semua orang menyadari jika tindakan melanggar hak asasi manusia itu dapat terjadi dan dilakukan oleh siapapun. Vikaris Judisial Keuksupan Bogor RD. Yohanes Driyanto dan Pakar Psikologi Ani Fegda memberikan pencerahan dan pemahaman tentang perlunya menolak kekerasan baik sebagai pelaku maupun korban. Selain itu dihadirkan pula Anton Wuisan dari Universitas Katolik Atma Jaya sebagai fasilitator.Menurut Romo Driyanto kenapa orang-orang sekarang ini cenderung mudah marah, cepat patah arang bahkan depresi dan mudah melakukan tindak kekerasaan? Salah satu penyebabnya karena sebagian besar dari mereka biasa diperlakukan dengan tanpa kasih sayang. “Jika setiap orang merasa disayangi, maka dia tidak akan melakukan hal tidak baik tehadap sesamanya. Merasa disayangi adalah faktor  utama bagi seseorang menampilkan dirinya melalui sikap dan tingkah laku  kesehariannya. Harta, ketenaran, jabatan, kecantikan dan ketampanan bukan sebagai ukuran manusia merasa berharga dan berarti bagi lingkungan, tetapi rasa disayangi itulah yang akan menjadi hal terpenting bagi setiap orang,” ungkap Romo Driyanto.

Ani Fegda menyoroti dari  pandangan Psikologi. Dia mengatakan, modal utama dalam kehidupan adalah Kasih. Jika setiap orang mempunyai kasih, maka dia akan dapat memberi kasih kepada orang lain. Dia juga mengatakan ada beberapa penyebab kekersan, di antaranya motif, harapan, nilai-nilai, dan norma etika serta sumber-sumber daya. Terganggunya motif, disebabkan oleh biologis, psikologis, sosial dan teologi. Kemudian yang bepengaruh pada harapan, jika seseorang terganggu pada kesejahteraanya, status sosial dan prestasi. Nilai dan norma kelurga juga mengalami gangguan karena adanya penggunan gadget yang tidak sesuai fungsi dan manfaat, etiket yang tidak baik, tidak memiliki lagi sikap hormat dan menipisnya kedisiplinan.  Dari beberapa unsur itulah, mengakibatkan sering terjadi sulitnya komunikasi, saling menyayangi dan menghormati. Kejadian tersebut dapat terjadi pada hubungan orangtua dan anak atau kepada suami dan isteri.

Menyoal tentang orang muda saat ini  sering pula terjadi pelanggaran hak seseorang, pemaksaan, dan pengancaman khususnya bagi sepasang muda yang sedang menjalin hubungan asmara. Sikap kasmaran yang berlebihan, mengakibatkan kecemburuan berlebih pula sehingga sering mengakibatkan rasa tertekan bagi orang muda. Oleh sebab itu, Bu Ani berpesan, hindari kekerasan karena kita berharga, bermakna dan mempunyai kemampuan untuk mencintai dengan tulus dan akan tumbuh secara penuh kasih sayang. Diakhir acara, panitia mengatakan WKRI mengajak agar para pelajar, OMK dan semua peserta dapat mewujudkan kasih sayang yang tanpa pamrih kepada sesama karena semua jiwa adalah berharga. Pastor Paroki Katedral RD. DS Tukiyo menambahkan semua manusia berharga karena merupakan ciptaan Tuhan, namun manusia terkadang rapuh terhadap tawaran atau godaan sehingga rentan melakukan pelanggaran. Sebagai ciptaan Allah, kata Romo Tukiyo, seharusnya saling menghargai satu sama lain.

(YC)

Leave a Reply

Top