Anda di sini
Beranda > Artikel > Tegas Menolak LGBT

Tegas Menolak LGBT

Bukan hal yang mengejutkan lagi bahwa saat ini manusia hidup di era modern memberikan begitu banyak informasi. Kehidupan artis yang mengubah jenis kelamin, pengesahan pernikahan sesama jenis di negara lain, video yang mengandung pornografi, dapat dengan mudah di ketahui, entah dengan mencari tahu atau informasi itu datang begitu saja. Bukan hanya orang dewasa, tetapi remaja dan anak-anak mudah mengakses bermacam informasi. Ini yang menjadi keprihatinan manakala hal tersebut memengaruhi perkembangan pribadi anak dan remaja, khususnya berkaitan dengan orientasi seksual. Sebagaimana mengutip pernyataan Uskup Paskalis Bruno Syukur, masalah remaja merupakan masalah yang strategis.

Paroki BMV Katedral Keuskupan Bogor melalui Seksi Pendidikan, Wanita Katolik RI, dan Sie Kerasulan Keluarga menggelar talkshow bertajuk “Lebih MencintaiNya Meski Dunia Semakin Menggoda”. Sekitar 250 orang peserta dari berbagai kelompok usia memenuhi Aula Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Bogor, menandakan besarnya perhatian umat terhadap isu ini. Mereka, sebagian besar adalah remaja SMA, SMP, mahasiswa, bahkan ada pula anak-anak. Sebagian peserta lainnya adalah pasutri, suster, guru, dan orang dewasa lainnya. Hadir sebagai narasumber Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Bogor RD Alfonsus Sutarno dan Ani Fegda seorang Psikolog yang banyak berkecimpung dalam dunia anak dan remaja.

Sikap Gereja

Homoseksualitas atau pembahasan mengenai LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) mencuat menjadi topik hangat sejak dua tahun terakhir, terutama ketika negara Amerika, mengesahkan pernikahan sejenis. Adakah dampaknya pada masyarakat Indonesia? “Mudah bersikap pro pada LGBT atas dasar hak asasi manusia, karena kalau tidak, dianggap tidak ikut trend,” demikian Ani Fegda menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Oleh karenanya dalam talkshow, RD Alfonsus Sutarno memberikan landasan dari perspektif ajaran dan iman Katolik dalam memahami seksualitas, sementara Ani Fegda melengkapi dengan penjelasan psikologis mengenai perkembangan remaja, pola asuh orangtua, dan pembekalan diri remaja dalam bergaul.

Isu homoseksualitas yang semakin sering didengar atau semakin dekat dalam hidup keseharian sangat mungkin menggoda seseorang untuk berpikir bahwa sah-sah saja ia memilih orientasi seksual sebagai homo atau lesbian. Hanya karena sering ditolak oleh lawan jenis, merasa kesepian, merasa nyaman dengan sesama jenis, lalu dengan mudah memutuskan untuk menjadi homoseksual. RD Alfonsus Sutarno mengingatkan bahwa setiap manusia diciptakan sebagai makhluk bermartabat, sebagai pria dan wanita. Menjadi pria atau wanita bukanlah kehendak manusia, tetapi Tuhan yang menghendaki. “Jangan menolak diri sebagai pria atau wanita. Juga sebagai orangtua, jangan menyesali atau menolak kelahiran anak laki-laki atau perempuan,” pesan Romo Tarno.

Perkawinan dalam Katolik adalah antara pria dan wanita (bdk. KGK 357). Persatuan pria dan wanita dalam perkawinan saling menyempurnakan (bdk. Kej 1:27). Bolehkah pria menikah dengan pria atau wanita menikah dengan wanita? Menurut RD Alfonsus Sutarno, Gereja dengan tegas menyatakan “no”. Gereja tidak mengijinkan pernikahan sejenis, karena tujuan pernikahan, yaitu untuk melakukan prokreasi, tidak tercapai. Perkawinan sejenis tidak akan menghasilkan kelahiran. Lantas, terhadap LGBT yang menjadi pilihan orientasi seksual sekelompok orang, bagaimanakah Gereja menyikapinya? Gereja tetap memandang mereka sebagai pribadi yang bermartabat dan mengasihi mereka.

Remaja Menghadapi Godaan

Di kalangan para psikolog dunia, LGBT memang masih menjadi perdebatan, apakah digolongkan sebagai penyimpangan atau bukan. Ani Fegda, psikolog yang kerap menulis artikel psikologi di beberapa majalah, menyarankan agar umat tidak perlu mengurusi kebingungan para psikolog tersebut, melainkan mengikuti laku hidup yang sejalan dengan ajaran Gereja Katolik.

“Lingkungan masyarakat kita tidak steril. Ada banyak godaan,” tegas Ani Fegda. Sekarang ini, remaja memandang keren hal-hal yang tidak sejati, misalnya gaya hidup konsumtif, teman yang tidak mengerjakan PR, teman yang merokok, pergaulan bebas, dsb. Remaja perlu memiliki kontrol diri agar tidak mudah terpengaruh.

Remaja juga perlu pintar memilih pergaulan, tidak sekadar ikut trend. Bukan dengan menolak atau menyerang, tetapi berhati-hati dalam menjalin pertemanan. “Sahabat yang positif adalah yang mengarahkan diri menjadi lebih baik, bukan menjauhkan diri dari Tuhan,” paparnya.

Bagaimana bila disukai oleh teman sesama jenis atau sebaliknya, menyukai teman sesama jenis? “Hati-hati bila perasaan suka ini berubah menjadi menginginkannya secara seksual. Kalau seperti ini, carilah bantuan dan berkonsultasi, agar dapat ditangani dengan tepat,” saran Ani Fegda.

(John)

Leave a Reply

Top