Anda di sini
Beranda > Mancanegara > Tahun Baru

Tahun Baru

“Mater Dei”

Penghujung tahun telah tiba, saat yang selalu ditunggu setiap orang merayakan bersama. Aneka perayaan menghiasi pergantian tahun dimanapun manusia berada. Dengan caranya, manusia selalu memberikan ruang dan waktu bergembira untuk menyambut tahun baru dengan penuh harapan. Pesta kecil meramaikan hari itu dengan berbagai cara, intinya kegembiraan menantikan sebuah harapan pada tahun baru.

Sejak sore kampung terasa hinggar bingar dengan persiapan menjelang tahun baru. Ada yang akan menghadiri pesta di kampung, ada juga yang mau nonton wayang ada juga yang mau nonton hiburan di lapangan. Semua acara itu hanya satu tujuan, yakni mengungkapkan kegembiraan menjelang tahun baru. Keinginan tersirat semoga tahun baru memberikan harapan baru. Demikian juga di gereja, ada acara semalam suntuk menyambut tahun baru. Misa diadakan pukul 24.00, yakni misa di penghujung tahun lama dan menyambut tahun baru.

Sebelum misa, di pendopo  gereja anak-anak  muda diundang untuk berpartisipasi menghabiskan waktu bersama seraya mengisi acara malam sambil bercengkrama. Pastor paroki memberikan fasilitas, sementara umat memberikan makanan ringan dan minuman sebagai teman mereka begadang di tahun baru.  Acara itu begitu menyenangkan. Kaum muda seluruh paroki datang untuk merayakan, juga teman-teman yang sekolah di kota pulang ke kampung ikut meramaikan suasana malam tahun baru itu. Setiap wilayah dengan pasukannya mempersiapkan acara malam itu. Pukul 20.00 mereka sudah berkumpul di pendopo dan memulai acara dengan suasana santai. Tujuan utama perkumpulan itu adalah syukur atas tahun yang akan dilewati dan menyongsong tahun baru dengan harapan baru.

Sisi lain, ibu-ibu WK ikut berpartisipasi memberikan sumbangan makan berupa nasi bungkus. Ada pula yang memberikan makanan kecil berupa makanan rebusan hasil dari kebon; ada ubi, singkong, kacang,  jagung, dan pisang. Menu rebusan itu semakin memberikan nuansa pesta rakyat ala kampung. Sementara panitia kecil mempersiapkan minuman hangat untuk para peserta. Acara itu membalut rasa persaudaraan yang sangat kental. Semua hadir dalam satu tujuan, yakni kegembiraaan dan saling membagi. Aroma kegembiraan itu telah terasa ketika mereka bercanda ria di pendopo gereja tempat acara bersama. Di sana-sani terlihat Orang Muda Katolik (OMK) berkelompok seraya bercanda ria. Makanan kampung yang disodorkan menjadi teman santai mereka  di malam tahun baru itu.

Setelah acara bersama di pendopo, 30 menit  sebelum misa kami semua menuju ke Gereja untuk merayakan misa. Pastor Bonus, sebagai pastor moderator OMK akan memimpin misa kudus itu. Sementara koor dibawakan oleh OMK itu sendiri. Misa dimulai diriingi dengan nyanyian yang sangat agung.  Kami kaum OMK menyanyikan lagu pembukaan bersama dengan meriah. Naynyian itu menggugah semangat kaum muda dalam menggereja semakin nyata. Kekompakan dan nyayian bersama itu menggema di gereja sebagai wujud satu dalam iman, yakni Katolik.  Perayaan itu pun semua beruansa anak muda, jadi nuansa kegembiraan dan kebersamaan dibangun bersama.  

Dalam homili, Pastor Bonus menjelaskan bahwa setiap 1 Januari Gereja memperingati Maria adalah ibu Tuhan, Mater Dei.

“Saudara-saudari yang terkasih Dalam kristus. Bicara soal sejarah, semua harus didasarkan pada fakta. Ketika kita mengangkat nama Maria dalam konteks sejarah, dengan demikian kita dapat mencari dasar sejarah Maria. Dasar hidup sejarah ini bisa diambil dari Kitab Suci. Namun perlu ditekankan bahwa pendasaran Maria dalam sejarah atas dasar Kitab Suci sangat minim. Kita tidak dapat menguak secara menyeluruh pencarian data historis ini terkait Maria. Kitab Suci bukan buku sejarah, namun Kitab Suci adalah refleksi iman yang memberikan gambaran sejarah dalam hidup Maria. Titik berangkat pembelajaran ini diambil dari Matius 1-2 dan Lukas 1-2, ditambah Yohanes 2:1-11.Teks ini adalah gambaran bahwa Maria mempunyai peran besar dalam kasanah karya keselamatan,” Jelas Pastor Bonus seraya menghela nafas.

“Saudara terkasih, Gereja pada 1 Januari merayakan Maria adalah ibu Tuhan, Mater Dei. Martabat Maria sebagai ibu Tuhan itu telah dinyatakan sejak konsili Efesus pada tahun 431. Hal ini memberikan sebuah gambaran betapa Bunda Maria mendapat tempat luar biasa di dalam gereja. Sayangnya, kita sebagai orang katolik lupa bahwa 1 Januari itu adalah hari raya. Hal ini banyak dilupakan karena kita sibuk dengan perayaan tahun baru. Kita bersyukur hari ini dapat memperinngatiMaria sebagai Bunda Allah, Mater Dei. Semoga keteladanan Maria ini menjadi daya spiritualitas kita sebagai umat katolik, terutama kaum muda. Bunda Maria telah memberikan seluruhnya hidupnya dalam karya keselamatan. Maka kita pun hendaknya harus meneladan hidup Maria sebagai teladan totalitas dalam pelayanan. Tuhan Memberkati,” demikian Pastor Bonus mengakhiri homilinya.

Selesai homili perayaan Misa terus berlangsung dengan khitmat. Kami para OMK pun mendapatkan pengetahuan baru. Peringatan tahun baru bukan semata-mata adalah perayaan meninggalkan tahun baru, tetapi  secara spiritual kita diajak kembali untuk melihat perjalanan hidup kami seperti Bunda Maria. Teladan Bunda Maria setidaknya menjadi gambaran kita juga bahwa manusia mnegalami hidup dalam Rahim seorang ibu. Dengan peringatan ini sebetulnya kita juga diingatkan pada diri kita masing-masing betapa seorang ibu memberikan diri sepenuhnya pada kehidupan kita.

Selesai misa kami kembali ke pendopo untuk menersukan acara sarasehan. Kini kami dibagi dalam kelompok tiap kelompok terdiri dari 8 orang, laki-laki dan peremupuan. Kami duduk lesehan dengan mengelilingi sebuah tampah berisi aneka makanan dari hasil bumi yang direbus. Ini semua adalah sumbangan dari umat, terutama dari ibu-ibu WK. Ibu-ibu ini bersyukur pula bahwa dengan perayaan Bunda Maria ini, Pastor Bonus mengingatkan kapada kita semua bahwa 1 januari adalah peringatan kepada Maria Bunda Allah. Dingatkan pula bahwa anak-anak muda juga harus menghormati ibu yang pernah mengandung kita di dunia ini. Ibu menjadi tempat sebuah kehidupan baru melalui rahimnya. Dengan demikian nilai seorang ibu mempunyai begitu besar di dunia ini. Bisa dibayangkan bagaimana jika seorang ibu menolaknya, pasti kehidupan itu akan terhenti. Namun ketulusan seorang ibu membuka pintu kehidupan baru  di dunia.

Acara semakin seru ketika kami bersama-sama makan bersama hasil kebun dengan cara berkelompok. Seraya kertawa riang, kami makan bersama. Aneka hasil kebun yang direbus menjadi santapan setelah misa tahun baru dini hari. Kegembiraan itu terungakap dengan terlihat satu sama lain saling menyapa sekaligus mengungkapkan ucapan selamat tahun baru. Kebersamaan memecahkan sekat-sekat sosial. Semua adalah satu kawanan persaudaraan yang harus menampilkan kegembiraan. Hari menjelang subuh, namun nampaknya tidak ada rasa capai ataupun sedih. Semua ada dalam suasana gembira. Peristiwa tahun baru telah menyatukan anak muda. Kesadaran baru diharapkan tumbuh pula dan akhirnya iman semakin berkembang dimana pun berada, yakni selalu menampilkan damai.

Mater Dei, bunda Allah, menjadi simpul perekat dalam komunitas semalam ini. Kesadaran bahwa semua orang hadir melalui seorang ibu, maka ini semakin meningkatkan rasa kasih sayang seorang anak terhadap ibu yang telah memberikan waktu hidup dalam rahimnya dan menuntun hingga sekarang. Patut bersyukur bahwa perayaan Mater Dei ini sekaligus memperingati ibu kita masing-masing yang telah melahirkan kita semua. Harapan bahwa dengan hari raya Mater Dei ini, kita semua semakin disadarkan bahwa kecintaan kita kepada orang tua, terutama ibu semakin besar.

Kegembiraan itu lambat laun mulai surut seiring terdengar bunyi kokok ayam di pagi itu.Pertanda bahwa matahari mulai terbit. Ayam telah menyambutnya dan kita pun juga ikut menyambut semua syukur itu dengan mengakhiri doa. Pastor Bonus yang setia mendampingi kami memberikan nasehat pendek dan mengakhiri dengan doa dan berkat. Setelah itu semua meninggalkan tempat, namun sebelum meninggalkan pendopo gereja, kami membersihkan tempat seperti semula. Kebersamaan ini sangat terasa, karena dengan kerja sama ini semua berjalan dengan baik dan lancar.

 “Kukuruyuk, kukuruk” suara ayam jantan berkokok bersautan.

Suara itu mengiringi langkah kami pulang ke rumah masing-masing.

“Kukuruyuk kukuruyuk,” tiru Paimin selagi pulang bersama Paijo dan Parman.

“Gedubrak,” terdengar suara Paimin jatuh

“Haaaaaa, haaaa” kami tertawa sereentak.

“Bukannya kasihan, malah ketawa,” seru Paimin.

“Min, Paimin. Bukannya kami tidak kasihan kepadamu. Akan tetapi, ditahun baru kamu sudah mendapat hadiah, heeeee,” seru Parman.

“Ini bukan hadiah, tetapi derita,” sahut Paimin seraya nyengir.

“Dah, sudah. Ini tanda bahwa kamu dah ngantuk, jadi ada batu besar tidak kamu lihat, jadi jatuhlah kamu,” seru Paijo agak sedikit bijak, walaupun dalam hatinya tertawa.

Sesampai di pertigaan kampung itu, kami pun berpisah seraya saling melambaikan tangan dan berseru “Kukuruyukkkkkk, kukururyukkk, Met tahun baru”.

Kami pun berpisah dengan tertawa terpinggal-pingkal ingat Paimin jatuh tersungkur.

(RD Jatmiko)

Leave a Reply

Top