Anda di sini
Beranda > Artikel > Sudah Pas-kah kita menyambut Paskah?

Sudah Pas-kah kita menyambut Paskah?

Lihatlah saudaraku, dunia sekitarmu, hiruk pikuk suaranya, dendang riang lagunya, pesta pora raganya, tidur-tidur jiwanya, makin ramai dan risau, puaskah hati kita? Rasa damai dalam hati datang dari Tuhan, maka Tuhan ditemukan dalam ketenangan. (Tuhan sumber bahagia-MB 376)

Saat ini kita memasuki pekan suci. Pekan suci dimulai dari minggu palma, rabu krisma (misa pemberkatan minyak-minyak untuk sakramen gereja), kamis putih, jumat agung, sabtu suci, dan minggu paskah. Sebelum paskah, ada masa retret agung 40 hari yang disebut masa prapaskah. Masa itu hendaknya digunakan sebagai sarana puasa, pantang, dan refleksi yang berujung pada pertobatan dan perubahan diri.

Lalu apa hubungan Paskah dengan lagu diatas? Orang sibuk mempersiapkan diri menyambut Paskah dengan latihan koor, drama, lektor, mazmur. Namun sayangnya mereka melupakan makna Paskah sendiri. Pelayanan memang baik tetapi perubahan diri lebih berkenan di mata Tuhan. Memang sebagai wujud syukur, kita melayani Tuhan dalam liturginya dengan menjadi petugas gereja. Tetapi jangan lupa, Tuhan ingin tinggal di hati kita, seperti refren lagu diatas Rasa damai dalam hati datang dari Tuhan, maka Tuhan ditemukan dalam ketenangan. Tuhan ditemukan tidak dalam hiruk pikuk kehidupan, tetapi melalui olah batin lewat refleksi dan meditasi.

Oleh karena itu, marilah di awal pekan suci ini, kita memeriksa motivasi kita dalam melayani Tuhan. Untuk apa kita melayani Tuhan, apakah ingin dikenal dan dihormati banyak orang, ingin tampil, ataukah ingin menyenangkan hati Tuhan dengan mengembangkan talenta yang kita punya?

Marilah kita belajar dari kisah Marta dan Maria. Kata Yesus pada Marta: “Marta-marta engkau gelisah akan banyak hal tetapi Maria telah mengambil bagian yang terbaik yang tak akan diambil daripadanya”. Jadilah perpaduan Marta dan Maria dengan menjadi pribadi aktif dan kontemplatif. Selamat memasuki pekan suci dan merenungkan kisah sengsara Tuhan.

Arti Paskah yang Sejati

Apa reaksi anda ketika melihat foto dari suatu pantai putih yang menakjubkan dalam selembar brosur wisata? Atau foto pasangan pengantin yang berlatar belakang Menara Eiffel padahal nyatanya mereka tak perlu pergi ke Paris. Sejak dekade 1980-an ketika Knoll bersaudara mengembangkan program komputer Photoshop, foto pun tak lagi bisa dipercaya. Dalam dunia digital saat ini, kenyataan bisa dengan mudah dimanipulasi. Dan manipulasi ini tidak hanya terjadi dalam dunia fotografi. Bagi banyak orang, Paskah identik dengan anak ayam yang menetas, kelinci Paskah, dan telur cokelat. Walaupun baik, semua itu merupakan manipulasi yang menggeser arti Paskah yang sejati.

Pada pagi hari di Paskah pertama, Maria Magdalena yang membawa rempah-rempah untuk mengurapi mayat Yesus telah menemukan kuburNya itu kosong. Ketika pertama kali Maria menceritakan hal itu, murid-murid tidak mempercayainya. Kabar itu terdengar mustahil. Namun kenyataan dari kebangkitan Yesus telah mengubah hidup para murid dan juga memberi dampak besar dalam hidup kita.

KebangkitanNya yang memberi makna pada salib. Yesus telah menanggung dosa kita di Kalvari. KebangkitanNya adalah jaminan bahwa karyaNya telah sempurna. Kebangkitan  Yesus memberi kita pengharapan yang pasti.  Itulah makna Paskah yang sejati. Haleluya Tuhan sungguh telah bangkit!

(Ivonne Suryanto)

Leave a Reply

Top