Anda di sini
Beranda > Mutiara Biblika > Pro Patria et Ecclesia

Pro Patria et Ecclesia

Matius 

“22:21 Jawab mereka: “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

 

Pesta demokrasi memberikan daya tarik luar biasa kepada setiap orang dalam hasanah membangun negara semakin baik. Hak setiap orang digunakan sebagai cara ikut ambil bagian menentukan nasib bangsa dan negara. Kesadaran ini adalah bentuk kedewasaan pola pikir masyarakat akan pentingnya hak pilih. Oleh karenanya, masyarakat berbondong-bondong menggunakan hak pilih itu sesuai dengan kehendaknya.

Pagi itu kami pergi ke tempat pemilihan. Semua orang pergi ke tempat itu dengan antusias, bahkan anak-anak kecil pun ikut meramaikan, sekalipun mereka belum mempunyai hak pilih. Mereka menjadi penggembira saja sekaligus meramaikan pesta demokrasi ini. Uniknya, kami tidak saling mempermasalahkan siapa yang akan dipilih. Intinya kami memberikan suara sesuai hati nurani, demi kebaikan bersama. Belum pukul 07.00 pagi, tempat sudah penuh. Perbedaan pilihan pun tidak terasa sehingga tidak terlihat ada jurang pemisah satu dengan yang lain. Semuanya berpadu satu dalam kebersamaan sesama umat yang akan memilih wakil rakyat.

Pemilihan pun segera dimulai tepat pukul 07.00. Satu per satu nama dipanggil sesuai daftar undangan dan KTP. Mereka masuk bilik pemilihan terus memasukkan kertas pemilihan ke kotak yang sudah disediakan. Ketertiban para pemilih patut diapresiasi sehingga semua berjalan lancar dan aman. Semua itu terjadi karena kesadaran tinggi sesama pemilih dan saling menghormati satu dengan yang lain. Selesai pemilihan tidak semua orang ikut menunggu sampai selesai, ada yang langsung pulang ke rumah masing-masing, ada pula yang yang berkumpul di pos ronda yang biasa kami gunakan malam hari. Kami pun anak-anak muda berkumpul seraya minum teh dan kopi seadanya.

Jo, Paijo. Bagaimana pandanganmu terkait pimpinan yang ideal,” tanya Parno.

Ya, gereja mengajarkan bahwa saya harus menggunakan hak pilih sesuai hati nurani. Prinsipnya gereja tidak mencampuri harus memilih A atau B. Semua pilihan diserahkan kepada para pemilih. Pimpinan yang ideal itu yang memperjuangkan hak rakyat dan demi kebaikan bersama,” jawab Paijo.

Betul, saya setuju itu. Akan tetapi, kita perlu tahu juga siapa yang kita pilih, jika kita tidak tahu bukannya itu bisa menjadi malapetaka. Setidaknya kita mendapat gambaran umum siapa calon yang harusnya dipilih,” sahut Parmin ikut nimbrung.

Iya sih, betul itu semua harus ada. Intinya gereja mengajarkan bahwa memilih pemimpin itu demi kebaikan bersama, memperjuangankan kepentingan bersama, dan menjadi pelayan masyarakat. Oleh karena itu, umat diminta untuk menggunakan demi kebaikan tanah air dan gereja, bahasa kerennya pro patria et ecclesia,” jawab Paijo.

Wuih gaya juga Jo, Paijo. Pakai bahasa Latin. Kriteria baik dan buruknya itu masih umum. Itu masih sulit untuk di tebak?” tanya Parmin lagi sambil menyeruput kopi.

Ya, memang susah sih. Intinya kita sebagai warga negara dan umat beragama harus memberikan suara kita demi kebaikan bersama. Baik atau tidak itu ukurannya jika semua kepentingan bersama  terakomodasi dengan baik, itulah gambaran singkatnya. Pro patria et ecclesia itu memberikan wacana bahwa pemilihan itu setidaknya demi kebaikan tanah air dan gereja. Siapa pun pemimpinnya harus mengayomi masyarakat dan umat beragama,” seru Paijo.

Ya, ya. Saya setuju itu semoga pilihan kita tadi memberikan kebaikan bagi semua orang lapisan masyarakat secara umum,” tambah Parmin.

Iya, iya. Gereja mengajarkan bahwa kita jangan membuang suara secara sia-sia. Hendaklah kita menggunkan hak pilih dengan baik. Secara Biblis bisa dibaca dalam Injil Markus. Gereja mengajarkan melalui Yesus, yakni berikan hak kaisar dan hak Allah sesuai kapasitasnya,” Seru Paijo.

Kebaikan besama harus menjadi harga mati bagi pemimpin. Semoga pemenangnya selalu ingat akan kepetingan masyarakat secara umum tanpa membedakan satu dengan yang lain. Kita sebagai umat beriman juga harus mendoakan mereka agar selalu menjalankan tugasnya dengan baik,” seru Paijo.

Percakapan mengisi waktu kosong itu tidak terasa sudah mulai sore. Kami pun akhirnya pulang dengan hati puas sekalipun hasilnya belum tahu siapa yang menang. Harapannya, siapa pun pemimpunnya selalu membawa amanah masyakat karena itulah tugas utama menjadi pemimpin, yanki melayani masyarakat.

Embbbbbeeeeekkkkk, emmmmmbek,” seru kambingnya terdengar keras.

Waduh, sampai lupa kasih makan kambing, sangking asyiknya milih pemimpin,” seru Paijo dengan segera pergi ke kandang ngasih rumput yang sudah disiapkan kemarin sore.

Embbbbekkkkk, embek,” suara kambing terus berseru.

Jo. Paijo. Baru begitu saja dah lupa sama kambing, apalagi kalau kamu dah jadi orang besar, pasti dah lupa dengan kambing-kambing. Jangan-jangan jika kamu jadi pemimpin jadi lupa sama Simbok,” seru Simbok meledek Paijo seraya tersenyum.

Heeeeee,” senyum Paijo seraya garuk-garuk kepala.

(RD Nikasius Jatmiko)

Leave a Reply

Top