Anda di sini
Beranda > Nusantara > Politik Berkemanusiaan, Warisan Gus Dur untuk Indonesia

Politik Berkemanusiaan, Warisan Gus Dur untuk Indonesia

Politik bukan hanya sekadar kontestasi indentitas yang mengerahkan massa demi kekuasaan. Bagi Gus Dur politik itu untuk memanusiakan manusia. Demikian intisari dari perayaan Haul Gus Dur ke-9 di Balai Kota Bogor, Jumat (25/1) malam. Haul Gusdur yang dihadiri oleh sekitar 200 orang ini digagas oleh komunitas Gusdurian Kota Bogor bekerja sama dengan organisasi kemasyarakatan lintas iman serta didukung oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor.

Hadir berbagai tokoh lintas iman dan pemerintahan diantaranya, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, Ketua Badan Sosial Lintas Iman (Basolia) Kota Bogor KH Zaenal Abidin, Ketua Majelis Ulama Kota Bogor (MUI) KH Mustofa Abdullah Bin Nuh, Perwakilan Uskup Bogor RD Mikail Endro Susanto, dan anak ke-3 dari almarhum Gus Dur yakni Anita Hayatunnufus Wahid.

Rindu Gus Dur


Ketua Majelis Ulama Kota Bogor (MUI) KH Mustofa Abdullah Bin Nuh. Foto: Aloisius Johnsis

Almarhum KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur bukan hanya seorang mantan Presiden Republik Indonesia, namun juga seorang tokoh pemersatu yang hadir untuk semua. Baginya yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan dan politik harus bisa memanusiakan manusia.

Wali Kota Bogor Bima Arya mengaku rindu terhadap sosok Gus Dur. “Hari ini kita semakin rindu kepada Gus Dur. Ketika ada orang-orang  yang memanipulasi sentimen agama untuk kepentingan politik, ketika ada orang yang merasa tidak perlu membela minoritas, atau ketika ada orang-orang yang ingin menyeragamkan Indonesia, kita rindu kepada Gus Dur. Rasanya nyaris tidak ada guru bangsa yang bisa mempersatukan semua atas nama kemanusiaan,” katanya.

Bima berharap pertemuan ini bukanlah selebrasi kosong untuk mengenang almarhum Gus Dur. “Kita disini untuk menyambung terus warisan pemikiran, idealisme, dan gagasan Gus Dur agar selalu bisa dibumikan di Kota Bogor ini. Bersama para tokoh agama kita ada digaris yang paling depan untuk menjaga kebersamaan, pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bineka Tunggal Ika,” ujarnya disambut dengan riuh tepuk tangan masyarakat yang hadir.

Teladan Ketauhidan

RD Mikail Endro Susanto menyambut kehadiran Ketua MUI Kota Bogor dengan pelukan hangat. Foto: Aloisius Johnsis

Bagi anak ke-3 Gus Dur yang akarab disapa Anita, ayahnya menjadi sosok yang memiliki kesan tersendiri. Menurut Anita Gus Dur adalah orang yang kuat dalam nilai, itulah yang membuat Gus Dur memperjuangkan hak-hak kaum minoritas. Hal itu juga yang tidak dimiliki oleh politisi masa kini. Gus Dur punya prinsip, memperjuangkan nilai tidak harus menghancurkan nilai yang lain. Sebagai contoh, memperjuangkan sila pertama (Ketuhanan) tidak harus menghancurkan sila ketiga (Persatuan).

“Gus Dur berjalan di dalam 9 nilai, yang utama adalah ketauhidan (konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah, red). Nilai-nilai yang lain seperti kemanusiaan, kesetaraan, persatuan, toleransi dan yang lainnya merupakan turunan dari ketauhidan. Oleh karenanya ketika menjadi seorang Presiden, Gus Dur tidak pernah hitung-hitungan politik, tetapi memperjuangan nilai-nilai tersebut,” jelas Anita yang baru-baru ini aktif dalam Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia).

Menutup diskusi hari itu, Anita mengajak masyarakat untuk menghadirkan perdamaian dari dalam diri sendiri. “Gus Dur pernah bilang, perdamaian tanpa keadilan itu ilusi. Hari ini, banyak orang berpikir bahwa perdamaian itu berarti tidak ada konflik. Padahal, damai itu ada di dalam diri kita, damai itu hadir dari rasa welas asih, persaudaran, dan masih banyak lagi. Oleh karenanya mari kita hadirkan perdamaian di Indonesia ini mulai dari diri kita sendiri,” ajaknya.

Ketua Komisi HAK (Hubungan Antaragama dan Kepercayaan) Keuskupan Bogor RD Mikail Endro Susanto mengungkapkan testimoninya. “Bagi saya Gus Dus mengajak kita untuk terus menjaga NKRI, terus menjaga persaudaraan, terus menerima perbedaan, dan merawat keberagaman,” pungkasnya.

Selain dialog kebangsaan, acara ini juga diisi dengan berbagai penampilan seni dari berbagai unsur masyarakat. Adapun para penampil diantaranya Paduan Suara Katolik yang membawakan lagu Yalal Wathon yang berarti cinta tanah air, dan kolaborasi antara Musisi Jalanan Center dengan Farid putra kedua dari almarhum Mbah Surip membawakan lagu NKRI Harga Mati.

(Enoz Raja/John)

Leave a Reply

Top