Anda di sini
Beranda > Nusantara > Pesan Uskup untuk Keluarga Sejahtera

Pesan Uskup untuk Keluarga Sejahtera

“Pernikahan adalah perjumpaan dari banyak perbedaan. Mulai dari pendidikan, latar-belakang, sampai kepribadian. Seperti besi-besi yang berbeda dalam sebuah mesin, dibutuhkan pelumas agar besi-besi itu tak menghasilkan benturan yang berbahaya. Demikian pula, perlu semangat saling memaafkan, saling menerima, dan kasih sayang agar pernikahan dapat tumbuh menjadi keluarga yang sejahtera.” (Gede Prama, 2016, dalam Pangeran Dalam Keluarga)

Membayangkan ikut acara akhir pekan di Ciloto, Puncak, Cianjur, Jawa Barat, memang bikin kepala “mumet”. Bagaimana tidak? Nyaris  tak ada hari yang tak macet untuk berkendara ke sana. Tetapi, Puji Tuhan, panitia dan pengisi acara Family Week End Keuskupan Bogor 2016 berhasil memberi suguhan  yang amat menarik sehingga lelah akibat macet itu terobati. Selama tiga hari, para pembicara, khususnya Uskup Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM, RD Nikasius Jatmiko, dan RD Alfonsus Sutarno, berbagi wejangan yang begitu bermanfaat, inspiratif dan mestinya mencerahkan bagi semua keluarga Katolik.

Family Week End ke-2 yang diadakan, 15-17 Juli 2016 tersebut diikuti Orang Muda Katolik dan puluhan keluarga se-Keuskupan Bogor. Acara ini begitu bagus karena, selain disampaikan materi dalam bentuk paparan slide, yang  tak bisa kami lupakan juga ada janji dari Bapa Uskup yang akan memberi perhatian lebih besar pada upaya-upaya menyejahterakan keluarga-keluarga di lingkup keuskupan, baik yang baru maupun yang sudah lama menikah. Acara ini juga diselingi beberapa permainan yang meluluhkan stres dan mengundang tawa.

Janji dan wejangan yang disampaikan memang terkesan sederhana, tapi dari gesture dan komunikasi yang terbangun selama tiga hari, bisa dirasakan bahwa Kasih Kristus telah memberi jalan menuju kesejahteraan batiniah yang terbilang bagus. Terlebih setelah Bapa Uskup, Romo Jatmiko dan Romo Sutarno dengan aktifnya menjawab semua pertanyaan tentang masalah keluarga yang disampaikan peserta. Kita tahu, selalu ada celah cek-cok dalam kehidupan berkeluarga. Celah itu berasal dari ego, keakuan, harga diri yang berlebihan atau bisa  derajat kepintaran.

Berbagai uneg-uneg tak ayal tumpah dalam sesi  Umat Bertanya Gembala Menjawab. Puji Tuhan, para gembala secara luar biasa meladeninya dengan amat sabar. Ada pertanyaan ringan, ada juga yang berat. Seorang umat misalnya menanyakan tentang bagaimana cara menasehati anaknya agar urung memilih pasangan yang berbeda agama. Ia mengaku sudah nyaris putus asa menasehatinya. Ada juga umat yang curhat telah ditinggal suaminya, tapi tak pernah tahu apa penyebab keretakan rumah tangga ini. Sejujurnya, semua itu amat membumi, sehingga penting rasanya untuk dipahami bersama.

Medan paling strategis

Kami, umat, memberi apresiasi kepada para gembala, karena di luar forum mereka juga mau meluangkan waktu berbicara dengan beberapa umat yang mungkin sudah mengalami kebuntuan. Mungkin mereka tak menguasai banyak hal, tetapi perhatian yang diberikan telah mencerminkan adanya itikad yang begitu tinggi dari Keuskupan Bogor untuk ikut menciptakan kesejahteraan keluarga. Itikad ini diucapkan langsung Uskup Bogor dengan mengatakan bahwa gereja akan memberi prioritas pada masalah-masalah yang berkaitan dengan keutuhan keluarga.

Berkaitan dengan itu, sambung Romo Sutarno, penting juga kiranya bagi pasangan-pasangan yang baru akan menikah untuk mencermati semua itu. Sebab, dengan memahami akar masalah yang biasanya bersumber dari perbedaan di antara pasangan, hubungan perkawinan akan berjalan jauh lebih baik. (Keuskupan Bogor telah memfasilitasinya lewat Bogor Catholic Discovery)

Dalam wejangannya Bapa Uskup menerangkan bahwa keluarga adalah basis terkecil dalam masyarakat. Di dalamnya harus ada kasih dan semangat untuk saling menghormati dan mengampuni. Keluarga juga merupakan sekolah kemanusiaan yang dapat menjadikan setiap anggotanya sehat, sejahtera,  dan semakin mengimani Kristus. “Dan, oleh karena keluarga juga merupakan medan paling strategis dalam membentuk generasi baru yang bertanggung-jawab terhadap masyarakat dam gereja, Keuskupan Bogor akan memberi prioritas untuk acara-acara seperti ini,” ujarnya.

“Untuk itu saya ingin sekali lebih banyak keluarga bisa hadir dalam acara serupa tahun depan,” tandas Mgr. Paskalis. Dalam penutupan acara, Bapa Uskup tak lupa menyampaikan tiga motto penting untuk dilaksanakan setiap umat Katolik dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Pertama, yakni, jadilah terang bagi sesama. Kedua, jadilah pembawa harapan. Dan, ketiga, jadilah pembawa suka-cita di lingkungan kita.

(Adrianus Darmawan)

Leave a Reply

Top