Anda di sini
Beranda > Sajian Utama > Peringatan 20 Tahun Yayasan ABAS: Jadilah Saluran Kasih Allah

Peringatan 20 Tahun Yayasan ABAS: Jadilah Saluran Kasih Allah

[BOGOR] Setiap manusia berhak untuk dicintai dan mencintai, tak terkecuali anak-anak panti asuhan yang ditinggalkan orangtuanya.  Setiap manusia juga dipanggil untuk menjadi saluran kasih bagi sesamanya.

Dengan menjadi saluran kasih berarti manusia mencintai Allah, dan dengan mencintai Allah manusia juga dapat mencintai sesama, karena mencintai sesama merupakan wujud mengasihi Allah. Demikian disampaikan Uskup Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM dalam Misa Peringatan 20 Tahun Yayasan Awam Bina Amal Sejati (ABAS) Bogor, Sabtu (1/11).  Uskup menyatakan, Yayasan ABAS telah membuktikan karyanya melalui perhatian dan cinta kasih kepada orang-orang yang dipinggirkan, bahkan dibuang.  “Kita dapat melihat di sini bagaimana para pelayan Yayasan ABAS, para relasi, simpatisan termasuk donatur di dalamnya telah mengamalkan ajaran Kristus, menjadi saluran kasih Allah untuk sesama,” tutur Monsinyur.

Ratusan umat, puluhan rohaniwan, rohaniwati, warga sekitar serta penghuni Panti ABAS mengikuti misa yang diselenggarakan secara konselebran dipimpin Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM didampingi Mgr. Michael Cosmas Angkur OFM, Mgr. Leo Laba Ladjar (Uskup Jayapura), Pastor Gregorius Pontus OFM, Romo Nikasius Jatmiko Pr dan Romo Yohanes Suparta Pr.

Dalam kesempatan itu pihak ABAS mengucapkan terima kasih atas bantuan pemerintah kecamatan setempat, gereja dan umat yang selalu mendukung keberadaan dan pengasuhan anak-anak serta para lansia di bawah naungan Yayasan ABAS.

Mgr. Michael Cosmas Angkur , Uskup Emeritus yang menjadi saksi berdirinya Yayasan ABAS mengungkapkan saat berdiri pada Oktober 1994, ia tak menyangka kalau ABAS kelak akan sebesar ini.  “Awalnya saya ragu mendukung ABAS karena saat itu direkturnya masih muda dan ini adalah gerakan awam, bukan hirarki gereja.  Namun seiring waktu ABAS telah membuktikan bahwa mereka konsisten dalam membantu orang yang tidak berdaya seperti bayi-bayi yang tak diinginkan orantuanya dan mau merawat para lansia.  Anak-anak yang berada di sini dan bayi-bayi yang ditinggalkan orangtuanya dan di Panti ABAS bukanlah titipan, tapi mereka adalah bagian dari keluarga besar ABAS,” ujar Mgr. Michael.

Pimpinan Panti ABAS, Maria Rosa berkisah, sejak berdiri 20 tahun silam hingga kini, ratusan anak-anak yang tak dikehendaki orangtuanya dirawat dan diasuh dengan penuh kasih di pantinya.  “Kebanyakan anak-anak itu kami rawat dari bayi.  Mereka kami sekolahkan hingga bekerja.  Mereka yang telah bekerja atau berkeluarga masih menjalin komunikasi dengan penghuni ABAS.  Kalau mereka berhasil, mereka bisa jadi contoh ‘adik-adiknya’, bahwa anak yang dibuang pun mampu berguna,” kata Maria.

Meski demikian dia selalu menanamkan pesan pada anak-anak panti untuk tidak menaruh dendam pada orangtuanya.  “Allah itu kasih, dan kalian adalah anak-anak Allah, maka harus mampu mengasihi siapa pun termasuk orangtua kalian,” ujar Rosa. 

(Tika/Jam)

Leave a Reply

Top