Anda di sini
Beranda > Artikel > Narasi Pesta Nama Gereja Katedral 8 Desember 2017

Narasi Pesta Nama Gereja Katedral 8 Desember 2017

Begitu panitia meminta Bu Darti guru kesenian di SMA Regina Pacis Bogor untuk membuat tarian prosesi pembuka dan penutup pada misa  perayaan Pesta Nama Gereja BMV Katedral Bogor,  terlintas dalam pikiran saya, pasti masih banyak umat katedral yang belum sempat mendengar ataupun tahu kapan berdirinya gedung gereja yang sekarang menjadi Gereja Katedral Keuskupan Bogor. Demikian juga mengenai nama pelindung Gereja, Bunda Maria Yang Dikandung Tanpa Noda.

Saya sendiri juga terusik ingin tahu lebih dalam, tentang nama pelindung tersebut. Akhirnya muncul niat saya  membuat narasi prosesi perayaan Pesta Nama Gereja BMV Katedral Bogor yang dilaksanakan 9 Desember lalu, agar dapat menjadi informasi bagi umat yang menyaksikan prosesi perarakan patung Bunda Maria.

Mulailah saya membuka kembali buku hasil Sinode tahun 2002, dalam buku tersebut banyak hal yang merupakan potret keuskupan Bogor pada tahun 2002, termasuk tertulis dalam buku tersebut sejarah berdirinya gedung  gereja dan Gereja Katedral Keuskupan Bogor. Tetapi ternyata di dalam buku  berjudul Menatap Masa Depan itu, saya tidak menemukan tulisan mengenai nama pelindung Gereja Katedral secara jelas. Maka saya segera mencari sumber-sumber lain, antara lain dari ensiklopedia Wikipedia. “Road Map“ Prioritas Kebijakan Pastoral Keuskupan Bogor, serta mengintip Program Paroki.

Setelah melihat latihan para penari dari putra-putra Seminari menengah Stela Maris dan siswa-siswi SMA Regina Pacis yang dilatih oleh Dhesti Ratih dan Ibu Darti, mendengar gending Sunda “Sabilulungan” yang syairnya berisi tentang kegotong-royongan yang telah dipilih Romo Paroki RD Dominikus Savio Tukiyo, saya dapat menangkap apa yangg menjadi keinginan romo paroki, yaitu ajakan agar semua pemangku kepentingan peduli dan bekerja sama dalam hidup menggereja di Gereja BMV Katedral ini.

Segera saya mencermati buku “Road Map Prioritas Kebijakan Pastoral Keuskupan Bogor”, serta mengintip program paroki, saya mulai merangkai kata menjadi narasi seperti tertulis di bawah ini, yang telah dibaca oleh narator saat prosesi pesta nama gereja, 8 Desember lalu.

Narasi Pesta Nama 2017

Para saderek sadayana, pribados ngahaturkeun “Wilujeng Sumping” kasadayana, anu parantos kersa ngaluuhan “Perayaan Pesta Nama Paroki Katedral Bogor”.  Mangga urang rayakeun sasarengan, piniuh kurasa syukur sareng kagumbiraan anu luar biasa bingahna. Amin.

Selamat datang dalam perayaan Pesta Nama Paroki Katedral Bogor. Mari, pesta nama ini kita rayakan bersama, dengan penuh syukur dan kegembiraan!

Gereja BMV yang berkedudukan di Bogor, di Jalan Kapten Muslihat no 22 ini, adalah Gereja Katedral, Gereja Keuskupan Bogor. Gedung gereja yang didirikan tahun 1905 ini, disahkan sebagai Gereja Katedral Bogor pada tahun 1961. Pelindung Gereja Katedral ini adalah Beatae Mariae Virginis, dan kita rayakan secara khusus pada hari ini, yakni pada ”Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda” yang di peringati seluruh  Gereja Katolik setiap  tanggal 8 Desember.

Hari raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda diresmikan pada 1476 oleh Paus Siktus IV, dan pada abad ke-19 oleh Paus Pius IX melalui Konstitusi Apostolic Meffabilius Deus tahun 1854, dijadikan dogma yang menyatakan bahwa Perawan Maria, dikandung tanpa noda asal dan wajib diperingati setiap tanggal 8 Desember.

Pernyataan serupa, bahwa Perawan Maria dikandung tanpa noda sebetulnya sudah muncul jauh sebelumnya. Pada abad ke-4 oleh Santo Efraem, dan pada abad ke-5 oleh Santo Agustinus yang tertulis dalam Nisi beneHymns 27.

Maria sebelum mengandung bayi Yesus, rahimnya telah dikuduskan Allah Bapa Sang Maha Kudus untuk melahirkan Putra-Nya, juru selamat dunia, Yesus Kristus.

Gereja Katedral didirikan di Bogor, tidak lain adalah untuk mewartakan Kabar gembira keselamatan, sesuai yang diajarkan  Yesus Kristus yang tertulis dalam Injil.

Dengan memperingati hari raya Santa Perawan Maria Dikandung  Tanpa Noda, selain ungkapan rasa syukur, kita diingatkan pada tujuan utama Gereja, betapa pentingnya pewartaan kabar gembira keselamatan, betapa pentingnya meningkatkan rasa persaudaraan umat, dan  kerja sama pengurus agar tercapai tujuan keselamatan dan umat hidup dalam iman kasih Allah.

Masih banyak permasalahan di Gereja tercinta ini yang harus digarap. Perbaikan sarana dan prasarana, penguatan kapasitas individual, perbaikan tatakelola kelembagaan OMK, dan pelibatan umat beriman.

Jangan sampai kita hanya  menjadi penonton, tapi  mari jadi pemrakarsa dan pelaksana. Kita bangun, kita bekerja. Kita berbuat dan berbagi kepada mereka yang belum beruntung mendapatkan kabar gembira keselamatan!

Dengan pertolongan dan doa Bunda Maria yang Dikandung Tanpa Noda, Gereja Katedral yang terdiri dari 16 Wilayah, 21 organisasi/kategorial di dalamnya, di bawah pimpinan Romo Paroki dan Bapak Uskup, Gereja Katedral akan tetap tegap melangkah, menyusun dan melaksanakan program-program Paroki.

(Nama-nama wilayah dibaca sesuai daftar, juga  nama organisasi dibaca sesuai daftar )

Dengan semangat sabilulungan! Dengan semangat  gotong royong, mari !”.

Mari, para penentu kebijakan, para anggota dewan,para pengurus wilayah, para pengurus organisasi dan kelompok kategorial, para pemuda ,serta seluruh pemangku kepentingan dan seluruh umat Gereja Katedral. Mari, dengan pertolongan dan doa  Bunda Maria yang Dikandung Tanpa Noda, pelindung Gereja kita, mari bersatu padu, mari saling mendukung, saling membantu, bekerja sama dalam membangun Gereja sesuai lima prioritas kebijakan Keuskupan yaitu Kebijakan Pastoral Keluarga, Orang Muda Katolik (OMK), Pendidikan, Sumber Daya Manusia, serta kebijakan pastoral Sosial Politik dan Kemasyarakatan dalam Hidup Menggereja. Mari kita rayakan dalam Ekaristi.

Narasi Setelah Selesai Ekaristi

Kini, dengan penuh syukur kita diutus. Dengan berikatpinggangkan kebenaran, berbajuzirahkan keadilan, dan berkasut kerelaan, Gereja Katedral akan  melaksanakan prioritas kebijakan program keuskupan.

Dengan payung kuning, yang bagaikan  emas asli murni, berkilau-kilauan, lambang cahaya dari surga, yang siap dipakai berpayung, berkarya, dengan penuh suka-cita menjadi pewarta di dunia. Payung Agung , gambaran perlengkapan senjata Allah yang datang dari langit, kuning mengkilat berupa cahaya Sang Terang Sejati yang merasuk ke dalam hati dan menjadi perisai pelindung diri umat berbakti.

(Jeda acara pelepasan merpati)

Disertai doa Bunda Maria Yang Dikandung Tanpa Noda, dengan penuh syukur kita semua diutus, dilepas bagai merpati, utusan untuk mewartakan kabar keselamatan.

Dengan berpayung perlengkapan senjata Allah, kita raih visi Gereja “ Menjadi communio dari aneka komunitas basis yang beriman mendalam, solider dan dialogal, memasyarakat dan missioner”.

Dengan berperisaikan iman, dengan ketopong keselamatan dan pedang Roh firman Allah, Gereja katedral melangkah sesuai prioritas kebijakan Keuskupan, Pastoral Keluarga, Pastoral Orang Muda Katolik, Pastoral Pendidikan, Pastoral Sumber Daya Manusia, dan Pastoral Sosial Politik dan  Kemasyarakatan dalam hidup menggereja.

Selamat merayakan pesta nama gereja BMV Katedral Bogor.

Bogor, 9 Des 2017

Sanggar Tari Dhesta-Dhesti

 

 

 

Leave a Reply

Top