Anda di sini
Beranda > Kategorial > Monsinyur: Gereja dan Awam Harus Bekerja Sama

Monsinyur: Gereja dan Awam Harus Bekerja Sama

[BARANANGSIANG] Kategorial Paroki BMV Katedral Bogor menggelar rekoleksi di SMK Baranangsiang Bogor, Sabtu (25/8). Peserta sejumlah 54 orang dari 19 organisasi/perkumpulan Katolik di Paroki BMV Katedral Bogor.

Rekoleksi dengan tema ”Peningkatan Pelayanan Kategorial” menghadirkan 3 pembicara yakni Mgr. Paskalis Bruno Syukur dengan judul “Keteguhan Dalam Pelayanan Kategorial”, Dwiani Fegda (Psikolog) dengan judul “Gigih Dalam Karya dan Pelayanan Kunyatakan KemulianNya”, dan RD Endro Susanto dengan judul ”Spiritualitas Pelayanan & Kerahiman”.

Arahan Mgr Paskalis meliputi beberapa hal yang dianggap penting antara lain Gereja bertumbuh dan berkembang kalau para imam dan awam bekerja bersama, perlu membangun kebersamaan dari seluruh organisasi/perkumpulan Katolik (kategorial), semua kelompok diharapkan dapat meningkatkan penghayatan imam kekatolikan yang lebih baik, tiga aspek esensial mengenal diri yakni, orang yang menerima pewartaan para rasul (ciri Gereja apostolik), memberi diri dibaptis dan mereka bertekun dalam pengajaran para rasul atau tradisi Gereja dan persekutuan ekaristi dan persekutuan untuk berdoa, SDM paroki di seluruh keuskupan harus berkembang dalam pelayanan sehingga kalau ada kegiatan kategorial maka paroki patut untuk membantu, “Semua persekutuan membuat kita lebih beriman dan membuat kita bersatu dalam Gereja lokal, Paroki dan Keuskupan,” kata Monsinyur Paskalis.

Uskup juga menyinggung tentang Gereja misioner. Gereja misioner adalah yang bergerak keluar. Contoh konkrit, “Kita tidak hanya membantu orang yang memerlukan di lingkungan Katolik saja tapi juga meliputi semua umat manusia yang berpedoman kepada cinta kasih,” kata Monsinyur.

Hindari Ego Organisasi

Sementara itu Ani Fegda menyampaikan sejumlah hal berkaitan dengan psikologi oranisasi. Menurut Ani, ego sektor dari setiap organisasi harus dihindari. Selain itu dia juga membahas tentang paradigma. Paradigma merupakan gambaran mental, yakni anggapan yang ada dalam pikiran kita tentang realitas. Gambaran mental itu kita peroleh berdasar pada pengalaman kita sebelumnya. Paradigma yang ditetapkan dari setiap organisasi dan pengurusnya harus didukung oleh data dan informasi yang benar sehingga kesimpulan yang diambil adalah benar. Merubah prilaku, pikiran dan sikap hanya mungkin kalau merubah paradigma. “Diharapkan anggota suatu organisasi dapat mengikuti acara dari organisasi yang lain sehingga dapat saling meningkatkan keberhasilan dengan cara bertukar pengalaman dalam menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan. Biasanya pengalaman nyata lebih mudah untuk ditularkan kepada orang atau organisasi lain,” papar Ani.

Sedangkan Romo Endro meminta peserta untuk tidak menghakimi orang atau organisasi lain. Pelayanan yang baik, sambung Romo Endro, dilakukan dengan 3 M yakni Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal-hal  kecil dan Mulai dari sekarang.

Menurutnya, pelayanan yang sempurna adalah yang dilandasi belas kasih. Enam hal utama dalam sebuah pelayanan yang berbelas kasih, yakni spontan, yaitu tergerak begitu saja. Muncul secara alamiah, di mana saja dan kapan saja, universal, berlaku secara umum. Kalau menolong tidak melihat siapa dia, konkret suatu perwujudan nyata meringankan penderitaan sesama, tak bersyarat penerimanya tidak perlu bayar dan pemberi tanpa pamrih, mengandung pengampunan meskipun sudah dihianati atau disakiti tetap bersedia menerima dan mengandung pertobatan termasuk dalam memerdekakan.

Romo Endro menjelaskan, untuk memupuk saling pengertian di antara satu organisasi atau pribadi maka hal pertama yang harus dilakukan adalah kehadiran pada setiap undangan atau kesempatan bisa bertemu. Acara rekoleksi ditutup dengan misa kudus di Kapel SMK Baranangsiang. Semoga rekoleksi ini dapat meningkatkan pelayanan kategorial  BMV Katedral pada waktu yang akan datang.

(Ngaloken Gintings/Jam)

Leave a Reply

Top