Anda di sini
Beranda > Pastoral > Menghayati Sikap Liturgis

Menghayati Sikap Liturgis

Loading

Menjelang akhir 2014 yang lalu banyak umat yang bertanya-tanya mengapa lembaran teks misa tidak disediakan lagi di dalam gereja. Tanggapan umat sangat beragam; ada yang cuek saja, ada yang bertanya-tanya dan mulai mencari buku Ruah, namun tidak sedikit pula yang tidak terima dan protes dengan kebijakan tersebut.

Perlu diketahui bahwa ditiadakannya lembaran  teks misa tersebut bukanlah kebijakan pastoral Paroki Katedral saja melainkan merupakan kebijakan dari Komisi Liturgi Keuskupan Bogor. Sebagaimana kita ketahui, setiap keuskupan memiliki otoritas sendiri. Beberapa kebijakan biasanya diambil hasil pembahasan dan rekomendasi pada pertemuan-pertemuan Liturgi Keuskupan. Dalam masalah lembaran misa, Keuskupan Bogor mengikuti rekomendasi hasil pertemuan komisi-komisi liturgi keuskupan se-regio Jawa dan Bali. Terkait ditiadakannya teks atau lembaran misa tersebut, alasan dan tujuan yang mendasarinya antara lain :

  • Agar umat membiasakan diri membaca dan membawa Kitab Suci ke gereja.
  • Merupakan salah satu sikap dalam berliturgi bahwa pada saat firman Tuhan dibacakan, umat mendengarkan dengan penuh iman.

Tujuan pada poin yang kedua tersebut sangat erat kaitannya dengan keseluruhan sikap kita selama mengikuti Liturgi Perayaan Ekaristi. Oleh sebab itu sebaiknya kita mempersiapkan hati dan pikiran kita sebelum kita mengikuti Perayaan Ekaristi karena sikap dan tata gerak kita dalam berliturgi mengungkapkan penghayatan batin dan partisipasi kita dalam perayaan tersebut. Sikap tubuh yang seragam menandakan kesatuan umat dan mencerminkan sikap batin yang sama pula. Tata gerak dan sikap tubuh seluruh jemaat dan para pelayannya  juga menjadi bagian terpenting dalam simbolisasi kebersamaan dan kesatuan gereja yang sedang berdoa yang apabila dilakukan dengan baik maka seluruh perayaan akan memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun, sehingga makna dari aneka bagian perayaan dapat dipahami secara tepat dan penuh serta partisipasi seluruh jemaat ditingkatkan. (PUMR 42).

Sewaktu mengikuti liturgi, khususnya Perayaan Ekaristi, kita pun harus selalu mempunyai sikap hati yang benar. Kita harus mengarahkan akal budi kita untuk menerima dengan iman bahwa Yesus sendirilah yang bekerja melalui liturgi, dan Roh Kudus-Nya yang menghidupkan kata-kata doa dan Sabda Tuhan di dalam liturgi, sehingga menguduskan tanda-tanda lahiriah yang dipergunakan di dalamnya untuk mendatangkan rahmat Tuhan.

Sikap hati yang baik ini juga diwujudkan dengan berpakaian sopan, tidak ‘ngobrol’, serta tidak menggunakan handphone ataupun ber-BBM di dalam gereja. Sebab jika demikian dapat dipastikan bahwa hati kita tidak sepenuhnya terarah pada Tuhan.

Bagaimana sikap dan persiapan kita apabila kita mendapat undangan dari seorang raja? Tentu kita akan mempersiapkan diri dengan sebaik baiknya bukan? Tuhan sendiri adalah raja dari segala raja, maka tentulah kita harus benar-benar mempersiapkan diri dan hati kita untuk menghadap-Nya. Oleh karenanya ada baiknya kita kembali mengingat persiapan serta sikap tubuh atau tata gerak apa yang harus kita lakukan sebelum dan selama mengikuti Perayaan Ekaristi.

1. Persiapan sebelum Perayaan Ekaristi dimulai

Untuk menghayati liturgi, kita harus sungguh mempersiapkan diri sebelum mengambil bagian di dalamnya. Contohnya ialah : membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci pada hari itu, hening di sepanjang jalan menuju ke gereja, datang lebih awal, berpuasa (1 jam sebelum menyambut Ekaristi dan terutama berpuasa sebelum menerima sakramen Pembaptisan dan Penguatan), memeriksa batin, jika dalam keadaan dosa berat, melakukan pengakuan dosa dalam sakramen Tobat sebelum menerima Ekaristi.

2. Pada saat masuk ke dalam Gereja membuat tanda salib

Buatlah tanda salib dengan mengambil air suci pada saat masuk ke dalam gereja. Hal ini mengingatkan kita bahwa karena rahmat Sakramen Baptis kita bisa bergabung ke dalam persekutuan Gereja. Janganlah membiasakan diri memberi air suci pada orang lain dengan mengulurkan jari kita. Ketika kita dibaptis, kita masing-masing dipanggil dengan nama pribadi yang berarti sangat personal, maka tanda salib janganlah dibuat dengan asal-asalan.

3. Berlutut sebelum duduk atau pada saat kita melintas di depan tabernakel

Yang ada di depan kita adalah Kristus yang sebenar-benarnya dalam rupa Hosti di tabernakel. Ingatlah sejenak juga akan inkarnasi Kristus. Hosti dalam tabernakel, bisa diasosiasikan sebagai Kristus dalam rahim Maria. Maka kita pun harus menunjukkan sikap hormat kepada-Nya. Tentang pakaian yang pantas untuk menghadap Pencipta yang ada secara fisik di hadapan kita, tentunya kita pasti bisa memilihnya bukan? Seberapa sopan cara kita berpakaian mencerminkan seberapa tinggi penghormatan kita akan Kristus dalam tabernakel dan dalam Misa.

4. Perayaan Ekaristi / Misa Kudus merupakan SATU rangkaian doa

Tanda salib merupakan tanda kemenangan Kristus. Cara melakukannya adalah: Dalam nama Bapa (dahi) dan Putra (dada) dan Roh Kudus (pangkal lengan kiri), Amin (pangkal lengan kanan).

Maka tanda salib besar HANYA dilakukan pada awal dan akhir Perayaan Ekaristi saja yaitu ketika imam memulai dan mengakhiri misa atau pada saat menerima percikan air suci kalau dibuat sebagai Pernyataan Tobat. Selain itu tanda salib juga dilakukan pada saat memulai bacaan Injil dengan membuat tanda salib kecil pada dahi, mulut dan dada untuk mengungkapkan hasrat agar budi diterangi, mulut disanggupkan untuk mewartakan dan hati diresapi oleh sabda Tuhan.

Kita TIDAK membuat tanda salib ketika imam memberi absolusi umum (“…semoga Allah mengasihani kita…dst..”), karena yang kita ikuti adalah Misa Kudus bukan Sakramen Tobat.

5. Bacaan kitab suci yang dibacakan dari ambo (mimbar) adalah waktu Allah berbicara dan kita mendengarkan, yaitu menyimak dengan penuh perhatian

Di dalam gereja saat ini sudah disiapkan Kitab Suci, maka sebaiknya kita sudah membaca kutipan bacaan sebelum misa dimulai. Tatap lektor / imamnya karena Allah sedang berbicara pada kita. Komunikasi yang baik dalam percakapan adalah saling menatap dan mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan oleh lawan bicara kita bukan?

Pembacaan Injil adalah puncak Liturgi Sabda. Harap diingat, suara yang kita  dengar adalah Suara Kristus sendiri karena imam bertindak IN PERSONA CHRISTI (mewakili Kristus sepenuh-penuhnya). Oleh sebab itu sikap yang baik dan pantas adalah dengan mendengarkan dan merenungkan sabda yang disampaikan sendiri oleh Kristus dengan sepenuh hati, dimana hal tersebut tidak dapat dilakukan bila kita juga ikut sibuk membaca.

6. Saat Konsekrasi

Inilah puncak Perayaan Ekaristi saat Tuhan sungguh hadir dalam rupa roti dan anggur. Inilah saat yang sakral dimana keheningan sebaiknya dijaga dan kita melakukan penghormatan pada Kristus sendiri yang hadir di tengah-tengah kita. St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa penyembahan yang sempurna mencakup dua hal, yaitu menerima dan memberikan berkat-berkat ilahi (lih. St. Thomas Aquinas, Summa Theologia, III, q.63, a.2.). Di dalam liturgi, penyembahan kepada Tuhan mencapai puncaknya, saat Kristus bersama dengan kita mempersembahkan diri kepada Bapa dan pada saat kita menerima buah penebusan Kristus melalui Misteri Paskah-Nya. Sebaiknya diingat, suara yang kita dengar (“Inilah Tubuh-Ku, Inilah Darah-Ku”, adalah suara Kristus sendiri. Jadi tataplah Hosti dan Piala itu dengan penuh hormat, sambil mengatupkan kedua tangan, kita boleh mengangkat kedua tangan yang terkatup dengan posisi menyembah, namun dengan berlutut saja sebenarnya itu sudah merupakan ungkapan penyembahan kita.

7. Pada saat berdoa atau menyanyikan Bapa Kami

Sewaktu mendoakan Bapa Kami, imam berdoa atas nama Gereja atau IN PERSONA ECCLESIA. Pada saat itu imam akan merentangkan tangan sebagai lambang Kristus yang mempersatukan seluruh umat yang hadir dalam perjamuan karena doa Bapa Kami itu sendiri sudah mempersatukan, sehingga kita tidak perlu ikut-ikutan merentangkan tangan atau malah bergandengan tangan. Sikap yang benar pada saat ini adalah mengatupkan tangan untuk berdoa. Hayatilah doa Bapa Kami tersebut dan sadarilah bahwa “rezeki” yang kita minta itu terutama adalah “Roti Hidup” yang dipersembahkan dalam Ekaristi.

8. Ketika menerima komuni, TATAPLAH terlebih dahulu hosti yang diangkat sebelum ditaruh di tangan kita. Amin harus diucapkan dengan penuh iman

9. Tidak mengucapkan doa-doa  dan gerakan PRESIDENSIAL (yang hanya diucapkan atau dilakukan oleh imam saja)

Contoh : “…jangan perhitungkan dosa kami tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu” atau pada saat imam merentangkan tangan saat doa Bapa Kami atau saat memberikan berkat pengutusan.

10. Mengambil air suci saat keluar gereja tidak perlu dilakukan

Kita tidak perlu mengambil air suci pada saat selesai misa, karena Kristus yang Maha Suci sudah masuk dalam tubuh kita, sehingga tidak diperlukan lagi sarana penyucian lainnya. Namun demikian, hal tersebut tidak ada salahnya kalau dilakukan, asal jangan karena latah, namun harus disertai dengan kesadaran iman, bahwa kini kita telah diutus untuk mewartakan karya salib Kristus lewat perkataan dan perbuatan kita.

Dengan demikian, maka marilah kita mengikuti Liturgi Perayaan Ekaristi dengan baik dan benar yang dapat membawa kita semakin dekat dengan Allah. Tuhan memberkati.

(Alicia Tjandra)

Penulis adalah Sekretaris Sie Liturgi, Paroki BMV Katedral Bogor.

One thought on “Menghayati Sikap Liturgis

Leave a Reply

Top