Anda di sini
Beranda > Pastoral > Mendengarkan Obat yang Paling Manjur

Mendengarkan Obat yang Paling Manjur

[KATEDRAL] Mendengarkan adalah obat yang paling manjur. Untuk membangun surga dalam keluarga, setiap pasangan perlu saling mendengarkan. “Tengoklah apakah pasangan atau suami anda mau mendengarkan anda, apapun cerita anda? Mendengarkan merupakan salah satu tanda ia mengasihi anda,” ungkap Provinsial Ordo Karmel Indonesia RP Ignasius Budiono O.Carm kepada ratusan peserta yang menghadiri seminar bertajuk “Keluargaku, Surgaku” di Aula Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Bogor.

Lebih lanjut Romo Budiono menjelaskan, tidak semua orang mau mendengarkan orang lain. “Menjadi pendengar yang baik itu tidak mudah. Mendengarkan itu membutuhkan telinga, pikiran dan hati yang terfokus pada orang yang ingin kita dengarkan. Seperti halnya rumah, keluarga juga harus memiliki lima bagian yang penting. Bagian-bagian itu pada rumah diasumsikan sebagai lantai, dinding, atap, dan pintu,” jelasnya.

Lantai, sambung Romo Budiono, adalah simbol pondasi untuk saling percaya. “Hal yang paling buruk dalam keluarga adalah ketika seseorang tidak dipercaya lagi oleh pasangannya. Sebaliknya, hal yang membahagiakan adalah ketika anda mendapat kepercayaan dari pasangan,”  ujarnya. Sedangkan dinding merupakan simbol kehangatan. “Dinding dalam rumah diibaratkan keluarga juga harus saling memberi kehangatan, saling berbagi saling mendengarkan. Di sinilah terjalin interaksi bahwa pasangan saling menerima dan menginginkan satu dengan yang lain,” ucapnya. Dia mengingatkan, pasangan yang baik harus mampu menjaga rahasia pasangannya. “Apapun keburukan pasangan anda, tidak boleh diceritakan pada orang lain. Anda harus melindunginya. Orang yang suka mengumbar keburukan pasangannya, apalagi di medsos pastilah ia tidak memiliki cinta dan tidak menghargai perkawinannya,” katanya. Pria sejati dan wanita bijak harus mampu saling melindungi, bahkan dalam situasi buruk sekalipun. “Saling menjaga rahasia dan saling melindungi merupakan martabat yang luhur dalam sebuah perkawinan,” ujarnya.

Sementara atap dan pintu sebagai simbol rumah dalam perkawinan juga berfungsi sebagai tempat untuk melindungi dan simbol kebebasan. “Seperti halnya atap rumah yang melindungi kita dari kepanasan atau kehujanan, keluarga juga harus menjadi tempat perlindungan yang nyaman bagi anggota keluarganya. Saat suami merasa lelah, istri galau, anak-anak takut, keluarga harus menjadi tempat yang damai yang saling melindungi satu dengan yang lain. Sedangkan pintu merupakan simbol kebebasan, bukan penjara. Anak harus bisa keluar namun tetap terjaga. Tidak ada satu pun orang yang tidak pernah berbuat salah, karenanya pintu menjadi simbol  pengampunan atas kesalahan itu. Kebaikan yang sebenarnya adalah mengampuni, karena menyadari anggota keluarga bukanlah orang-orang yang sempurna. Manusia pada dasarnya orang yang mudah terluka, mudah jengkel, tersinggung, dengan ucapan-ucapan yang mungkin saja terjadi yang kurang menyenangkan dari pasangan. Karena itu juga cegahlah kebrutalan dan kekerasan dalam keluarga,” pesannya.

Hindari Lima Racun

Untuk membangun surga dalam keluarga Romo Budiono mengajak para peserta untuk menghilangkan lima racun yang berpotensi terjadi saat menjalani biduk rumah tangga. “Saat membangun keluarga atau dalam perjalanan rumah tangga ada lima racun yang harus dihilangkan yakni kebencian, iri hati, kesombongan, rakus, dan bodoh“ ungkapnya.

Dia memaparkan, benci adalah perasaan tidak senang terhadap sikap pasangan atau anggota keluarga. “Rasa tidak senang harus bisa ditunjukan dengan cara yang dewasa, yang membangun pasangan anda, bukan dengan membencinya. Lalu sikap iri hati ganti dengan selalu mengucap syukur, melihat kebaikan dalam hidup,” katanya. Romo Budiono juga menekankan racun yang tersembunyi adalah sikap sombong atau merasa lebih unggul dari yang lain. “Tidak ada hal yang paling buruk selain hidup dengan orang yang sombong. Tidak pernah akan ada persahabatan yang tulus dengan orang yang sombong, yang penuh dengan pencitraan. Orang sombong tidak memiliki kompatibel atau tidak mampu bergerak dan bekerja dengan keserasian atau kesesuaian. Sebaliknya, kondisi terbaik adalah ketika seseorang bisa hidup bersama dengan orang yang rendah hati,” tukasnya.

Sedangkan sikap rakus dimaksudkan pada sikap ingin menang sendiri, merasa dirinya yang paling benar. Dan bodoh merupakan sikap yang tertutup, tidak mau terbuka pada kebaikan dan kebenaran. “Jika anda menghendaki surga dalam keluarga, hindarilah kelima racun itu. Surga dalam keluarga sesungguhnya ketika pasangan suami istri sungguh saling mencintai, dan hidup dalam kesederhanaan namun memiliki sukacita. Hal ini sejalan dengan harapan Paus Fransiskus,” tandasnya.

Seminar yang digelar oleh Kemp (Camp) Pria Sejati Katolik (Priskat) pada Sabtu, (13/10) tersebut juga menghadirkan Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM. “Untuk membangun surga dalam keluarga, setiap pria harus mengalami pertobatan yang memiliki efek dan transformasi dalam keluarga. Pria sejati menyadari tanggung jawabnya sebagai suami dalam keluarga. Dia harus mampu mengembangkan keluarganya. Karenanya, seorang pria harus bersumber pada Tuhan Yesus, karena Tuhanlah sumber sukacita dan kesempurnaan seorang pria ada dalam diri Yesus. Ketika itu terjadi, surga yang dicita-citakan dalam keluarga dapat terwujud,” katanya.

Ketua panitia seminar, Alvared Pasaribu menyatakan, banyak manfaat yang diterimanya saat mengikuti Kemp Priskat. “Yang jelas ada pertobatan ketika mengikuti Kemp Priskat. Namun kita berharap tidak berhenti pada saat itu saja, namun seorang pria harus terus menumbuhkan imannya untuk menjadi pria yang benar di hadapan Tuhan dan di tengah keluarga. Maka itu seminar-seminar untuk membangun keluarga seperti ini membawa banyak manfaat bagi para peserta, khususnya para pria,” pungkasnya.

(Jam)

Leave a Reply

Top