Anda di sini
Beranda > Pastoral > Mari Cintai Liturgi

Mari Cintai Liturgi

[KATEDRAL] Pelatihan Berjenjang Berkesinambungan (PBB) yang diadakan oleh Paroki BMV Katedral Bogor mencapai akhirnya. Setelah melalui 8 kali pertemuan, PBB yang baru pertama kali digelar ini ditutup dengan materi Liturgi, Minggu (2/9) siang. Adapun pemateri dalam PBB terakhir ini adalah Thomas Sutadi selaku aktivis serta anggota dari Komisi Liturgi Keuskupan Bogor dan Hubertus Wiyogo Ketua Seksi Liturgi Paroki BMV Katedral Bogor.

“Mari mencintai Kristus dengan mencintai GerejaNya, mencintai Liturginya, serta mencintai pelayanan kita,” kata Thomas Sutadi.

Dalam pertemuan ini Thomas membahas teori-teori liturgi dengan menunjukan dasar-dasar dokumen gereja seperti Katekismus Gereja Katolik (KGK), sacrosanctum concilium (SC), dan banyak lagi. Sedangkan Wiyogo memaparkan praktik liturgi yang berlangsung selama ini di Paroki Katedral.

Menurut Konsili Vatikan II, liturgi merupakan karya bersama antara Kristus sang kepala, dan Gereja yang adalah Tubuh Kristus (lih. SC 2). “Jadi, tidak ada kegiatan gereja yang lebih tinggi nilainya dari pada liturgi karena, di dalam liturgi terwujud persatuan yang begitu erat antara Kristus dan Gerejanya,” papar Thomas.

Liturgi itu sendiri mencakup banyak hal, di antaranya sakramen-sakramen, ibadat harian, dan sakramentalia. “Wewenang mengatur liturgi itu  hanya ada di pimpinan gereja, secara universal adalah Paus, namun secara partikular adalah Uskup setempat, dalam batas tertentu juga ada pada konferensi para Uskup. Oleh karenanya, liturgi tidak boleh diubah-ubah se-enaknya, jika itu terjadi maka desakralisasi liturgi akan muncul dan ini yang menjadi masalah kita bersama,” tuturnya.

Kemudian Wiyogo mengungkapkan, secara umum liturgi di Paroki Katedral sudah berjalan dengan baik. Ia menjelaskan beberapa praktik pelayanan liturgi di wilayah/lingkungan seperti misa arwah, sakramen pengurapan orang sakit, pengiriman hosti untuk orang sakit, dan lain-lain. “kehidupan berliturgi juga harus diimbangi dengan kerukunan antarumat yang baik. Jangan merasa eksklusif, jangan merasa minoritas. Berbaurlah dengan orang sekitar agar rasa saling menghargai bisa hadir disekitar kita,” tukasnya.

(John)

Leave a Reply

Top