Anda di sini
Beranda > Artikel > Malam Kudus, Malam yang Tulus

Malam Kudus, Malam yang Tulus

Hening. Suasana di ruang UGD itu mulai sepi. Tinggal aku, suamiku, dan Mak Entim yang terkulai lemas di atas ranjang. Dia belum sadar betul dari pingsannya. Sesekali dokter jaga menengok keadaannya.

Aku menungguinya dengan gelisah. Apalagi anaknya yang tinggal di kota lain belum juga bisa kuhubungi. Aku mendapat nomor telepon anaknya dari salah satu tetangga yang tadi sempat ikut mengantar Mak Entim ke rumah sakit. SMS belum dibalas. Telpon belum diangkat. Suamiku lebih tenang daripadaku.

“Apakah keadaannya sangat mengkhawatirkan, Dok?” tanyaku pada dokter jaga yang kembali menengok keadaan Mak Entim.

“ Tidak! Kondisinya berangsur normal. Beberapa saat lagi pasti pulih kesadarannya.

“Baik, Dok!” jawabku dengan perasaan lega karena ada harapan sembuh untuk Mak

Entim.

“Ibu keluarganya kan?” tanya suster perawat kepadaku dengan penuh keyakinan. “Tetangga, Sus. Kami bertetangga sudah 21 tahun.”

“Malam ini keluarganya ada yang datang?” tanya suster itu lagi.

“Belum  tahu.  Anaknya  tinggal  di  kota  lain.  Saya  hubungi  belum  bisa. Saudara-saudaranya kebetulan tadi sedang pergi, jadi tidak ada yang ikut. Mungkin nanti menyusul.” “Oh ….! Ada pesan dari bagian administrasi, Bu.”

“Baik, nanti coba saya yang ke sana,” jawabku kepada suster itu untuk meyakinkan bahwa ada yang bertanggung jawab atas Mak Entim.

Setelah aku kembali dari bagian administrasi, aku kembali duduk di sebuah kursi di ruang UGD. Sambil  termenung aku  teringat  beberapa  jam lalu ketika aku dan suamiku melewati depan rumah Mak Entim.

Kami berhenti di jalan depan rumah Mak Entim karena ada beberapa orang yang mondar-mondir dan tampak tegang.

“Ada apa, Bu?” tanyaku.

“ Tolongin Mak Entim, Bu! Dia pingsan. Kami tidak ada mobil. Mobil Wak Acang lagi dipakai kondangan. Kondisinya lemah sekali. Sudah kami kasih minyak dan bau-bauan, belum sadar juga!”

“ Ayo, buruan, Mak! Biar kami bawa ke rumah sakit.” kataku kepada mereka.

Ketika itu kami akan berangkat ke gereja. Pada malam Natal yang telah kami nanti- nantikan,  kami  mendapat  kehormatan  untuk  melantunkan  puji-pujian  bersama  kelompok paduan suara kami untuk misa Natal yang kedua.

Kini kami berada di UGD. Bila kami tidak membawa Bu Entim yang pingsan itu, seharusnya kami duduk di kursi paduan suara gereja dan melambungkan pujian menyambut kelahiran Sang Juru Selamat. Sudah berkali-kali kami berlatih agar dapat mempersembahkan yang terbaik. Akhirnya kami harus melewatkan tugas kehormatan itu. Kini kami bertugas menjaga kelahiran Yesus dalam diri Mak Entim.

Malam semakin merambat. Jarum pendek jam dinding sederhana yang tergantung di ruang UGD itu sebentar lagi menghampiri angka sepuluh. Bila kami sampai di gereja, kira- kira pada jam itu kami menyanyikan lagu Malam Kudus. Lagu yang membuat merinding bila dihayati dalam melantunkannya. Kini aku senandungkan lagu itu bersama suami di samping Mak Entim yang terbaring lemah, bagai bayi Yesus yang terbaring di palungan.

Lagu Malam Kudus yang kami senandungkan ternyata membangunkan Mak Entim. Pandangan matanya menunjukkan   keheranan. Ia memandang sekitarnya, dan tidak

menemukan benda-benda yang ada di rumahnya. Semua asing baginya.

“Mak ….., syukurlah Mak Entim sudah sadar. Kami khawatir, sejak tadi Mak gak sadar-sadar. Semoga segera pulih kesehatan Mak Entim!” sapaku menyambut Mak Entim yang baru saja membuka matanya.

“ Di mana saya?” tanya Mak Entim.

“ Di rumah sakit, Mak. Tadi Mak pingsan. Ibu-ibu di sekitar rumah sudah menolong, tapi Mak gak sadar-sadar dari pingsan. Akhirnya kami membawa Mak kemari.”

“Ya, tadi tiba-tiba pandangan saya burem!” katanya lirih, sambil mengingat-ingat kejadian itu.

Tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan.

“ Ibu dan Bapak baju batiknya seragam. Dari kondangan?”

Aku membalas pertanyaan Mak Entim dengan sebuah senyuman.

“Kondangan di mana, Bu?” dia menambahkan pertanyaan lagi.

“ Hmm, kondangan di gereja, Mak. Ada yang lahiran!” jawabku sambil bercanda

untuk menghiburnya.

“Di gereja kok ada yang lahiran?”

“ Yesus kami lahir malam ini, Mak. Ini malam Natal. Tadi kami mau ke gereja. Pakai

seragam karena kami mendapat tugas menyanyi.”

“ Jadi, Ibu dan Bapak tidak menyanyi di gereja gara-gara antar saya ke sini?” “ Kami tetap menyanyi, Mak. Baru saja kami menyanyi Malam Kudus.” Pembicaraan terhenti sejenak.

“Bu …….,” Mak Entim memanggilku. Tetapi ia tidak melanjutkan omongannya. “ Ada apa, Mak? Katakan saja !”

Mak Entim terdiam sejenak. Ia ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Aku mengelus-elus punggung tangannya sambil memandangnya lembut.

“Maafkan saya, Bu Yoan! Maafkan sikapku selama ini!”

“Sudahlah, Mak! Saya tidak apa-apa kok. Lupakan saja! Selama ini saya menganggap

Mak Entim juga emak saya.”

“Maafkan saya, Bu Yoan!” ia mengulangi lagi.

Aku menganggukkan kepala sebagai jawabannya.

Ya, selama dua puluh satu tahun ini, Mak Entim memang orang yang tidak menerima kehadiranku. Sebagai pendatang, aku sudah berusaha untuk bersikap baik dan bergaul dengan orang-orang yang lebih dahulu tinggal di daerah itu. Tetapi aku tidak tahu, alasan apa yang membuat Mak Entim ini bersikap tidak baik padaku.

Malam itu benar-benar malam yang kudus. Malam yang menghadirkan ketulusan sebuah maaf. Malam yang menghadirkan kedamaian dalam hatiku maupun hati Mak Entim.

(Yosephine Dwi Purwiyani)

Leave a Reply

Top