Anda di sini
Beranda > Mutiara Biblika > Kehidupan Baru

Kehidupan Baru

Lukas 2:11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.2:12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”2:13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:2:14 “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

            Bidan Saikem adalah bidan senior yang ada di kampung. Setiap hari kerjaannya keliling kampung untuk melayani persalianan. Banyak sekali pasien yang menggunakan jasanya, karena beliau selalu hadir di tempat persalinan itu berada. Bidan itu selalu berpakaian rapi ala jawa, yakni menggenakan jarit dan sanggul ke mana saja beliau pergi ke luar rumah. Penampilan menunjukkan bahwa beliau seorang priyayi yang mendapat martabat sosial lebih tinggi di kampung itu. Setiap orang pasti mengenalnya, karena beliau adalah satu-satunya bidan yang dikenal di kampung itu.

            Kampung itu jauh dari rumah sakit. Yang  ada hanya sebuah puskemas kecil yang melayani orang-orang sekitar. Sementara rumah bersalin ada dengan jangkuan yang sangat sulit, tentu dengan biaya yang lebih mahal. Oleh karena itu, jasa bidan Saikem ini sangat membantu penduduk setempat. Banyak pasien ditolongnya dan semua dilaksanakan di rumah di mana seorang ibu menjalani persalinan. Bantuan bidan Saikem itu memberikan sebuah gambaran  pelayanan luar biasa. Tindakan membantu sebuah kehadiran kehidupan baru di dunia ini. Sepeda onthel tua itu selalu menemani Bidan Sekiem menuju tempat pasien. Namun, jika hujan lebat, Bidan Saikem berjalan kaki sekalipun dalam kegelapan malam.

            Malam itu pertengahan Desember, suasana sepi sekali. Kampung sudah mulai hujan dan tanah-tanah semakin becek, sehingga motor atau pun sepeda susah melintas. Satu-satunya yang mudah diakses hanya dengan jalan kaki. Hujan sudah mulai sejak sore itu dan malam semakin sepi karena tidak seorang pun berani ke luar rumah. Mereka lebih menunggu di rumah seraya mendengarkan suara radio. Sementara ada pula yang hanya bisa duduk-duduk di rumah seraya menikmati hujan pada Desember itu.

            Saya dan Simbok duduk di beranda rumah seraya mendengarkan alunan katak-katak yang bergembira menyambut hujan pada malam itu. Suara katak bersautan itu memberikan suasana kampung semakin kentara. Irama suara katak itu ibarat sebuah nyanyian surgawi yang murni karena kegembiraan yang tiada tara. Demikian juga Desember adalah sebuah bulan yang selalu dinantikan bagi umat Kristiani menyambut Natal. Sebuah kehidupan baru muncul dan disambut dengan alam yang gembira pula. Para maliakat ikut bersorak mengabarkan ke seluruh penjuru dunia, terutama kepada para gembala.

            “Mbok, Simbok,” tanya Paijo.

            “Jo, kenapa Jo, Paijo?” jawab Simbok.

            “Kapan sih saya dilahirkan sebetulnya?” tanya Paijo.

            “Jo, Paijo. Saat itu Simbok juga lupa tepatnya. Hanya Simbok Ingat bahwa kelahiranmu itu saat malam itu hujan seperti ini. Simbok merasa perut mulai sakit, tetapi belum juga melahirkan,” seru Simbok.

            “Lho, Simbok tidak pergi ke rumah persalinan?” tanya Paijo.

            “Jo, Paijo. Simbok tidak mempunyai uang cukup untuk itu. Ya seingat Simbok Bidan Saikem itu yang membantu Simbok melahirkan kamu,” seru Simbok.

            “Oh, gitu ya Mbok. Berarti Desember ini saya ulang tahun donk Mbok,” seru Paijo.

            “Jo, Paijo. Kita orang desa jadi tidak pernah merayakan ulang tahun. Saya sendiri juga tidak tahu kapan ulang tahunmu. Seingat saya dulu ditulis di balik lemari. Akan tetapi, lemarinya sudah dijual Jo, Paijo, jadi catatan hilang,” kata Simbok memelas.

            “Oh, gitu ya Mbok,” Seru Paijo

            “Seingat Simbok,  kamu dilahirkan Minggu Legi, pada pagi pagi hari. Malamnya ya hujan seperti ini, dan paginya cerah. Itu saja yang simbok ingat dari kelahiranmu. Oh ya, pas hari itu juga kambing Simbok juga beranak,” jawab Simbok.

            “Iya mbok, masa saya disamakan lahirnya dengan kambing,” Seru Paijo

            “Itu tanda-tanda alam Jo, Paijo. Alam itu menjadi saksi, kapan saya dilahirkan, setidaknya bareng kambing yang di belakang itu,” seru Simbok sambil tertawa.

            “Jo, Paijo. Kamu tidak perlu sedih. Coba kamu bayangkan bagaimana Yesus lahir. Di dalam Kitab Suci juga tidak dijelaskan kapan, tetapi tanda-tanda alam menyelimuti kelahirannya. Malaikat pun  ikut bergembira dengan menyanyikan lagu surgawi “GLORIA IN EXCELSIS DEO”.  Mereka membagikan kegembiraan kepada para gembala. Alam ikut bergembira kelahiran Kristus,” ungkap Simbok sambil tersenyum.

            “Iya mbok, jadi saya juga tidak perlu berkecil hati. Setidaknya ada tanda alam saya dilahirkan, yakni kambingnya Simbok juga beranak, heeee,” seru paijo sambil tertawa.

            “Jo, Paijo. Makanya kamu harus bersyukur dalam kekurangan kamu bisa dilahirkan selamat, berterima kasih pula kepada Bidan Saikem yang telah membantu persalinan Simbok,” ujar Simbok.

            “Iya, mbok, Simbok,” seru Paijo

            Selang beberapa lama kami berbincang, terdengar suara kambing mengembik keras. Kami segera ke belakang untuk melihat apa yang terjadi.

            “Ohhhhhhh walahhhh, kambingnya beranak lagi, Jo, Paijo. Minggu Legi lagi seperti kamu,” ujar Simbok sambil tersenyummmm.

            “Jo, Paijoa nasibmu memang harus jadi gembala kambing, Jo, Paijo. Kambing saja lahirnya sama dengan kamu,” kata Paijo dalam hati sambil cengar cengir seraya menunggu kambing-kambing yang sedang lahir itu.

            “Selamat Natal, Jo, Paijo dan selamat ulang tahun juga bersama kami Jo.  Embekkkkkk, embekkkkkk,” seru kambing itu seperti mengucapkan selamat kepada Paijo.

(RD Nikasius Jatmiko)

Leave a Reply

Top