Anda di sini
Beranda > Mutiara Biblika > Kaum Anawim

Kaum Anawim

Lukas
2:15 Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”

            Kehidupan masyarakat terdiri dari berbagai macam lapisan, ada yang kaya, miskin, terpinggirkan atau pun berpangkat. Perbedaan status sosial ini selalu ada di setiap kehidupan masyarakat di mana pun dan kapan pun berada. Pluralitas masyarakat ini memenuhi bumi dan seisinya untuk saling mengisi satu dengan yang lain demi keselarasan. Ibarat bumi dipenuhi dengan aneka macam hayati, semua tentunya mempunyai fungsi membangun keseimbangan alam ini. Demikian juga aneka status sosial itu membentuk sebuah komunitas agar dunia semakin seimbang.

            Perbedaan status sosial  itu tampaknya juga ada dalam kehidupan zaman Maria dan Yosef. Maria dan Yosef hendak mencari penginapan ketika akan melahirkan anaknya dan mereka ditolak sana-sini. Ini gambaran betapa mereka ada dalam kalangan orang kecil secara sosial dan ekonomi. Ketidakmampuan finansial untuk mencari penginapan dan memilih gua menggambarkan bahwa Maria dan Yosef dalam status sosial yang bawah. Ini bisa dibandungkan dengan kelompok kaum Farisi dan ahli taurat atau para pemukut cukai jaman itu.

Status sosial itu ikut beperan juga ambil bagian dalam kehidupan secara luas dalam masyarakat dan negara. Namun, status sosial berbeda itu sering kali menjadi pemicu bagi orang ke dalam konflik sosial. Hal itu tampak dalam kehidupan yang berbeda terutama dalam pelayanan sosial. Demikian juga status sosial Maria dan Yosef membuat kesulitan manakala akan melahirkan putranya. Bayi terbungkus lampin dan diletakan di palungan (Lukas 2:12) menunjukkan betapa Yesus dilahirkan dalam kesederhanaan, bukan di dalam sebuah istana.

Adalah sekompok kaum Anawim. Kelompok ini sering disebut-sebut sebagai orang yang mempunyai status sosial sangat rendah. Salah satu gambarannya ada pada para gembala (Lukas 2:8-11). Mereka hidup di padang untuk menggembalakan ternaknya. Hidupnya pindah-pindah tempat demi ternak yang digembalakannya. Hidupnya penuh dengan ketidakpastian, karena hidupnya seperti orang nomaden, yang pindah-pindah tempat. Status posisi ini sering kali dikategorikan orang yang terpinggirkan, orang yang tidak mempuyai status sosial tinggi, atau orang yang tidak mempuyai hak suara yang kuat dalam kehidupan secara luas. Namun, mereka justru tersapa lebih dulu oleh Allah melalui malaikat akan kabar suka cita. Ketakutan menjadi kebahagiaan, karena kabar gembira lahirnya sang penyelamat.  

Pagi itu bermodal arit dan keranjang, Paijo pergi ke sawah mencari rumput. Januari, sawah-sawah menghijau dan rumput-rumput di pamatang tumbuh subur. Paijo tidak ubahnya kaum Anawim, mencari rumput untuk kambing-kambing di rumah, bedanya gembala zaman itu mengembalakan di padang, sementara itu Paijo mencari rumput di sawah. Banyaknya rumput di sawah tentu tidak menyulitkan  untuk mendapatkan rumput segar dengan cepat. Selang beberapa saat, keranjang itu penuh dengan rumput. Segera Paijo pulang seraya memanggul keranjang di atas kepala dan membawa arit di tangan kanan. Paijo bersenandung gembira karena mendapat rumput segar. Sekeranjang penuh rumput cukup untuk hari ini dan besok, jadi kambing-kambing sudah siap dengan makanannya. Jadi besok Paijo tidak perlu lagi ke sawah untuk mencari rumput.

“Jo, Paijo,” seru seorang memanggil ketika Paijo berjalan sambil bersenandung.

“Ya, siapa?” tanya Paijo dengan lantang seraya berhenti dan menoleh kanan dan kiri. Orang itu tidak tampak karena pohon jagung mulai meninggi sehingga orang yang memanggil itu tidak kelihatan. Paijo pun meneruskan langkahnya.

“Jo, Paijo,” seru orang itu seperti menggoda.

Wahhhh, jangan-jangan hantu di tengah siang hari. Ada suara, tetapi tidak ada orang,” seru Paijo dalam hati.

Hai, hoooo, hiiiii. Siapa ya?” tanya Paijo sekali lagi dengan aneka seruan.

Tampaknya pertanyaan Paijo itu juga tidak lagi dijawab. Sehingga, membuat  Paijo mulai ketakutan di sawah seorang diri. Nyalinya mulai menciut terdengar suara, tetapi tidak melihat orangnya. Paijo segera ingin meninggalkan tempat itu dengan cepat. Teringat cerita-cerita orang tua jika di sawah seorang diri ada yang memanggil itu sejenis setan yang ingin membingungkan. Wahhhhh, perasaaan Paijo jadi kacau. Akhirnya, Paijo pun lari sekuat tenaga sambil membawa rumput itu. Banyak rumput berceceran sehingga keranjang yang tadinya penuh jadi tinggal separo.

Jo, Paijo, kamu kenapa Jo, Paijo?” seru Simbok yang melihat Paijo seperti ketakutan lari-lari dari sawah.

Mbok, Simbok. Bener kata orang tua, di sawah ada hantu Mbok. Tadi saya dipanggil-panggil orang, tetapi saya cari orangnya tidak ada Mbok,” sahut Paijo dengan nafas terenggah-enggah.

Jo, Paijo. Kamu itu penakut, mana ada pagi hari menjelang siang, panas matahari sudah menyengat ada setan. Di mana imanmu?” seru Simbok dengan tertawa serasa meledek Paijo, penakut itu.

Ah, Simbok, ini bener Mbok, Simbok,” seru Paijo.

Dah, sekarang duduk, ini Simbok buatin teh hangat. Biar bangun dari mimpi di siang hari” seru Simbok

Jo, Paijo. Ini minum dulu biar sedikit tenang,” kata Simbok sambil menemani Paijo.

Xie-xie, ya Mbok,” seru Paijo.

Apa itu Xie-xie, Jo, Paijo,” tanya Simbok.

Ah Simbok kurang gaul, itu bahasa anak muda sekarang, artinya terima kasih,” seru Paijo.

Ohhhh, kamu itu gaya, penakut saja pakai bahasa anak muda zaman now,” jawab Simbok sambil setengah meledek.

Jo, Paijo. Kamu itu anak laki-laki, kenapa jadi penakut. Bagaiman kamu nanti bisa melindungi orang kecil seperti Simbok ini. Harusnya kamu itu menjadi orang yang pemberani dan  menjadi laki-laki kuat. Ini baru dengar suara yang belum jelas saja sudah lari terbirit-birit,” kata Simbok menasehati.

“Inilah Mbok nasib orang kecil di kampung,” jawab Paijo membela diri.

“Jo, Paijo, itu bukan menjadi alasan bahwa karena orang kampung jadi kita boleh takut. Justru kamu harus menunjukkan kan diri bahwa orang kampung dan orang kecil itu kamu punya sebuah presatasi hidup. Setidaknya memberikan kebahagiaan bagai orang lain. Mampu menjaga orang lain, bukan lari dari ketakutan itu,” seru Simbok sedikit agak keras.

Iya, Mbok, Simbok. Saya salah. Kenapa saya tadi begitu takut ketika mendengar panggilan orang, hanya karena saya belum melihat orangnya,” jelas Paijo

Nah itu. Belajarlah dari para gembala di padang ketika mendapat kabar dari malaikat. Awalnya mereka ketakutan, tetapi ketika malaikat menjelaskan maka mereka menjadi gembira. Orang kecil disapa Allah melalui malaikat karena membuka diri. Sehingga keterbukaan kepada Allah itu membawa keberanian dan kebahagiaan, sementara ketakutan akan membawa situasi jauh dari Allah,” seru Simbok menasihati.

Jadi tetap bersyukurlah bahwa kamu itu orang kecil, kalau memang Allah menghendaki itu. Kamu tidak perlu takut dan kecewa, yang penting kamu jujur hidupnya dan terbuka pada kehendak Allah,” kembali Simbok menasihati Paijo.

Tidak selang lama Simbok dan Paijo bercakap-cakap ada orang datang ke rumah.

Permisi, kulonuwun,” seru tamu itu dari luar.

“Ya,” jawab Paijo dan Simbok serentak

Ahhhhh, ada Mbah Mitro di depan rumah dengan membawa jagung,” seru Paijo dalam hati.

Ada apa Mbah?” tanya Simbok

Saya tadi panggil-panggil Paijo, pas di sawah. Padahal saya mau memberi jagung ini. Belum sempat saya keluar dari kebun jagung, Paijo lari ketakutan,” seru Mbah Mitro sambil senyum-senyum.

Ohhhhhhh, jadi yang panggil-panggil itu Mbah Mitro, saya kira hantu,” seru Paijo seraya tertawa.

Iya, saya panggil-panggil kamu, malahan lari,” seru Mbah Mitro.

Terima kasih, Mbah Mitro. Mohon maaf, saya salah paham, heeeeee,” seru Paijo malu tersipu.

Iya, gak papa, semoga bisa untuk teman minum teh,” seru Mbah Mitro sambil pamit pulang.

“Terima kasih Mbah Mitro,” seru Simbok dan Paijo.

Jo, Paijo dasar wong ndeso. Ketakutan menjadi kegembiraan. Wah seperti para gembala di padang donk,” seru Simbok meledek Paijo.

Embekkkkkkk, embeeeeek,” kambing pun ikut menertawakan Paijooooooo.

(RD Nikasius Jatmiko)

Leave a Reply

Top