Anda di sini
Beranda > Mutiara Biblika > Doa untuk Arwah Umat Beriman

Doa untuk Arwah Umat Beriman

Zakaria

13:8 Maka di seluruh negeri, demikianlah firman TUHAN, dua pertiga dari padanya akan dilenyapkan, mati binasa, tetapi sepertiga dari padanya akan tinggal hidup.13:9 Aku akan menaruh yang sepertiga itu dalam api dan akan memurnikan mereka seperti orang memurnikan perak. Aku akan menguji mereka, seperti orang menguji emas. Mereka akan memanggil nama-Ku, dan Aku akan menjawab mereka. Aku akan berkata: Mereka adalah umat-Ku, dan mereka akan menjawab: TUHAN adalah Allahku!”

Pagi itu Simbok telah menyiapkan bunga tabur. Setiap tahun Simbok selalu mengunjungi makam bapak,  kakek, dan nenek. Di makam itu telah disemayamkan ribuan orang yang telah mendahului kita. Ini sebuah peristiwa yang akan terjadi bagi setiap orang yang pernah hidup di dunia, diakhiri perjalanannya di makam itu. Realitas ini tidak bisa dihindari oleh manusia. Semua orang hidup di dunia siap menunggu giliran dipanggil Tuhan.

Bunga mawar dan melati yang ada di kebon samping rumah itu dipetik oleh Simbok dan dibawa ke makam. Sekuntum bunga  mawar merah itu menambah bunga tabur yang telah disiapkan sejak kemarin sore. Sementara bunga mawar dan melati dipetik pagi hari menjelang berangkat ke makam.

Kami pergi seraya seraya membawa bunga dan juga sapu lidi untuk membersihkan makam. Cara  itu sudah rutin dilakukan Simbok setiap 2 November. Sementara kunjungan ke makam di luar 2 November kadang-kadang kalau ingat saja. Perjalanan dari rumah ke makam tidak begitu jauh, setidaknya perjalanan dapat ditempuh 15 menit. Dalam perjalanan menuju makam, kami tidak banyak bicara. Sesekali saja terucap beberapa kata, hanya menyelingi perjalanan biar tidak sepi. Suasana makam itu memang sepi, tetapi makam itu tidak jauh pula dari perumahan penduduk. Perjalanan itu selalu harus bertemu penduduk setempat dan sudah sewajarnya kita menyapa sebagai ungkapan sopan santun.

Selang beberapa lama kami pun sampai di makam itu. Ternyata sudah banyak orang yang di makam untuk mendoakan sanak saudara mereka. Kami menyapa mereka kemudian membersihkan makam dan berdoa untuk mereka yang sudah meninggal. Di depan nisan itu kami berdoa khusuk minta belas kasih Allah, semoga semua arwah beriman diterima dalam kemuliaan Allah, terutama keluarga kami. Selesai doa kami menabur bunga, Simbok menaruh bunga mawar tadi di atas nisan. Sebuah tanda kasih Simbok untuk almarhum yang telah damai bersama Kristus. RIP: Requiscat In Pace (Semoga ia istirahat dalam damai).

Selepas berdoa bersama, kami masih duduk di samping makam itu yang kebetulan ada pohon rindang. Kami  berteduh sebab matahari mulai menyengat walaupun masih pagi. Keringat mulai mengalir di seluruh badan, haus mulai terasa di kerongkongan, dan perut mulai berbunyi meminta jatah makan. Namun sayang, Simbok tidak membawa makan dan minum ketika pergi ke makam, jadi semua harus ditahan seperti biasanya. Dalam situasi itu kami masih bertahan sambil bicara seperlunya.

Dalam suasana hati berdoa kami masih duduk seraya melihat para peziarah yang mulai juga banyak berkunjung untuk mendoakan saudara-saudari mereka.  Dalam keheningan di bawah pohon samping makam itu tiba-tiba ada orang menyapa kami.

Mbok, Jo, selamat pagi,” sapa wanita itu dari belakang,

Oh, met pagi Menik,” sahut Simbok dan Paijo pun ikut menoleh ke belakang sambil tersenyum.

Met pagi, juga,” sapa Simbok ke  Menik, ibu serta adiknya.

Kami pun berbincang bersama berlima di makam itu tanpa tema. Intinya sapaan sesama umat Katolik yang sedang berziarah ke makam leluhur. Adalah tidak lazim menurut Simbok makan atau minum di makam. Jadi sesudah ke makam kita harus cuci tangan di sumur baru boleh makan. Demikian juga Simbok selalu mengingatkan kami, tidak boleh langsung masuk rumah setelah dari makam sebelum mencuci kaki dan tangan. Wah aturan Simbok ini seperti orang farisi yang tidak makan dan minum sebelum mencuci tangan dan kaki.

Selepas dari kuburan kami berjalan bersama dengan keluarga Menik. Seperti biasa kami pun tidak lupa mencuci tangan dan kaki di sumur umum itu sesuai tradisi Simbok yang turun-temurun, sekalipun sampai saat ini saya juga tidak tahu maknanya. Sekiranya itu baik, kami menjalankan saja, hitung-hitung sekalian cuci muka karena belum sempat mandi.

Dalam perjalanan pulang itu pun berbincang sedapatnya, sementara Simbok berjalan dengan ibunya Menik duluan. Kami bertiga pulang sambil ngobrol, seraya melepas rasa rindu yang telah lama berpisah.

Jo, Paijo, kenapa gereja masih mendoakan arwah umat beriman, bukankan Kristus telah bangkit membawa kita ke dalam surga. Kenapa harus masuk api penyucian. Bukankah Allah itu mahapengampun?” tanya Marno, adiknya Menik.

Iya, itulah gereja mengajarkan. Saya hanya bisa memberikan gambaran begini. Marno, coba mari kita bayangkan. Seorang anak kecil kecebur di sungai, padahal anak itu tidak bisa berenang. Kita sudah mengingatkan anak itu jangan main di sungai, bisa hanyut dan tenggelam. Anak itu tidak menghiraukan larangan itu, akhirnya anak itu masuk ke sungai. Kondisi anak yang belum bisa berenang itu mengancam jiwanya maka, kita sebagai orang dewasa harus menolong dan menyelamatkannya,” jawab Paijo.

Terus apa hubungannya dengan mendoakan arwah Jo, Paijo?” tanya Menik yang selalu senang menggunakan baju kuning itu.

Begini lho, itu hanya gambaran. Anak itu diselamatkan dari kematian. Namun ketika anak itu diangkat dari air, baju yang dikenakan masih basah dan tidak serta kering. Demikian juga ketika kita meninggal, kita diselamatkan Tuhan dengan babtisan itu. Hanya bisa jadi baju rohani kita belum kering, artinya masih ada dosa-dosa yang ada dalam diri kita, ibarat baju yang basah tadi. Masa manusia mengeringkan baju “rohoni/dosa” itu. Itulah adalah pulgatory, api penyucian. Seperti ditulis dalam kitab Zakaria, kita mesti dimurnikan kembali.” Jawab Paijo

Wuihhhhhh, hebat juga kamu Jo, Paijo,” seru Menik dan Marno serentak sambil ketawa heeeeeeeee.

Menik dan Marno. Ya itulah gambaran. Bahwa yang masuk ke dalam kerajaan Allah orang yang berpakaian pesta, artinya harus rapi. Kalau pakaian kita basah, maka kita harus mengeringkan dulu biar rapi. Demikian juga masuk dalam keabadian harus suci hidupnya, makan dosa-dosa yang masih ada harus dimurnikan dulu agar bisa masuk dalam pesta surgawi,” sahut Paijo.

Wahhhh, Paijo, wong Ndeso bisa mikir segitu ya,” sahut Menik bercanda.

Jo, Paijo. Apa fungsi doa kita, bagi orang yang sudah meninggal. Itu kan sudah tanggung jawab mereka yang sudah meninggal menghadapi pengadilan terakhir itu. Kenapa kita masih perlu mendokan lagi?” tanya Marno lagi.

Kita manusia hanya bisa berdoa mohon belas kasih Allah. Gereja mengajarkan itu mohon semoga saudara kita yang masih dalam pemurnian hidupnya segera dibebsskan dan masuk dalam kerajaan abadi. Kita tidak bisa melihat secara langsung kapan saudara saudari kita masuk dalam kebadian, tetapi kita meyakini bahwa doa-doa kita akan meringankan mereka dalam masa pemurnian di pulgatory itu,” sahut Paijo.

Jo, Paijo. Saya mulai mengerti. Jadi pulgatory itu bukan hukuman, tetapi lebih proses pemurnian. Belas kasih Allah tetap ada dengan menyelamatkan kita dari kematian atau kebinasaan. Namun, ketidaktaatan manusia membawa konsekuensi baju rohani kita basah sehingga kita harus dikeringkan dalam api penyucian agar saatnya kering pantas masuk dalam keabadian di surga,” sahut Marno.

Jo, Paijo. Satu lagi, apakah kita nanti akan ketemu dengan orangtua kita lagi ketika kita dipanggil Tuhan?” tanya Menik.

Menik. Saya hanya bisa menjawab berdasarkan Injil Matius 22:30 Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Jadi kita akan seperti malaikat ketika masuk dalam kerajaan Allah,” seru Paijo.

Wahhhhhh, saya setuju kalau begitu,” seru Menik.

Diskusi dalam perjalanan itu ternyata sudah dekat rumah. Menik dan Marno pun mampir ke rumah. Ternyata Simbok dan ibunya Menik sudah selesai mempersiapkan makan untuk kita. Wahhhhh, kami pun akhirnya menyerbu makanan itu. Para kudus berpesta di surga. Kita berpesta di dunia ini.

Embekkkkkk, embeeekkkk. Jo, Paijo, jangan lupa aku dikasih makan,” seruan kambing Paijo itu seperti iri melihat kami sedang makan-makan setelah dari makam.

Iya, sebentarrrr, emmmmbekkkkkk,” seru Paijo menirukan kambing-kambingnya seraya ditertawain keluarganya Menik.

Joooooo, Paijo. Kambing diajak ngomong,” seru Menik dan Marno serentak.

(RD Nikasius Jatmiko)

Leave a Reply

Top