Anda di sini
Beranda > Nusantara > Dialog, Kunci Menangkal Radikalisme

Dialog, Kunci Menangkal Radikalisme

[KEUSKUPAN BOGOR] Radikalisme dan terorisme menjadi musuh bersama dari semua umat beragama di Indonesia, termasuk di kawasan Bogor, Jawa Barat. Radikalisme bukan menjadi musuh agama tertentu sehingga melawan radikalisme bukan berarti memandang negatif agama para pelaku. Salah satu kunci efektif adalah melakukan dialog, khususnya ditingkat para pemuka agama, agar kerukunan dapat turun hingga akar rumput.

Demikian salah satu benang merah dalam seminar Mewaspadai Radikalisme di Sekitar Kita yang digelar di Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Bogor, Minggu (9/9). Seminar ini menghadirkan Deputi III Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Sonny Y Soeharso, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamli, dan Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor H Yaqut Cholil Quomas (Gus Yaqut). Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor Ade Sarip Hidayat dan sambutan dari Uskup Purwokerto Mgr. Christophorus Tri Harsono. Acara dipandu oleh wartawan senior Harian Kompas Andreas Maryoto dan pembaca acara Rita Marcia Simanjuntak.

Deputi III Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Sonny Y Soeharso. Foto: Aloisius Johnsis

Peserta seminar merupakan para tokoh, dan masyarakat dari tiga paroki di Keuskupan Bogor yaitu Paroki BMV Katedral Bogor, Paroki St. Fransiskus Asisi Sukasari, dan Paroki St. Ignatius Loyola Semplak. Hadir juga Ketua Pemuda Katolik Bogor Vincent S Oktavianus, perwakilan sejumlah kelompok kategorial dan Wakil Sekjen Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA IPB) Heriyanto Soba.

Disebutkan, menghadapi radikalisme bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tugas semua orang yang tergabung di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk Gereja Katolik. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, umat Katolik berkomitmen untuk berupaya bersama pemerintah mencari solusi terbaik dalam menghadapi radikalisme.

Hamli menyebutkan BNPT mengajak seluruh elemen masyarakat dari semua agama di Indonesia untuk mencegah radikalisme. Hal itu dimulai dengan para tokoh-tokoh agama dan masyarakat karena bahaya politisasi agama dari kelompok radikalis dan teroris.

“Kelompok radikal dan terorisme tidak hanya menyerang gereja atau vihara. Mereka juga mengebom masjid, padahal mereka mengaku beragama Islam,” tegasnya.

Dikatakan, mereka menaburkan benih-benih radikalisme dan praktik intoleran tersebut untuk memperkeruh kehidupan masyarakat. “Jika Pancasila yang menjunjung keberagaman bisa digoyang, mereka akan lebih mudah bergerak. Oleh karena itu, pemahaman ideologi Pancasila harus diperkuat,” tegasnya.

Uskup Tri Harsono menjelaskan bahwa pembahasan radikalisme bukanlah membahas soal agama, tetapi yang utama adalah soal NKRI. Apalagi, semua agama mempunyai kecenderungan menjadi radikal. Untuk di Indonesia, semua warga harus mengutip pernyataan Presiden RI ke-1, Soekarno yang menegaskan tentang jati diri Indonesia. “Ingatlah pesan mendiang Presiden Soekarno, menjadi Katolik jangan menjadi Yahudi, jadi Islam jangan menjadi Arab, jadi Hindu jangan menjadi India, tapi jadilah Indonesia,” ujar uskup yang lama berkarya di Bogor ini.

Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor H Yaqut Cholil Quomas (Gus Yaqut). Foto: Aloisius Johnsis

Sementara itu, Yaqut Cholil Quomas menyampaikan harapannya agar umat Katolik bersama GP Ansor saling bahu-membahu mempertahankan NKRI. Dia berharap semua masyarakat katolik juga aktif dalam berbagai upaya untuk mencegah berbagai aksi yang mengarah ke radikalisme dan terorisme.

Heriyanto Soba yang mewakili HA IPB mengatakan pengawasan dan pembinaan kepada aktivitas generasi muda harus terus ditingkatkan oleh BNPT di daerah-daerah. Apalagi, kondisi Bogor secara umum sudah masuk dalam radar BNPT terkait dengan benih-benih radikalisme tersebut.

“Semoga BNPT semakin intensif untuk melakukan pemantauan guna mencegah generasi muda yang terpapar benih-benih radikalisme,” ujar mantan Ketua DPC PMKRI Cabang Bogor periode 1995-1996 ini.

(John)

Leave a Reply

Top