Anda di sini
Beranda > Artikel > Bunda Maria, Penggenapan Nubuat Nabi Yesaya

Bunda Maria, Penggenapan Nubuat Nabi Yesaya

“Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes 7:14)

Nubuat Yesaya ini mencapai penggenapannya pada zaman Herodes, raja Yudea (Luk. 1: 5), ketika Malaikat Gabriel melawat ke sebuah kota di Galilea bernama Nazareth dan menyampaikan salam kepada Maria, “Salam, hai engkau yang dikaruniai. Tuhan menyertai engkau…” (Luk. 1: 26-29). Kabar sukacita yang disampaikan pada Maria ini berujung pada pemberitaan kehamilannya akan Kristus. Inilah kabar sukacita yang sebenarnya, yang sedemikian indahnya disampaikan oleh Lukas.

Dengan demikian, Maria seorang perawan muda Nazareth, bukanlah sosok dewi yang turun dari khayangan yang hanya ada dalam mitos, khayalan atau imajinasi, melainkan dalam penggenapan nubuat nabi Yesaya yang memiliki peran penting dalam peristiwa inkarnasi. Sesungguhnya, peristiwa salib dan Kebangkitan Agung dimungkinkan terwujud dari satu peristiwa besar yang mendahuluinya: Inkarnasi. Satu peristiwa terbesar dalam sejarah umat manusia, dimana Alah hadir dalam rupa dan wujud manusia yang bisa disentuh, menjadi saksi Kebenaran, dan taat sampai wafat di kayu salib. (bdk. Yoh. 1: 14; Fil. 2: 6-8).

Maria menjadi sosok uang memiliki peran penting dalam sejarah keselamatan manusia. Semua ini bisa kita salami lewat peristiwa yang terjadi dua ribu tahun lalu di Betlehem. Penulis berusaha untuk sedikit banyak mengekplor apa yang terjadi di Betlehem. Mengintip sedikit misteri besar yang menjadi Bayi mungil yang kelak disebut sebagai Raja Damai, Penasihat Ajaib, dan Bapa yang Kekal.

Maria memang tidak banyak dituliskan dalam Kitab Suci, tapi memiliki peran luar biasa dalam sejarah keselamatan manusia. Dalam sukacita besar, segera Maria menemui Elisabet yang mengandung Yohanes Pembaptis hingga melonjaklah bayi Yohanes. Lengkaplah sukacita dua wanita desa yang memiliki peran penting dalam sejarah keselamatan. Maria segera melantunkan : “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,…” (Magnificat; Luk 1: 47). Ini adalah ungkapan syukur yang sangat dalam terhadap Yesus yang dikandungnya. Paus Yohanes Paulus II mengungkapkan satu penilaian sikap sempurna Maria dalam ensikliknya, Eclesia de Eucharistia,” … Tatkala Maria melambungkan Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku, dia telah mengandung Yesus dalam rahim. Dia memuliakan Tuhan lewat Yesus, dan ia memuji Tuhan dalam dan bersama Yesus. Inilah sebenarnya sikap Ekaristi sejati.”

Maria mensyukuri segala karya Allah atas dirinya yang luar biasa. Satu strategi penyelamatan umat manusia yang tidak terduga, dan itu terjadi melalui dirinya. Bukanlah ini merupakan satu peran aktif yang begitu penting, yang dipikul Maria?

Tubuh Maria menjadi tabernakel pertama yang membawa Bayi Yesus melewati perjalanan jauh dari Nazaret ke wilayah Yudea. Tentu satu pekerjaan berat yang dilakukan oleh perawan muda dengan penuh sukacita. Mampukah kita mencontoh Maria yang selalu merindukan Tuhan dalam hati dan jiwanya yang kemudian rela menderita bersama Sang Putera?

Dengan segala keterbatasan, saya mencoba untuk menyelami Misteri Inkarnasi yang terjadi di Betlehem dua ribu tahun lalu. Di sana saya menemukan mutiara-mutiara iman yang sangat berharga, yaitu kabar dari Malaikat dan respon kerendahhatian Maria. Siapakah yang akan mengandung bayi dan didatangi Malaikat Agung dari surga untuk menyampaikan satu kabar sukacita? Dan siapakah yang langsung menjawab “ya” atas perintah Allah tanpa takut resiko atau berusaha mengelak terlebih dulu? Yunus berusaha untuk menghindar dan Musa berusaha mengalihkan pada awalnya. Maria langsung mengatakan ok dengan segala kerendahhatian : “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan. Terjadilah…”.

Betlehem adalah sebuah drama besar yang patut diberikan perhatian oleh kita yang memahami pentingnya peristiwa Natal. Betlehem yang adalah sebuah desa kecil bukanlah yang terkecil. Ia bahkan lebih “luas” dari Yudea, New York, Tokyo, Seoul dan segala kota di dunia karena di desa terpencil, dalam gua yang berisikan kandang domba inilah Bayi Messias memilih untuk menyandarkan kepalaNya, dikelilingi oleh para malaikat dan orang-orang yang merindukanNya.

(Paulus Budiraharjo)

Leave a Reply

Top