Anda di sini
Beranda > Artikel > Bisakah Kita Menjadikan Maria sebagai Model Iman?

Bisakah Kita Menjadikan Maria sebagai Model Iman?

Maria tidak disapa namanya pertama kali oleh Malaikat Gabriel, tapi diberikan Salam itu. “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (Luk 1: 28) atau dalam bahasa Yunani : “Chaire kecharitomene ho Kyrios meta sou. “Salam yang dikatakan oleh Gabriel itu bukanlah Shalom (berarti salam damai sejahtera), melainkan satu undangan untuk bersuka cita, Rejoice, be glad, Bersukacitalah!

Apa sebenarnya arti malaikat Gabriel menyapa pertama kali dengan Chaire, Rejoice, atau Bersukacitalah! Kesukacitaan yang teramat sangat, yang selayaknya dirasakan Maria saat itu, tiada kata lain. Karena Tuhan menyertai dan akan tinggal dalam rahimnya, maka bersuka-citalah ia sedalam-dalamnya. Tak ada peristiwa lain yang ada di bumi yang membawa kesukaan demikian besar, selain yang dialami secara pribadi oleh Maria waktu menerima kabar sukacita. Demikian pula, tak ada kesedihan yang lebih mendalam dari pada yang dialami oleh Maria, ketika melihat Sang Putera didera dan wafat di salib!

Maria terkejut dan bertanya dalam hatinya apa arti salam itu. (Luk 1: 29) “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh Kasih Karunia di hadapan Allah.” Jose Christo Rey Garcia Paredes dalam tulisannya, “Mary and the Reign of God” mencoba menyejajarkan kasih karunia yang diperoleh oleh Maria dengan Nuh. Ketika itu Allah menyesal dengan perbuatan manusia yang diciptakanNya, kecuali pada Nuh. Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan . (Bdk. Kej. 6: 8).

Dan, Jose Christo juga melihat Musa mendapatkan hal itu “…. Namun demikian Engkau berfirman : Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapan-Ku…” (Kel. 33: 12-17). Juga, Abraham mendapat kasih karunia di depan Allah ketika ia menerima tiga malaikat yang berkunjung ke kemahnya. (Kej. 18: 2-3) Kita melihat betapa besar Allah memberikan Kasih Karunia pada Maria seperti yang diberikan pada Nuh, Abraham dan Musa. Apakah Maria punya peran sedemikian penting dalam sejarah penyelamatan umat manusia seperti yang telah dilakukan oleh para bapak bangsa Israel itu?

“Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaknya engkau menamai di Yesus…” (Luk. 1: 31-33) Maria tentu sangatlah terkejut dengan kabar itu karena ia bukannya tidak tahu dengan apa yang dituliskan Yesaya : “Sesungguhnya seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes. 7:14) Dalam tradisi, Maria yang pernah tinggal di kenisah sangatlah akrab dengan Kitab Suci itu mungkin bertanya-tanya dalam hati : “akukah perawan itu? Mengapa aku?” Atas Berita malaikat Gabriel itu Maria bertanya dengan penuh iman yang tidak mengabaikan pula Rosario, dan tanpa sedikit pun bermaksud meragukan pesan Allah : “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami? (Luk. 1: 34).

Sejenak kita bandingkan jawaban Maria yang menerima kabar sukacita dengan respon Zakharia yang menerima terlebih dahulu menerima kabar baik pula dari Gabriel: “Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya.” (luk 1: 18) Respon Maria yang berupa pertanyaan lebih mengarah pada satu medical reason, yang cukup rasional untuk ditanyakannya, dan bukanlah keragu-raguan akan isi pesan Allah. Sebaliknya, pertanyaan Zakharia mengandung keragu-raguan dirinya akan kemampuan perbuatan Allah atas dirinya yang berusia lanjut dan istrinya yang mandul. Tak jarang pula kita bersikap seperti Zakharia yang tidak memberi ruang bagi Allah untuk berkarya dalam diri kita.

Injil Lukas dengan sangat menarik mengkontraskan reaksi Maria dan Zakharia atas kabar sukacita. Kita telah melihat, bahwa reaksi di antara keduanya sangatlah berbeda, yang mencerminkan iman mereka akan Allah. Zakharia tak mengijinkan Allah untuk berbuat sesuatu yang nampaknya tidak mungkin dalam logika manusia. Mungkin seringkali kita beriman seperti yang dialami oleh Zakharia dalam menghadapi satu situasi yang nampaknya tidak ada penyelesaiannya. Kita tidak memberi kesempatan yang memadai bagi Allah untuk berkarya dalam diri kita, dalam usaha kita, dan dalam kehidupan keluarga kita. Tuhan nampaknya tak cukup mampu untuk mengubah ‘nasib’ kita, jalan hidup atau kondisi kita. Ini sangatlah bertolak belakang dengan Maria.

Jawaban yang diterima Maria kemudian sungguh menggembirakan: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Luk 1: 35) Berita malaikat Gabriel ini memiliki makna bahwa kandungan Maria adalah intervensi Roh Kudus sepenuhnya dan bukanlah oleh lelaki. Berita Gabriel ini menghapus segala spekulasi tentang kehamilan Maria. Inilah ‘perbuatan besar’ yang dilakukan Tuhan atas Maria seperti yang dipujikan dalam Magnificat. Sementara kita lihat, jawaban yang diterima Zakharia merupakan satu hukuman kebisuan sementara sampai Yohanes lahir, akibat dari keraguan imannya. (Luk. 1: 20)

“Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; kadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk. 1:38) Inilah jawaban final Maria yang menyatakan ‘ya’ atas semua Berita sukacita Gabriel. Mendengar ini Gabriel pergi meninggalkannya. Ungkapan iman Maria yang sederhana ini sekaligus menjadi orientasi seluruh hidupnya, menjadi hamba Tuhan. Maria lebih mempercayai perkataan malaikat Gabriel, bahwa tak ada yang mustahil di mata Allah. Maria bukan tidak mengerti akan resiko dia mengandung yang bukan dari calon suaminya sendiri, karena hukuman rajam akan menanti. Namun, Maria lebih percaya langkah Tuhan yang mengerjakan ‘perbuatan besar’ atas dirinya.

Fiat Maria ini bisa menjadi refleksi dalam diri kita, apakah kita akan langsung mengatakan ‘ya’ akan tugas yang diberikan oleh Tuhan? Sudahkan kita melakukan tugas perutusan, ketika kita mengatakan ‘amin’ pada setiap berkat di akhir misa: pergilah engkau diutus! Apakah kita juga seperti Maria yang percaya sepenuhnya pada penyelenggaraan Ilahi walau aral melintang ada di depan kita? Ataukah kita lebih sering seperti Zakharia yang agak ragu dengan apa yang menjadi kehendakNya?

Maria yang tenggelam dan larut dalam sukacita yang mendalam, segera bergegas mengemas diri dan berangkat dari Nazaret menuju Ein Karem, wilayah Yehuda. Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih empat sampai lima hari waktu itu, yang pada saat ini bisa ditempuh kurang lebih empat sampai lima jam saja dengan transportasi modern. Bayangkan, satu perjalanan yang jauh dan melelahkan yang telah ditempuh oleh perempuan muda Nazaret ini. Maria melakukan hal itu bukan semata untuk menolong kelahiran Yohanes yang dikandung oleh Elisabet yang mandul itu, melainkan ia bergegas ingin mewartakan Allah yang menjadi Bayi dalam kandungannya yang disebut sebagai Anak Allah Yang Maha Tinggi. (Luk. 1: 30).

Penantian bagi Maria tidak dilaluinya dengan pasif, melainkan dengan kepercayaan penuh berangkat dan percaya akan pemberitaan Gabriel bahwa Elisabet juga telah mengandung. Penantian Maria adalah sebuah penantian yang aktif dan penuh iman dan ketaatan akan kelahiran Sang Putera. Santo Iraneus, yang dikutip dalam Konstitusi Lumen Gentium mengatakan, “Ikatan ketidaktaatan Hawa terurai oleh ketaatan Maria, apa yang terikat oleh Hawa karena dia tidak taat, dilepaskan oleh Maria karena imannya.” Para Bapa Gereja menyebut Maria sebagai “ibu kehidupan” dan sering dikatakan pula “kematian melalui Hawa, kehidupan melalui Maria”.

Apakah kita bisa menjadikan Maria sebagai model iman kita : menjadi hamba Tuhan yang ‘bergegas’ mewartakan kabar sukacita? Tuhan telah melakukan ‘perbuatan besar ‘ atas dirinya. Atas diri kita pula, sebagai keturunan Abraham. Dalam kesukacitaan yang mendalam, Maria yang dipenuhi oleh Roh Kudus memberi salam kepada Elisabet dan ketika salam itu sampai, melonjaklah anak dalam kandungan Elisabet. Ia pun dipenuhi Roh Kudus dan segera menyerukan, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu…” Kini kita mengenang ucapan Elisabet yang otentik ini dalam doa Salam Maria. Ada gayung bersambut antara Maria yang bergegas ingin mewartakan Mesias yang dikandungnya dengan Elisabet yang ingin memuji Maria dan memuliakan Sang Bayi. “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Apa sebenarnya arti malaikat Gabriel menyapa pertama kali dengan Chaire, Rejoice, atau Bersukacitalah! Kesukacitaan yang teramat sangat, yang selayaknya dirasakan Maria saat itu, tiada kata lain. Karena Tuhan menyertai dan akan tinggal dalam rahimnya, maka bersuka-citalah ia sedalam-dalamnya. Tak ada peristiwa lain yang ada di bumi yang membawa kesukaan demikian besar, selain yang dialami secara pribadi oleh Maria waktu menerima kabar sukacita. Demikian pula, tak ada kesedihan yang lebih mendalam dari pada yang dialami oleh Maria, ketika melihat Sang Putera didera dan wafat di salib!

(*dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Top