Anda di sini
Beranda > Nusantara > Bima Arya: Benahi Karakter Birokrat

Bima Arya: Benahi Karakter Birokrat

Bila Indonesia akan segera memperoleh pemimpin baru dengan terpilihnya Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden, bagaimana dengan kondisi Kota Bogor yang sejak 7 April lalu dipimpin oleh Walikota Bima Arya Sugiarto?

Sejak dilantik menjadi Wali Kota Bogor, 7 April lalu, Bima Arya Sugiarto langsung terjun ke lapangan.  Berbagai gebrakan untuk menjadikan Bogor sebagai kota yang nyaman aman dan bermartabat sesuai janji perubahan yang diusungnya semasa kampanye dulu, terus ia geber.  Pria 42 tahun, kelahiran Bogor, 17 Desember ini sudah tak sabar ingin mengubah wajah Kota Bogor yang semrawut dan tak ramah menjadi kota yang tertib, teratur, dan terutama menjadi kota sejuta taman, seperti impiannya di masa kecil.

Ditemui usai memimpin Rapat Koordinasi Terbatas di Balaikota Bogor beberapa waktu lalu, Doktor Politik lulusan Universitas Canberra, Australia ini menyempatkan diri melakukan tanya jawab dengan wartawan Suara Pembaruan (SP), Ignatius Herjamjam.  Berikut petikan wawancaranya:

Tanya (T) : Apa program Anda dalam seratus hari ke depan untuk Kota Bogor?

Jawab (J) : Ada lima program prioritas yang menjadi target saya dalam seratus hari atau realistisnya selama setahun pertama saya bertugas.  Lima program itu adalah mengurai kemacetan Kota Bogor, menata pedagang kaki lima (PKL), menyelesaikan persoalan sampah dan kebersihan, membenahi taman kota, dan mereformasi birokrasi, baik karakter dan pelayanannya kepada publik.

T : Dari kelima program itu, mana yang lebih Anda prioritaskan?

J : Semua program itu harus berjalan beriringan, idealnya seperti itu.  Namun menurut saya yang paling penting adalah pembenahan karakter birokrat dan aparat di lingkup Pemkot Bogor.  Mereka harus memiliki karakter yang baik, tulus melayani dan bermartabat.  Karakter yang baik adalah langkah awal menuju perubahan di segala bidang, termasuk program yang saya usung.  Maka itu saya gencar menggaungkan pentingnya birokrat memiliki karaker yang baik.

T : Untuk pembenahan karakter, apakah sudah ada langkah konkret?

J : Baru-baru ini saya mencopot jabatan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor karena dua anggota Satpol PP terbukti terlibat narkoba.  Saya geram melihat hal ini.  Harusnya mereka menjadi contoh bagi masyarakat, bukan sebaliknya.  Jadi saya tidak akan main-main untuk membenahi karakter birokrat di Kota Bogor.

T : Untuk masalah PKL, apa yang akan Anda lakukan?

J : Masalah PKL dan kesemrawutan lalu lintas di Bogor merupakan buah dari ketidakmampuan Walikota sebelumnya, Diani Budiarto dalam menggulirkan program pembenahan.  Selain itu yang membuat Kota Bogor tak nyaman adalah karena pembiaran.  Ketidakmampuan itu bergantung kapasitas kepemimpinan, sedangkan pembiaran merupakan kesengajaan.  Dua hal itu adalah akar masalah.  Satu per satu akan saya treatment.  Kita retas satu per satu permasalahan itu.  Untuk PKL saya mendapat laporan kalau mereka harus menyetor sejumlah uang empat kali dalam sehari supaya mereka bisa mangkal berjualan.  Ini tidak bisa dibiarkan  Saya akan menerapkan strategi revitalisasi, relokasi, disribusi, reposisi, dan terakhir represif.

T : Bisa dijelaskan secara konkret?

J : Ya, untuk memulainya saya telah berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kantor Koperasi dan UMKM serta PD Pasar Pakuan Jaya untuk membantu revitalisasi dan relokasi.  Secara persuasif saya akan minta pada para PKL untuk bersedia direlokasi.  Yang berjalan selama ini kan terbalik, represif dulu baru revitalisasi atau relokasi.

T : Untuk masalah lalu lintas, apa program konkret yang akan Anda buat?

J : Begini, setiap hari saya mendapat keluhan dari warga mengenai masalah kemacetan lalu lintas.  Saya akan mengkaji kembali masalah angkutan kota yang membludak.  Kajian terhadap angkutan kota ini hanya salah satu strategi mengurai kemacetan.  Ada wacana menerapkan mobil listrik yang ramah lingkungan.  Saya jamin mobil listrik tidak akan membunuh mata pencaharian sopir-sopir angkot yang ada.  Akan dicari solusi supaya mereka bisa dipekerjakan di sana, misalnya memodifikasi angkutan kota menjadi mobil listrik.  Selain itu juga masalah jalan rusak di sejumlah titik yang menimbulkan kemacetan.  Saya mendesak Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) untuk segera memperbaiki jalan tersebut dengan kualitas yang baik, dan tidak boleh asal-asalan.  Begitu pula dengan jalan nasional atau propinsi, saya sudah menyurati instansi terkait agar segera memperbaiki jalan tersebut.  Intinya perbaikan itu toh untuk kepentingan dan kebutuhan kita juga.

T : Untuk masalah kebersihan dan sampah, bagaimana cara Anda mengurainya?

J : Sampah memang merupakan salah satu persoalan di Kota Bogor, karena hingga detik ini Kota Bogor tidak punya tempat pembuangan akhir (TPA).  TPA Kayumanis yang lahannya telah dibebaskan oleh Pemkot Bogor zaman Wali Kota sebelum saya, ternyata ditolak oleh warga karena dinilai terlalu dekat dengan pemukiman mereka.  Hal ini harus dibenahi dari pangkalnya, sambil kita mencari solusi terbaik atau mencari lahan yang tepat untuk dijadikan TPA.  Selain itu saya juga harus mengubah kultur warga, seperti membuang sampah di tempat sampah, menjaga lingkungan dan merawatnya.  Saya harus menyiapkan armada yang berkecukupan, apakah itu motor sampah dan gerobak.  Jika APBD tidak mencukupi, saya mencari CSR untuk mendanai itu.

T : Terkait taman kota, mengapa Anda memiliki impian supaya Bogor menjadi Kota Sejuta Taman?

J : Saya lahir dan besar di Kota Bogor.  Saya selalu ingat akan lagu yang menggambarkan Bogor kota indah sejuk nyaman bagai bunga di dalam taman.  Bogor kota sejuta taman ini akan menjadikan identitas Bogor ke depan.  Buka hanya soal keindahan, keberadaan taman diharapkan bisa untuk membangun karakter.  Taman juga memiliki banyak fungsi seperti fungsi sosial, ekonomi, penghijauan dan ekosistem.

T : Untuk mewujudkan sudah ada langkah konkret?

J : Target saya minimal tiga bulan pertama ada enam taman kota yang bisa dinikmati warga.  Saya sudah meminta data terkait lahan-lahan yang bisa dikonversi.  Yang tadinya lahan tidak produktif bisa diubah menjadi taman.  Taman yang sudah ada akan ditata ulang.

(Jam)

Leave a Reply

Top