Anda di sini
Beranda > Pastoral > APP 2015, Gerakan Tobat Bersama

APP 2015, Gerakan Tobat Bersama

[KATEDRAL] Seksi  Pengembangan Sosial Ekonomi  (PSE) Paroki Katedral menggelar acara sosialisasi mengenai  Aksi Puasa Pembangunan 2015 di Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Bogor pada Minggu, 15 Februari.

Acara yang bertujuan untuk memberikan pembekalan kepada para pemandu APP lingkungan dan penyampaian beberapa program kerja PSE tentang dana sehat dan amplop APP, dihadiri oleh para pengurus wilayah, lingkungan dan para pemandu renungan lingkungan.

Seksi Kitab Suci Paroki yang didapuk sebagai pemapar dan narasumber renungan mengemas  materi dengan dibagi  menjadi 5 bagian penting. Bagian tersebut adalah penyampaian kerangka dasar, renungan pertama, kedua, ketiga dan keempat.  Sebagai pengantar pembekalan, RD Dominikus Savio Tukiyo, Pastor  Paroki Katedral menyoroti tentang tema APP 2015 yang bertajuk “ Keluarga Sumber Sukacita”.

Dengan tema tersebut, romo mengajak umat untuk mencermati tentang ada persoalan apa, krisis apa, yang seperti apa, tentang keluarga masa kini. Romo mengatakan, sejak semula bumi diciptakan, Allah berkendak agar pria dan wanita menjadi satu daging yang terbentuk melalui suami istri.

Diharapkan pula setiap keluarga betul-betul mengolah dan melaksanakan sabda bahagia seperti halnya di dalam renungan APP 2015 ini. Pesan utama aksi tesebut yaitu gerakan tobat bersama yang menghasilkan pemahaman dan berdampak kepada perubahan dan aksi nyata dalam kehidupan sehari hari.

Prapaskah adalah anugerah untuk mempersiapkan peristiwa paskah yaitu sengsara, wafat dan kebangkitan, pernyataan itu disampaikan oleh Bapak Darmawan, penyampai kerangka dasar APP. Merujuk dari peristiwa perkawinan yang seharusnya merupakan sumber sukacita, namun pada zaman ini keluarga mengalami banyak sekali tantangan. Tantangan tersebut di antaranya kurangnya keakraban antaranggota keluarga, gangguan akibat alat komunikasi, gadget dan sebagainya. Menurut Darmawan, pola hidup suami istri sama dengan pola hidup antara Kristus dan Gereja-Nya, namun karena adanya gangguan-gangguan, kebersatuan itu tidak lagi tercipta bagi seluruh pasangan suami istri dan keluarganya.

Bapak Dominikus Sony menyampaikan tujuan dari pertemuan pertama adalah agar umat Katolik melihat kondisi keluarga, mempertahankan hal baik dan mengatasi tantangan yang ada. Tidak dapat dipungkiri jika krisis  iman, moral, pemahaman mengenai dosa dan sakramen tobat, kesetiaan, keteladanan, kasih sayang telah menjangkiti banyak keluarga Katolik. Secara singkat dijelaskan, hanya kehadiran Yesus Kristus dalam keluarga yang dapat merubah krisis-krisis yang ada menjadi sukacita karena Kristus adalah sumber utama kegembiraan.

Mewujudkan keluarga menjadi komunitas hidup dan cinta dengan saling mencintai, melayani, toleransi dan rela berkorban seperti Yesus terhadap GerejaNya adalah tujuan dari pertemuan kedua yang disampaikan oleh Bapak Suwandy Candra. Keluarga dilihat sebagai lahan subur sebagai tempat perkembangan kepribadian anak-anak hingga dewasa dan mandiri, sebagai pusat ketekese sakramental, tempat sosialisasi iman, bertumbuhnya rasa saling menghormati, mengasihi, menolong, berkorban dan sebagainya. Keluarga merupakan gereja mini sebagai tempat terbentuknya relasi dalam iman, Roh dan kebenaran dengan Kristus dan sesama.

Menjadi orangtua seharusnya merupakan kebanggaan karena diikat dalam perjanjian nikah yang merupakan amanat ilahi. Pak Harwanto mengatakan, jika manusia diberi pilihan dan telah memilih untuk menikah sebagai penyaluran berkat dan rahmat Allah, dimana Allah sendiri menjadi saksi utama dalam peneguhan janji perkawinan. Panggilan hidup berkeluarga merupakan pintu masuk utama tumbuh dan berkembangnya gereja semesta, karena  orangtua adalah wakil Allah selaku kepala gereja rumahtangga.

Setiap keluarga diharapkan memiliki spirit keluarga kristiani yaitu Yesus Kristus sendiri. Maka diharapkan setiap keluarga memiliki semangat juang yang tinggi agar meletakkan dasar gereja rumah tangga yang kuat untuk pertumbuhan dan perkembangan gereja semesta. Keluarga diharapkan tidak hanya bicara kepada Tuhan tetapi diharapkan untuk mau mendengarkan suara Tuhan sehingga terjadi komunikasi. Suara Tuhan dapat didengarkan melalui sabda-sabda-Nya dalam Kitab Suci. Maka, sangat penting setiap keluarga menyediakan diri dan waktu untuk membaca dan merenungkan suara Tuhan tersebut.

Di akhir sesi, Pak Budi dan Bu Yani selaku tim PSE mensosialisasi beberapa informasi yang berkaitan dengan kiprah PSE di tengah umat sebagai perpanjangan tangan Gereja kepada masyarakat.

(YC)

Leave a Reply

Top